Share

Home Stories

Stories 21 November 2024

Triliunan Dolar Dihabiskan untuk Perang, Mengapa Tidak untuk Iklim?

Tuntutan negara berkembang agar Barat menyumbangkan dana US1 triliun untuk anggaran iklim bukanlah hal yang mustahil, karena mereka sanggup habiskan untuk senjata

War and Climate/Suistainable NI

Context.id, JAKARTA - Dunia saat ini dilanda konflik berdarah yang berkepanjangan, baik di Timur Tengah (Israel-Hamas-Hizbullah) maupun di Eropa (Ukraina-NATO-Rusia) serta perang saudara yang ada di Afrika. Perang membuat negara-negara maju menganggarkan triliunan dolar per tahun untuk meningkatkan teknologi militernya. 

Sikap ini yang dikritik penulis India, Amitav Ghosh yang mengatakan negara-negara maju punya uang untuk melawan perubahan iklim, tetapi mereka memilih untuk mengarahkan triliunan dolar per tahun untuk persenjataan militer. 

Ghosh, yang buku-bukunya yang berfokus pada sosioekonomi dan pemanasan global, berbicara kepada Bloomberg Green terkait pembicaraan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau COP 29.

Seperti diketahui, negara-negara berkembang di KTT PBB di Baku, Azerbaijan minggu ini meminta negara-negara kaya untuk setidaknya mengucurkan dana US$1 triliun per tahun guna membantu mereka memulai transisi hijau dan membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. 

Namun, kata Ghosh, kecil kemungkinan mereka akan menerima jumlah yang mereka tuntut dalam waktu dekat. 



Dalam bukunya yang berjudul The Nutmeg's Curse, Ghosh menuliskan negara-negara maju hanya melihat dunia sebagai "sumber daya" sehingga mereka dengan semena-mena dieksploitasi sehingga membawa kita ke ambang bencana iklim. 

Bukan hanya itu, dalam kesempatan menghadiri acara di Ubud, Bali, Ghosh mengatakan negara-negara di belahan bumi selatan alias negara berkembang kini merasa, mungkin dengan alasan yang tepat, giliran mereka untuk mendapatkan keuntungan, giliran mereka untuk memakmurkan planet ini. 

Apakah bagi Ghosh hal itu baik? 

"Bagi saya itu cara berpikir yang mengerikan, dan saya pikir itu akan membawa kita langsung ke bencana. Cara Indonesia menambang nikel, cara yang sangat ekstraktif, menghancurkan banyak masyarakat adat. Hal yang sama juga terjadi di India," kata Ghosh.  

Secara khusus Ghosh menyoroti hal yang terjadi di Indonesia dan India. Menurutnya apa yang dialami India dan Indonesia adalah bentuk penjajahan diri, di mana mereka sekarang telah mengambil alih ideologi ekstraktivisme penjajah secara besar-besaran dengan maksud yang jelas untuk menjadikan negara mereka seperti negara Barat. 

Ghosh melihatnya sebagai sebuah bencana. Menyitir pemikiran Mahatma Gandhi, Ghosh  mengatakan dahulu kala, jika setiap orang memperlakukan Bumi seperti orang Barat, kita semua akan melahap dunia seperti belalang. Dan itulah yang telah terjadi pada kita.

"Mereka mengekspresikan semacam keinginan meniru, di mana mereka ingin menjadi seperti yang lain. Jadi pada dasarnya, yang harus dilakukan [negara-negara kaya] adalah menunjukkan dengan contoh, bahwa mereka meninggalkan jalan ekstraktivisme. Keinginan meniru itu bisa sangat merusak, tetapi itu mengandung potensi untuk berubah," lanjutnya. 

Mengenai negara-negara maju yang menularkan cara hidud yang eksploitatif dan konsumtif, Ghosh mengatakan hal itu merupakan inti dari Konsensus Washington , bahwa setiap orang harus seperti orang Amerika dengan beberapa mobil dan semua barang konsumsi. 

Sialnya, keinginan mereka itu terwujud dan berhasil. 

Lalu terkait pendapat negara-negara berkembang bahwa komitmen pendanaan iklim saat ini sebesar US$100 miliar per tahun perlu ditingkatkan menjadi setidaknya US$1 triliun per tahun bagi Ghosh hal itu tidaklah mustahil. 

'Selama ini mereka selalu berkata Kami tidak punya uang,' tetapi kemudian tiba-tiba mereka menghabiskan triliunan untuk persenjataan . Jadi itu menunjukkan kepada Anda dengan sangat jelas di mana prioritas mereka. Saya berharap keadaannya berbeda, tetapi kita tidak boleh salah tentang hal itu: dalam hal geopolitik, dalam hal pertanyaan tentang dominasi global, Barat tidak akan pernah berkompromi," ujarnya geram.  

Namun, lanjut Ghosh, situasinya sudah berbeda. Dunia saat ini sedang menjalani transformasi geopolitik terbesar dalam 400 tahun terakhir. Barat untuk pertama kalinya dalam 400 tahun, benar-benar kehilangan dominasi geopolitiknya. Hal itu membuat mereka kesal.



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Stories 21 November 2024

Triliunan Dolar Dihabiskan untuk Perang, Mengapa Tidak untuk Iklim?

Tuntutan negara berkembang agar Barat menyumbangkan dana US1 triliun untuk anggaran iklim bukanlah hal yang mustahil, karena mereka sanggup habiskan untuk senjata

War and Climate/Suistainable NI

Context.id, JAKARTA - Dunia saat ini dilanda konflik berdarah yang berkepanjangan, baik di Timur Tengah (Israel-Hamas-Hizbullah) maupun di Eropa (Ukraina-NATO-Rusia) serta perang saudara yang ada di Afrika. Perang membuat negara-negara maju menganggarkan triliunan dolar per tahun untuk meningkatkan teknologi militernya. 

Sikap ini yang dikritik penulis India, Amitav Ghosh yang mengatakan negara-negara maju punya uang untuk melawan perubahan iklim, tetapi mereka memilih untuk mengarahkan triliunan dolar per tahun untuk persenjataan militer. 

Ghosh, yang buku-bukunya yang berfokus pada sosioekonomi dan pemanasan global, berbicara kepada Bloomberg Green terkait pembicaraan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau COP 29.

Seperti diketahui, negara-negara berkembang di KTT PBB di Baku, Azerbaijan minggu ini meminta negara-negara kaya untuk setidaknya mengucurkan dana US$1 triliun per tahun guna membantu mereka memulai transisi hijau dan membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. 

Namun, kata Ghosh, kecil kemungkinan mereka akan menerima jumlah yang mereka tuntut dalam waktu dekat. 



Dalam bukunya yang berjudul The Nutmeg's Curse, Ghosh menuliskan negara-negara maju hanya melihat dunia sebagai "sumber daya" sehingga mereka dengan semena-mena dieksploitasi sehingga membawa kita ke ambang bencana iklim. 

Bukan hanya itu, dalam kesempatan menghadiri acara di Ubud, Bali, Ghosh mengatakan negara-negara di belahan bumi selatan alias negara berkembang kini merasa, mungkin dengan alasan yang tepat, giliran mereka untuk mendapatkan keuntungan, giliran mereka untuk memakmurkan planet ini. 

Apakah bagi Ghosh hal itu baik? 

"Bagi saya itu cara berpikir yang mengerikan, dan saya pikir itu akan membawa kita langsung ke bencana. Cara Indonesia menambang nikel, cara yang sangat ekstraktif, menghancurkan banyak masyarakat adat. Hal yang sama juga terjadi di India," kata Ghosh.  

Secara khusus Ghosh menyoroti hal yang terjadi di Indonesia dan India. Menurutnya apa yang dialami India dan Indonesia adalah bentuk penjajahan diri, di mana mereka sekarang telah mengambil alih ideologi ekstraktivisme penjajah secara besar-besaran dengan maksud yang jelas untuk menjadikan negara mereka seperti negara Barat. 

Ghosh melihatnya sebagai sebuah bencana. Menyitir pemikiran Mahatma Gandhi, Ghosh  mengatakan dahulu kala, jika setiap orang memperlakukan Bumi seperti orang Barat, kita semua akan melahap dunia seperti belalang. Dan itulah yang telah terjadi pada kita.

"Mereka mengekspresikan semacam keinginan meniru, di mana mereka ingin menjadi seperti yang lain. Jadi pada dasarnya, yang harus dilakukan [negara-negara kaya] adalah menunjukkan dengan contoh, bahwa mereka meninggalkan jalan ekstraktivisme. Keinginan meniru itu bisa sangat merusak, tetapi itu mengandung potensi untuk berubah," lanjutnya. 

Mengenai negara-negara maju yang menularkan cara hidud yang eksploitatif dan konsumtif, Ghosh mengatakan hal itu merupakan inti dari Konsensus Washington , bahwa setiap orang harus seperti orang Amerika dengan beberapa mobil dan semua barang konsumsi. 

Sialnya, keinginan mereka itu terwujud dan berhasil. 

Lalu terkait pendapat negara-negara berkembang bahwa komitmen pendanaan iklim saat ini sebesar US$100 miliar per tahun perlu ditingkatkan menjadi setidaknya US$1 triliun per tahun bagi Ghosh hal itu tidaklah mustahil. 

'Selama ini mereka selalu berkata Kami tidak punya uang,' tetapi kemudian tiba-tiba mereka menghabiskan triliunan untuk persenjataan . Jadi itu menunjukkan kepada Anda dengan sangat jelas di mana prioritas mereka. Saya berharap keadaannya berbeda, tetapi kita tidak boleh salah tentang hal itu: dalam hal geopolitik, dalam hal pertanyaan tentang dominasi global, Barat tidak akan pernah berkompromi," ujarnya geram.  

Namun, lanjut Ghosh, situasinya sudah berbeda. Dunia saat ini sedang menjalani transformasi geopolitik terbesar dalam 400 tahun terakhir. Barat untuk pertama kalinya dalam 400 tahun, benar-benar kehilangan dominasi geopolitiknya. Hal itu membuat mereka kesal.



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bukan Cuma Kafe, di Blok M Juga Ada Koperasi Kelurahan Merah Putih

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai di Blok M Hub, Jakarta Selatan merupakan Koperasi Merah Putih tingkat kelurahan pertama di Indonesia

Renita Sukma . 26 August 2025

TikTok Rilis Fitur Kampus, Mirip Facebook Versi Awal

Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan enam dari sepuluh remaja di AS mengaku rutin menggunakan TikTok dan fitur ini bisa menggaet lebih ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Bubur Ayam Indonesia Dinobatkan sebagai Bubur Terenak di Dunia!

TasteAtlas menempatkan bubur ayam Indonesia sebagai bubur terenak dunia mengungguli Arroz Caldo dari Filipina serta Chè ba màu, bubur khas Vietn ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Menang di WTO, Mendag Dorong Uni Eropa Cabut Bea Imbalan Biodiesel

Pemerintah Indonesia mendesak Uni Eropa agar segera menghapus bea masuk imbalan atas impor produk biodiesel RI setelah terbitnya keputusan WTO

Renita Sukma . 25 August 2025