Share

Home Stories

Stories 27 Mei 2024

Setengah Hutan Bakau Dunia Rusak Parah

Kehilangan ekosistem bakau sama saja dengan kehilangan entitas penyerap karbon terbesar di dunia

Ekosistem Bakau/Mangrove Jakarta

Context.id, JAKARTA - Peneliti Badan Internasiona untuk Konservasi Alam (IUCN) mendapati setengah hutan bakau dunia mengalami kerusakan parah akibat ulah manusia.

Melansir The Guardian, badan ekosistem dunia menyatakan perilaku manusia menyebabkan penurunan jumlah hutan bakau di dunia terutama di daerah selatan India  Sri Lanka, dan Maladewa. Tiga negara ini yang paling rusak hutan bakaunya. 

Parahnya lagi, ekosistem hutan bakau di Laut Cina Selatan, Pasifik tengah, Malaysia, Papua Nugini, dan Filipina juga diklasifikasikan IUCN terancam punah.

“Ekosistem bakau sangat luar biasa untuk menyediakan layanan kepada manusia, termasuk pengurangan risiko bencana pesisir, penyerapan karbon, dan dukungan perikanan,” kata Ketua IUCN Angela Andrade, seperti dikutip Senin (27/5).

Berdasarkan hasil penelitian IUCN sebanyak 15% garis pantai dunia yang tertutupi oleh ekosistem hutan bakau belakangan ini terancam oleh aktivitas manusia di sepanjang garis pantai.



“Mereka semakin terancam oleh kenaikan permukaan laut, pertanian, pengembangbiakan di daerah garis pantai, polusi seperti tumpahan minyak dan pembangunan bendungan” jelas Andrade.

Pembangunan bendungan, peternakan udang dan lain sebagainya di garis pantai itu dapat memicu sedimentasi sehingga menimbulkan kerugian ekologi dan ekosistem bagi kehidupan pohon bakau.

Ancaman kenaikan permukaan laut aibat krisis iklim juga mengancam kelangsungan hidup bakau karena dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana yang sudah terjadi sebelumnya.

Andrade menekankan jika bumi kehilangan ekosistem bakau akan terjadi bencana bagi alam dan orang-orang di seluruh dunia, terutama penduduk yang berada di negara kepulauan. 

Dalam ekosistem hutan bakau, sambung Andrade, terdapat lusinan spesies pohon dan semak di sepanjang garis pantai tropis yang berfungsi untuk melindungi beragam keanekaragaman hayati di dalamnya. 

Terlebih lagi pohon bakau juga berfungsi sebagai tempat pembibitan alami untuk ikan dan mendukung kehidupan mamalia yang beragam seperti harimau, anjing liar Afrika, dan sloth.

Tak hanya itu, Andrade juga mengatakan kehilangan ekosistem bakau sama saja dengan kehilangan entitas penyerap karbon terbesar di dunia. Ekosistem bakau ini menarik hampir 3x lipat karbon yang tersimpan di wilayah hutan tropis dengan ukuran yang sama.

Karena berdasarkan penelitian bahwa saat ini terdapat 1,8 miliar ton karbon atau 17% total karbon disimpan di ekosistem hutan bakau dan bernilai $13 miliar di pasar karbon sukarela.

Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar mengatakan ekosistem bakau memberikan perlindungan habitat yang penting bagi jutaan makhluk hidup rentan di seluruh dunia. 

"Hasil temuan ini akan membantu kami untuk ikut memulihkan hutan bakau yang hilang dan melindungi yang masih kami miliki,” kata Grethel Aguilar.

Penulis: Candra Soemirat



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Home Stories

Stories 27 Mei 2024

Setengah Hutan Bakau Dunia Rusak Parah

Kehilangan ekosistem bakau sama saja dengan kehilangan entitas penyerap karbon terbesar di dunia

Ekosistem Bakau/Mangrove Jakarta

Context.id, JAKARTA - Peneliti Badan Internasiona untuk Konservasi Alam (IUCN) mendapati setengah hutan bakau dunia mengalami kerusakan parah akibat ulah manusia.

Melansir The Guardian, badan ekosistem dunia menyatakan perilaku manusia menyebabkan penurunan jumlah hutan bakau di dunia terutama di daerah selatan India  Sri Lanka, dan Maladewa. Tiga negara ini yang paling rusak hutan bakaunya. 

Parahnya lagi, ekosistem hutan bakau di Laut Cina Selatan, Pasifik tengah, Malaysia, Papua Nugini, dan Filipina juga diklasifikasikan IUCN terancam punah.

“Ekosistem bakau sangat luar biasa untuk menyediakan layanan kepada manusia, termasuk pengurangan risiko bencana pesisir, penyerapan karbon, dan dukungan perikanan,” kata Ketua IUCN Angela Andrade, seperti dikutip Senin (27/5).

Berdasarkan hasil penelitian IUCN sebanyak 15% garis pantai dunia yang tertutupi oleh ekosistem hutan bakau belakangan ini terancam oleh aktivitas manusia di sepanjang garis pantai.



“Mereka semakin terancam oleh kenaikan permukaan laut, pertanian, pengembangbiakan di daerah garis pantai, polusi seperti tumpahan minyak dan pembangunan bendungan” jelas Andrade.

Pembangunan bendungan, peternakan udang dan lain sebagainya di garis pantai itu dapat memicu sedimentasi sehingga menimbulkan kerugian ekologi dan ekosistem bagi kehidupan pohon bakau.

Ancaman kenaikan permukaan laut aibat krisis iklim juga mengancam kelangsungan hidup bakau karena dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana yang sudah terjadi sebelumnya.

Andrade menekankan jika bumi kehilangan ekosistem bakau akan terjadi bencana bagi alam dan orang-orang di seluruh dunia, terutama penduduk yang berada di negara kepulauan. 

Dalam ekosistem hutan bakau, sambung Andrade, terdapat lusinan spesies pohon dan semak di sepanjang garis pantai tropis yang berfungsi untuk melindungi beragam keanekaragaman hayati di dalamnya. 

Terlebih lagi pohon bakau juga berfungsi sebagai tempat pembibitan alami untuk ikan dan mendukung kehidupan mamalia yang beragam seperti harimau, anjing liar Afrika, dan sloth.

Tak hanya itu, Andrade juga mengatakan kehilangan ekosistem bakau sama saja dengan kehilangan entitas penyerap karbon terbesar di dunia. Ekosistem bakau ini menarik hampir 3x lipat karbon yang tersimpan di wilayah hutan tropis dengan ukuran yang sama.

Karena berdasarkan penelitian bahwa saat ini terdapat 1,8 miliar ton karbon atau 17% total karbon disimpan di ekosistem hutan bakau dan bernilai $13 miliar di pasar karbon sukarela.

Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar mengatakan ekosistem bakau memberikan perlindungan habitat yang penting bagi jutaan makhluk hidup rentan di seluruh dunia. 

"Hasil temuan ini akan membantu kami untuk ikut memulihkan hutan bakau yang hilang dan melindungi yang masih kami miliki,” kata Grethel Aguilar.

Penulis: Candra Soemirat



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bank Digital Bantu Gen Z Menabung atau Justru Makin Boros?

Bank digital mempermudah transaksi, tapi tanpa disiplin finansial, kemudahan itu bisa jadi jebakan konsumtif.

Renita Sukma . 30 March 2025

Darah Buatan: Berapa Lama Lagi Terwujud?

Di lab canggih dari Inggris hingga Jepang, para ilmuwan berupaya menciptakan yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah darah buatan. r n

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Negara Penghasil Kurma Terbesar di Dunia dan Kontroversi di Baliknya

Kurma tumbuh subur di wilayah beriklim panas dengan musim kering yang panjang sehingga banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika Utara

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Push-up Ternyata Bisa Mempengaruhi Hidup Pegiatnya

Push-up lebih dari sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membangun disiplin dan kepercayaan diri

Noviarizal Fernandez . 24 March 2025