Stories - 28 December 2022

Bukan Kopi Luwak, Ini Kopi Termahal di Dunia

Tidak semua kopi memiliki harga yang terjangkau, dan beberapa di antaranya memiliki harga yang sangat mahal.


Kopi Black Ivory. -Bangkok Post-

Context, JAKARTA - Kopi adalah adalah salah satu minuman yang menjadi favorit banyak orang. Meskipun begitu, tidak semua kopi memiliki harga yang terjangkau, dan beberapa di antaranya memiliki harga yang sangat mahal.

Dari penanaman benih kopi hingga espressonya dituangkan ke segelas cangkir, ada proses panjang yang melibatkan banyak tangan serta keahlian. Proses panjang ini lah yang menjadi salah satu penentu seberapa mahal harga kopi untuk dijual.

Saat ini ada beberapa jenis kopi yang tercatat memiliki harga selangit. Saking mahalnya, sepertinya tidak mungkin kopi-kopi ini dapat dijual di warung kopi (warkop) yang ada di Indonesia.

Salah satu kopi yang memiliki harga selangit tersebut adalah kopi Saint Helena. Dilansir theceomagazine.com, per kilogramnya kopi ini dihargai US$494 atau berkisar Rp7,7 juta. Kopi ini berasal dari pulau terpencil Saint Helena di Samudra Atlantik Selatan. Kopi ini istimewa karena berasal dari Green Tipped Bourbon Arabica, dan diproses menggunakan mata air setempat. 

Selain itu, ada juga Kopi Luwak asal Indonesia yang dihargai US$1.300 atau Rp20 juta per kilogramnya. Menariknya, kopi ini diproses dari biji kopi yang telah dicerna oleh seekor luwak. Melihat harganya yang selangit, apa kah Kopi Luwak adalah kopi dengan harga termahal di dunia? Jawabannya adalah bukan.

Sebab, status kopi paling mahal di dunia saat ini dipegang oleh Black Ivory, kopi asal Thailand.


Black Ivory 

Dilansir dari berbagai sumber, Black Ivory atau Gading Hitam merupakan kopi paling mahal di dunia. Diperkirakan, harganya bisa mencapai US$2.500 atau Rp39 juta per kilogramnya. Menurut CN Traveller, harga secangkirnya berada dikisaran US$50 atau sekitar Rp782 ribu.

Selain rasanya yang memiliki ciri khas, hal yang membuat kopi ini sangat mahal adalah kelangkaannya, ditambah prosesnya yang sangat panjang. 

Diketahui, kopi ini berasal dari Kota Surin, Thailand. Di tempat tersebut lah terdapat gajah-gajah yang dijinakkan, dan gajah-gajah tersebut lah yang akan mencerna biji kopi yang nantinya akan diproses menjadi secangkir Black Ivory.

Biji kopi yang digunakan dalam Black Ivory adalah Thai Arabica. Meskipun begitu, biji kopi yang digunakan tersebut tidak hanya tumbuh di Surin, tapi bisa dari wilayah lain, terutama wilayah Thailand yang memiliki ketinggian 1.500 meter.

Setelah dipasok ke kota Surin, biji-biji kopi yang masih berbentuk ceri (buah kopi) tersebut akan diberikan kepada gajah dengan dicampur dengan makanan favorit para gajah terlebih dahulu.

Setiap gajah tersebut juga akan menjalani diet herbivora yang ketat, seperti memakan asam jawa, pisang, atau pun nasi. Hal ini dikarenakan kandungan makanan yang dicerna oleh gajah akan memengaruhi rasa dan nilai gizi dari kopi.

Setelah dimakan oleh gajah, sekitar 12 hingga 72 jam kemudian ceri tersebut akan dikeluarkan dan menjadi kotoran gajah. Kemudian, ceri-ceri tersebut dikumpulkan untuk dicuci, disapu, dan dijemur.

Dalam suhu kelembaban tertentu, ceri yang telah dibersihkan akan dikupas dan disortir menggunakan mesin, lalu dilakukan pengecekan cacat fisik secara manual. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan hasil pemanggangan yang merata.

Kemudian, hasil pemanggangan dengan kualitas terbaik lah yang akan dipasarkan. Biasanya, kopi Black Ivory ini dijual ke hotel bintang lima dan restoran berlabel Michelin Star. 

Di balik harganya yang mahal, kopi ini memiliki aroma coklat, malt, dan rempah-rempah dengan sedikit aroma tembakau dan rumput. Kopi ini juga digambarkan sebagai persilangan antara kopi dan teh, dan tidak memiliki rasa gosong atau pahit seperti kopi berkafein lainnya.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Context.id

MORE  STORIES

KPPU Mulai Sidangkan Perkara Tender di BRIN

Perkara ini melibatkan 4 perusahaan yang menjadi terlapor

Noviarizal Fernandez | 20-05-2024

D’Festa 2024, Pameran K-Pop Terbesar di Indonesia

D\'Festa digadang-gadang dapat memberikan pengalaman impresif yang tak terlupakan bagi para penggemar K-Pop di Indonesia

Context.id | 20-05-2024

Mengenal HIFI, Orang Kaya tapi Kekurangan

Generasi milenial di kota-kota AS yang berpenghasilan $200.000 atau lebih per tahun hidup dari gaji ke gaji

Context.id | 20-05-2024

Salah Kaprah Bisnis Franchise atau Waralaba

waralaba ini memberikan hak penggunaan merek dagang, sistem operasi, dan dukungan kepada pihak lain untuk menjalankan bisnis yang sudah berjalan.

Context.id | 20-05-2024