Share

Home Stories

Stories 11 Desember 2024

Maroko Mampu Memproduksi Alat Tes Mpox (Cacar Monyet) Pertama di Afrika

Belajar dari pandemi Covid-19, negara-negara di Afrika, salah satunya Maroko mencoba untuk tidak terlalu bergantung pada pasokan medis impor

Test darah Mpox/stirileprotv.ro

Context.id, JAKARTA - Perusahaan rintisan bidang farmasi asal Maroko, Moldiag, mulai mengembangkan uji Mpox alias cacar monyet setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus tersebut sebagai keadaan darurat global pada bulan Agustus kemarin. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika telah melaporkan lebih dari 59.000 kasus mpox dan 1.164 kematian di 20 negara tahun ini.

Moldiag didirikan oleh Foundation for Advanced Science, Innovation and Research Maroko, sebuah lembaga nonprofit yang berafiliasi dengan universitas dan menerima dana dari Komisi Eropa dan pemerintah Maroko. 

Startup ini sebelumnya mengembangkan tes genetik serupa untuk Covid-19 dan tuberkulosis.

Moldiag memperoleh persetujuan untuk mendistribusikan tes mpox dari CDC Afrika pada bulan November. 



Namun, perusahaan itu belum mengajukan dokumen untuk dipertimbangkan mendapatkan persetujuan dipercepat dari WHO, yang selama wabah ini telah menyetujui tiga tes mpox dan sedang mempertimbangkan lima tes lainnya. 

Semua tes tersebut diproduksi di Amerika Utara, Eropa, atau Asia.

WHO juga telah mengumumkan rencana untuk menyediakan tes, vaksin dan perawatan mpox kepada orang-orang yang paling rentan di negara-negara termiskin di dunia, setelah menghadapi kritik karena bergerak terlalu lambat dalam pemberian vaksin. 

WHO merekomendasikan agar semua kasus yang diduga mpox diuji.

Namun, di beberapa daerah terpencil tempat wabah mpox terjadi, tes harus dikirim ke laboratorium yang jauh untuk diproses. 

Seperti yang terjadi di Kongo misalnya. Di negara itu sebagian besar dari 26 provinsi tidak memiliki fasilitas seperti itu dan beberapa daerah tidak memiliki tes sehingga dokter masih mendiagnosis pasien dengan mengukur suhu dan mencari gejala yang terlihat.

Mpox terutama menyebar melalui kontak langsung kulit ke kulit dengan orang yang terinfeksi atau pakaian atau seprai mereka yang terkontaminasi. 

Penyakit ini sering menyebabkan lesi kulit yang terlihat. Pengujian mpox sangat penting karena banyak gejalanya mirip dengan penyakit seperti cacar air atau campak.

Ketika kasus mpox ditemukan di beberapa negara Barat seperti Amerika Serikat pada tahun 2022, beberapa perusahaan mulai mengembangkan alat tes cepat yang tidak memerlukan pemrosesan laboratorium. 

Namun, mereka menghentikan upaya tersebut ketika virus sebagian besar berhasil dikendalikan.

Kemudian, wabah kembali muncul di Afrika. Para ilmuwan khawatir dengan penyebaran varian baru penyakit ini yang mungkin lebih mudah menular antar manusia. 

Maroko sendiri telah melaporkan tiga kasus mpox, meskipun sebagian besar kasus terjadi di Afrika tengah.

Melansir AP News, pendiri dan kepala ilmiah Moldiag, Abdeladim Moumen, mengatakan tes yang mereka buat dijual seharga US$5 per unit dan dapat membantu mengatasi kekurangan dengan biaya terjangkau.

Perusahaan tersebut bulan lalu mulai menerima pesanan dari Burundi, Uganda, dan Kongo, serta telah menjual tes tersebut ke Senegal dan Nigeria. 

“Lebih mudah mengirimkan tes dari satu negara Afrika ke negara lain daripada menunggu tes datang dari China atau Eropa,” kata Moumen.

Pelaksana tugas direktur laboratorium dan sistem diagnostik CDC Afrika, Yenew Tebeje, mengatakan organisasi tersebut menciptakan proses untuk mempercepat persetujuan tes seperti yang dikembangkan oleh Moldiag karena proses persetujuan WHO bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. 

Secara historis, lembaga internasional tidak selalu memastikan pasokan medis seperti tes tersedia dengan cepat untuk krisis di Afrika, tambah Tebeje.

Hanya tes mpox yang memerlukan pemrosesan laboratorium yang telah disetujui oleh WHO dan CDC Afrika, yang telah menyatakan perlunya tes cepat yang tidak memerlukan pengiriman ke laboratorium.

Harga US$5 yang ditetapkan Moldiag untuk tes saat ini sejalan dengan rekomendasi dari standar produk target WHO dan tuntutan para pendukung kesehatan yang mengkritik biaya tes lainnya. 

Bulan lalu, lembaga nirlaba Public Citizen meminta Cepheid salah satu dari tiga produsen tes mpox yang disetujui WHO untuk menurunkan harganya dari sekitar US$20 menjadi US$5. 



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Stories 11 Desember 2024

Maroko Mampu Memproduksi Alat Tes Mpox (Cacar Monyet) Pertama di Afrika

Belajar dari pandemi Covid-19, negara-negara di Afrika, salah satunya Maroko mencoba untuk tidak terlalu bergantung pada pasokan medis impor

Test darah Mpox/stirileprotv.ro

Context.id, JAKARTA - Perusahaan rintisan bidang farmasi asal Maroko, Moldiag, mulai mengembangkan uji Mpox alias cacar monyet setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus tersebut sebagai keadaan darurat global pada bulan Agustus kemarin. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika telah melaporkan lebih dari 59.000 kasus mpox dan 1.164 kematian di 20 negara tahun ini.

Moldiag didirikan oleh Foundation for Advanced Science, Innovation and Research Maroko, sebuah lembaga nonprofit yang berafiliasi dengan universitas dan menerima dana dari Komisi Eropa dan pemerintah Maroko. 

Startup ini sebelumnya mengembangkan tes genetik serupa untuk Covid-19 dan tuberkulosis.

Moldiag memperoleh persetujuan untuk mendistribusikan tes mpox dari CDC Afrika pada bulan November. 



Namun, perusahaan itu belum mengajukan dokumen untuk dipertimbangkan mendapatkan persetujuan dipercepat dari WHO, yang selama wabah ini telah menyetujui tiga tes mpox dan sedang mempertimbangkan lima tes lainnya. 

Semua tes tersebut diproduksi di Amerika Utara, Eropa, atau Asia.

WHO juga telah mengumumkan rencana untuk menyediakan tes, vaksin dan perawatan mpox kepada orang-orang yang paling rentan di negara-negara termiskin di dunia, setelah menghadapi kritik karena bergerak terlalu lambat dalam pemberian vaksin. 

WHO merekomendasikan agar semua kasus yang diduga mpox diuji.

Namun, di beberapa daerah terpencil tempat wabah mpox terjadi, tes harus dikirim ke laboratorium yang jauh untuk diproses. 

Seperti yang terjadi di Kongo misalnya. Di negara itu sebagian besar dari 26 provinsi tidak memiliki fasilitas seperti itu dan beberapa daerah tidak memiliki tes sehingga dokter masih mendiagnosis pasien dengan mengukur suhu dan mencari gejala yang terlihat.

Mpox terutama menyebar melalui kontak langsung kulit ke kulit dengan orang yang terinfeksi atau pakaian atau seprai mereka yang terkontaminasi. 

Penyakit ini sering menyebabkan lesi kulit yang terlihat. Pengujian mpox sangat penting karena banyak gejalanya mirip dengan penyakit seperti cacar air atau campak.

Ketika kasus mpox ditemukan di beberapa negara Barat seperti Amerika Serikat pada tahun 2022, beberapa perusahaan mulai mengembangkan alat tes cepat yang tidak memerlukan pemrosesan laboratorium. 

Namun, mereka menghentikan upaya tersebut ketika virus sebagian besar berhasil dikendalikan.

Kemudian, wabah kembali muncul di Afrika. Para ilmuwan khawatir dengan penyebaran varian baru penyakit ini yang mungkin lebih mudah menular antar manusia. 

Maroko sendiri telah melaporkan tiga kasus mpox, meskipun sebagian besar kasus terjadi di Afrika tengah.

Melansir AP News, pendiri dan kepala ilmiah Moldiag, Abdeladim Moumen, mengatakan tes yang mereka buat dijual seharga US$5 per unit dan dapat membantu mengatasi kekurangan dengan biaya terjangkau.

Perusahaan tersebut bulan lalu mulai menerima pesanan dari Burundi, Uganda, dan Kongo, serta telah menjual tes tersebut ke Senegal dan Nigeria. 

“Lebih mudah mengirimkan tes dari satu negara Afrika ke negara lain daripada menunggu tes datang dari China atau Eropa,” kata Moumen.

Pelaksana tugas direktur laboratorium dan sistem diagnostik CDC Afrika, Yenew Tebeje, mengatakan organisasi tersebut menciptakan proses untuk mempercepat persetujuan tes seperti yang dikembangkan oleh Moldiag karena proses persetujuan WHO bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. 

Secara historis, lembaga internasional tidak selalu memastikan pasokan medis seperti tes tersedia dengan cepat untuk krisis di Afrika, tambah Tebeje.

Hanya tes mpox yang memerlukan pemrosesan laboratorium yang telah disetujui oleh WHO dan CDC Afrika, yang telah menyatakan perlunya tes cepat yang tidak memerlukan pengiriman ke laboratorium.

Harga US$5 yang ditetapkan Moldiag untuk tes saat ini sejalan dengan rekomendasi dari standar produk target WHO dan tuntutan para pendukung kesehatan yang mengkritik biaya tes lainnya. 

Bulan lalu, lembaga nirlaba Public Citizen meminta Cepheid salah satu dari tiga produsen tes mpox yang disetujui WHO untuk menurunkan harganya dari sekitar US$20 menjadi US$5. 



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bukan Cuma Kafe, di Blok M Juga Ada Koperasi Kelurahan Merah Putih

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai di Blok M Hub, Jakarta Selatan merupakan Koperasi Merah Putih tingkat kelurahan pertama di Indonesia

Renita Sukma . 26 August 2025

TikTok Rilis Fitur Kampus, Mirip Facebook Versi Awal

Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan enam dari sepuluh remaja di AS mengaku rutin menggunakan TikTok dan fitur ini bisa menggaet lebih ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Bubur Ayam Indonesia Dinobatkan sebagai Bubur Terenak di Dunia!

TasteAtlas menempatkan bubur ayam Indonesia sebagai bubur terenak dunia mengungguli Arroz Caldo dari Filipina serta Chè ba màu, bubur khas Vietn ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Menang di WTO, Mendag Dorong Uni Eropa Cabut Bea Imbalan Biodiesel

Pemerintah Indonesia mendesak Uni Eropa agar segera menghapus bea masuk imbalan atas impor produk biodiesel RI setelah terbitnya keputusan WTO

Renita Sukma . 25 August 2025