Stories - 17 May 2024

Cerita Petani Kopi Binaan Starbucks, Kualitas Makin Baik Untung Kian Tebal

Starbucks FSC berkomitmen membantu para petani lokal dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam


Manager Coffee & Partner Engagement, PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks), Mirza Luqman Effendy bersama petani kopi perempuan/Ririn-Context

Context.id, JAKARTA - Indonesia menjadi negara penting bagi Starbucks, perusahaan kedai kopi dan roastery dunia. Tidak hanya menjadikan negara ini pasar yang empuk, Starbucks juga memenuhi kebutuhan kopinya dari perkebunan Indonesia. 

Berdasarkan data Starbucks 2021, setidaknya 40% biji kopi mereka disuplai dari petani kopi Indonesia dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Jawa Barat, Bali, Sulawesi, Jawa Timur hingga Flores.  

Mengingat pentingnya Indonesia, PT Sari Coffee Indonesia yang memegang lisensi Starbucks memiliki tanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan pasokan kopi dengan menggandeng para petani lokal. 

Pemberdayaan petani kopi lokal ini dinaungi program yang dinamai Starbucks Farmer Support Center (FSC). Starbucks FSC berkomitmen membantu para petani lokal dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam. 

Manager Coffee & Partner Engagement PT Sari Coffee Indonesia, Mirza Luqman Effendy, menyatakan program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada petani, tetapi juga melakukan riset terbaru mengenai varietas dan perkembangan penanaman kopi, memantau produktivitas kopi, hingga menjaga agar regenerasi petani kopi tetap berlanjut. 

“Kita punya tim agronomis. Kita punya manajemen untuk bisa membuat para petani bisa meningkatkan kualitasnya, volume produksinya sehingga bisa mendapat income yang lebih banyak,” ujar Mirza Luqman, Kamis (17/5) di Ciwidey, Kabupaten Bandung.   

Mirza menambahkan dengan kualitas kopi yang unggul maka dapat sejalan dengan peningkatan kualitas keluarga petani baik misalnya dari sisi kesehatan hingga pendidikan buat anak-anaknya. 

Dana, salah satu petani kopi di Ciwidey yang mengikuti program Farmer Support Center menceritakan semakin memahami cara menanam kopi yang baik untuk dapat menghasilkan kopi yang berkualitas. 

Melalui program ini pula, Dana merasakan dampak kehidupan yang baik karena omset dari penjualan biji kopi lebih meningkat. 

“Sebelum ikut FSC kami tanam kopi asal-asalan aja, maksudnya tidak terencana. Sekarang sudah dikasih tahu cara tanam yang baik, cara beri pupuknya juga bagaimana dapat bibit yang bagus,” ungkap Dana. 

Pemberdayaan Perempuan 
Tak hanya memastikan petani dapat menghasilkan biji kopi berkualitas, Starbucks Indonesia juga menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan dan istri petani kopi. 

Starbucks menggandeng Mercy Corps Indonesia (MCI), melaksanakan program Bentani atau  “Brewing Change: Women’s Empowerment in Coffee Origin Communities in Indonesia.”

Melalui Bentani, istri-istri petani diharapkan mendapatkan literasi keuangan, pengembangan bisnis dan peningkatan kualitas kesehatan.
 
Intan seorang peserta dari Cimaung daerah penghasil kopi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengatakan termotivasi mengembangkan bisnis tanpa meninggalkan pertanian kopi setelah mengikuti Bentani. 

Melalui program tersebut, Intan mendapatkan pelatihan bisnis online dan pemasaran digital. Rencananya Intan bukan hanya menjual kopi tapi juga produk turunan kopi seperti teh dari kulit kopi sehingga menghasilkan pendapatan tambahan. 

“Saya mendapatkan ilmu banyak. Dari awalnya mengelola keuangan hasil jualan itu acak-acakan karena tidak ada catatan modal dan untungnya, sekarang Alhamdulillah sekarang sudah bisa mengelolanya,” jelas Intan.

Fitrah, wirausaha yang menggeluti bisnis donat ubi yang diberi nama “Fit Ah”, juga merasa semakin kaya wawasan setelah mendapat pembekalan packaging produk, branding, pemberian label usaha, serta perhitungan modal yang benar untuk mendapat untung dari program Bentani. 

Produk donat ubi Fitrah pun kian mendapat respon positif dari penjualan di sosial media. “Kita dibantu untuk membuat brandnya lebih menarik. Dibikinin labelnya dari hasil pelatihan juga terus dari kemasan- kemasan kita didukung oleh fasilitator pembinaan,” pungkas Fitrah.


Penulis : Ririn oktaviani

Editor   : Wahyu Arifin

MORE  STORIES

Apartheid Gender Versi Taliban, Masuk Kategori Kejahatan Kemanusiaan?

Taliban melarang para gadis remaja bersekolah, para pegawai perempuan dilarang untuk bekerja dan para wanita dipaksa menikah dengan pria tua

Context.id | 21-06-2024

Mobil Listrik Ferrari Dilego Rp8,8 Miliar

Model EV kedua besutan Ferrari akan segera menyusul untuk diluncurkan

Noviarizal Fernandez | 21-06-2024

Dijadikan Guyonan Imbas Izin Tambang, Ini Sejarah Terbentuknya Lambang NU

Logo NU merupakan hasil buah tangan dari K.H. Ridwan Abdullah ulama yang juga memiliki kemampuan dalam bidang seni, terutama menggambar dan melukis

Context.id | 21-06-2024

Pengaruh Keju Bagi Kesehatan Mental

Responden yang memiliki kesehatan mental dan ketahanan terhadap stres kuat diduga banyak mengonsumsi keju

Context.id | 20-06-2024