Share

Home Stories

Stories 11 Juli 2024

Sepak Bola dan Eksodus Orang Maluku ke Belanda

Selain karena hubungan sejarah yang kuat, Belanda juga memiliki dampak tak langsung terhadap Timnas Indonesia

Orang Maluku di Belanda/Agoes Rudianto-Permata Photojournalist Grant

Context.id, JAKARTA - Susunan skuad pemain tim nasional sepak bola Indonesia dalam satu tahun terakhir ini diramaikan oleh lalu-lalang pemain diaspora. 

Sebut saja nama-nama beken seperti Jay Idzes, Justin Hubner, Thom Haye, Ivan Jenner, dan Shayne Pattynama.

Selain itu, ada beberapa pemain yang merumput di Eropa mempunyai darah Indonesia seperti  gelandang AC Milan dan timnas Belanda Tijjani Reijnders, yang mempunyai Ibu dengan marga Maluku, Lekatompessy. 

Contoh lainnya adalah Ragnar Oratmangoen yang bermain bersama FC Groningen di kasta tertinggi Liga Belanda. 

Merebaknya para pemain diaspora dari Belanda ini tak bisa dilepaskan dari sejarah rumit penjajahan negara itu atas Indonesia. 



Tahun 1950-an menjadi periode krusial dalam tatanan negara Indonesia. Kemerdekaan yang masih dini membuat Indonesia masih meraba-raba bentuk pemerintahannya. 

Menurut penelitian Fridus Steijlen bertajuk "Searching Transnational relations between Moluccans in the Netherlands and the Moluccas" dalam Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, periode tersebut menjadi cikal bakal eksodus orang Maluku ke Belanda. 

Maluku menjadi salah satu wilayah yang sempat berpikir untuk membentuk negara baru dan berpisah dari Indonesia dengan nama Republik Maluku Selatan (RMS). 

Saat pemberontakan RMS berkobar dan dipukul mundur oleh pasukan NKRI, kombatan separatis ini yang kebanyakan mantan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) melarikan diri ke Belanda. 

Saat itu, tercatat sebanyak 12.578 orang Maluku pindah ke Belanda. Para tokoh RMS termasuk ke dalam 12 ribu orang tersebut. 

Para pelarian politik ini bertahan di Belanda dan membangun kelompok diasporanya sendiri serta berganti kewarganegaraan. 

Sebagai bagian dari WN Belanda, keturunan orang Maluku di sana berhak untuk mendapatkan berbagai hak dan akses di negeri tersebut. 

Salah satunya adalah menimba cita-cita sebagai atlet sepak bola dengan berlatih di akademi klub-klub Belanda. 

Simon Tahamata, pria kelahiran 1956 salah satu pemain keturunan Maluku yang sempat merumput di AFC AJax pada periode 80an. 

Nama Simon sendiri harum di klub papan atas negeri kincir angin itu, terutama saat menjadi pelatih di tim muda Jong Ajax. 

Selain Simon Tahamata,  pemain keturunan eksil Maluku lain Sonny Silooy juga pernah mengenyam pendidikan di akademi sepak bola Ajax. 

Bomber eksodus Maluku ini tak pernah surut, diteruskan oleh pemain kelahiran 1970-an seperti Denny Landzaat, Bobby Petta, dan Giovanni van Bronckhorst. 

Mereka semua pernah memperkuat Timnas Belanda pada eranya masing-masing. 

Jadi, sebenarnya jangan heran juga jika timnas Belanda memiliki tempat istimewa di hati penggemar sepak bola Indonesia. 

Selain karena hubungan sejarah yang kuat, Belanda juga memiliki dampak tak langsung terhadap Timnas Indonesia, seperti yang sempat disebutkan di atas.

Keseriusan dalam program naturalisasi ini telah membuat penggemar timnas Indonesia memberikan julukan baru kepada Belanda, yaitu "Timnas Pusat".

Timnas pusat ada di puncak trending topic X/Twitter setelah kalah dari Inggris (Kamis/7) dalam laga semifinal Piala Euro 2024. 

Warganet Indonesia bersimpati dan tak sedikit yang bersedih dengan kekalahan timnas Belanda.  

Kontributor: Fadlan Priatna



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Home Stories

Stories 11 Juli 2024

Sepak Bola dan Eksodus Orang Maluku ke Belanda

Selain karena hubungan sejarah yang kuat, Belanda juga memiliki dampak tak langsung terhadap Timnas Indonesia

Orang Maluku di Belanda/Agoes Rudianto-Permata Photojournalist Grant

Context.id, JAKARTA - Susunan skuad pemain tim nasional sepak bola Indonesia dalam satu tahun terakhir ini diramaikan oleh lalu-lalang pemain diaspora. 

Sebut saja nama-nama beken seperti Jay Idzes, Justin Hubner, Thom Haye, Ivan Jenner, dan Shayne Pattynama.

Selain itu, ada beberapa pemain yang merumput di Eropa mempunyai darah Indonesia seperti  gelandang AC Milan dan timnas Belanda Tijjani Reijnders, yang mempunyai Ibu dengan marga Maluku, Lekatompessy. 

Contoh lainnya adalah Ragnar Oratmangoen yang bermain bersama FC Groningen di kasta tertinggi Liga Belanda. 

Merebaknya para pemain diaspora dari Belanda ini tak bisa dilepaskan dari sejarah rumit penjajahan negara itu atas Indonesia. 



Tahun 1950-an menjadi periode krusial dalam tatanan negara Indonesia. Kemerdekaan yang masih dini membuat Indonesia masih meraba-raba bentuk pemerintahannya. 

Menurut penelitian Fridus Steijlen bertajuk "Searching Transnational relations between Moluccans in the Netherlands and the Moluccas" dalam Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, periode tersebut menjadi cikal bakal eksodus orang Maluku ke Belanda. 

Maluku menjadi salah satu wilayah yang sempat berpikir untuk membentuk negara baru dan berpisah dari Indonesia dengan nama Republik Maluku Selatan (RMS). 

Saat pemberontakan RMS berkobar dan dipukul mundur oleh pasukan NKRI, kombatan separatis ini yang kebanyakan mantan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) melarikan diri ke Belanda. 

Saat itu, tercatat sebanyak 12.578 orang Maluku pindah ke Belanda. Para tokoh RMS termasuk ke dalam 12 ribu orang tersebut. 

Para pelarian politik ini bertahan di Belanda dan membangun kelompok diasporanya sendiri serta berganti kewarganegaraan. 

Sebagai bagian dari WN Belanda, keturunan orang Maluku di sana berhak untuk mendapatkan berbagai hak dan akses di negeri tersebut. 

Salah satunya adalah menimba cita-cita sebagai atlet sepak bola dengan berlatih di akademi klub-klub Belanda. 

Simon Tahamata, pria kelahiran 1956 salah satu pemain keturunan Maluku yang sempat merumput di AFC AJax pada periode 80an. 

Nama Simon sendiri harum di klub papan atas negeri kincir angin itu, terutama saat menjadi pelatih di tim muda Jong Ajax. 

Selain Simon Tahamata,  pemain keturunan eksil Maluku lain Sonny Silooy juga pernah mengenyam pendidikan di akademi sepak bola Ajax. 

Bomber eksodus Maluku ini tak pernah surut, diteruskan oleh pemain kelahiran 1970-an seperti Denny Landzaat, Bobby Petta, dan Giovanni van Bronckhorst. 

Mereka semua pernah memperkuat Timnas Belanda pada eranya masing-masing. 

Jadi, sebenarnya jangan heran juga jika timnas Belanda memiliki tempat istimewa di hati penggemar sepak bola Indonesia. 

Selain karena hubungan sejarah yang kuat, Belanda juga memiliki dampak tak langsung terhadap Timnas Indonesia, seperti yang sempat disebutkan di atas.

Keseriusan dalam program naturalisasi ini telah membuat penggemar timnas Indonesia memberikan julukan baru kepada Belanda, yaitu "Timnas Pusat".

Timnas pusat ada di puncak trending topic X/Twitter setelah kalah dari Inggris (Kamis/7) dalam laga semifinal Piala Euro 2024. 

Warganet Indonesia bersimpati dan tak sedikit yang bersedih dengan kekalahan timnas Belanda.  

Kontributor: Fadlan Priatna



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bank Digital Bantu Gen Z Menabung atau Justru Makin Boros?

Bank digital mempermudah transaksi, tapi tanpa disiplin finansial, kemudahan itu bisa jadi jebakan konsumtif.

Renita Sukma . 30 March 2025

Darah Buatan: Berapa Lama Lagi Terwujud?

Di lab canggih dari Inggris hingga Jepang, para ilmuwan berupaya menciptakan yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah darah buatan. r n

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Negara Penghasil Kurma Terbesar di Dunia dan Kontroversi di Baliknya

Kurma tumbuh subur di wilayah beriklim panas dengan musim kering yang panjang sehingga banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika Utara

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Push-up Ternyata Bisa Mempengaruhi Hidup Pegiatnya

Push-up lebih dari sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membangun disiplin dan kepercayaan diri

Noviarizal Fernandez . 24 March 2025