Stories - 11 June 2024

Apa Itu Asian Value yang Ramai Dibicarakan Warganet?

Asian Value atau nilai-nilai Asia seringkali bertemu muka dengan sikap nepotisme atau kolusi


Ilustrasi gotong royong Asian Value/ CGTN

Context.id, JAKARTA - Istilah Asian Value tengah ramai dibicarakan warganet. Istilah ini bahkan menjadi trending topic di platform X usai disebut dalam sebuah siniar di kanal YouTube Total Politik saat mengundang komika Pandji Pragiwaksono sebagai tamunya.

Sebagai konteks, siniar yang dipandu oleh dua pembawa acara Arie Putra dan Budi Adiputro sebelumnya tengah berbincang tentang kondisi politik Indonesia dan strategi kemenangan Prabowo Subianto yang didukung oleh Presiden Joko Widodo dalam gelaran Pilpres 2024.

Arie kemudian mempertanyakan alasan Pandji yang sangat sentimen dan emosi atas adanya politik dinasti di Indonesia yang merujuk pada terpilihnya putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden.

Arie menganggap dinasti politik bukanlah sebuah masalah dan itu merupakan hak warga negara untuk bisa berkontestasi dalam demokrasi, termasuk Gibran.

“Punya [opini], Asian Value gue, human rights,” ucap Arie.

Lantas, apa itu sebenarnya Asian Value yang dimaksud dalam perbincangan tersebut?

Asian Value
Merujuk Ensiklopedia Britannica, Asian Value didefinisikan sebagai nilai-nilai yang menjadi ciri khas warga Asia.

Beberapa nilai yang dimaksud adalah budaya yang mengedepankan nilai-nilai disiplin, kolektif, kerja sama, penghormatan kepada orang tua, termasuk menghormati otoritas-otoritas yang berkuasa.

Istilah ini mulai populer pada awal 1990-an sebagai sebuah gerakan yang mempromosikan nilai Asia dan menolak budaya-budaya individualis Barat untuk mengembangkan negaranya.

Orang Asia disebut memiliki nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang kental dalam bermasyarakat.

Britannica menjelaskan, salah satu tokoh politik yang kerap mempromosikan Asian Value adalah mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew dan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. 

Salah satu bentuk yang merepresentasikan Asian Value adalah posisi yang mengutamakan komunitas di atas individu, termasuk keluarga sebagai basis masyarakat.

Merujuk riset besutan Rendy Wirawan dan Yuniarti bertajuk Corruption and Asian Values: A Cultural Approach to Understand Corruption within Asian Society yang terbit di European Journal of Humanities and Social Sciences, Asian Value menciptakan masyarakat Asia yang tunduk terhadap otoritas.

Pada intinya, Asian Value memiliki beberapa poin utama, yaitu  HAM tidak bersifat universal dan tidak dapat diglobalisasikan; Warga Asia tidak berpusat pada individu tapi pada keluarga; Hak-hak sosial dan ekonomi berada di atas hak-hak politik individu; dan Suatu negara memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri mencakup yurisdiksi domestik pemerintah atas HAM.

Dalam konteks politik, Asian Value dan human rights yang dimaksud oleh dua host Total Politik menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia menganggap Jokowi sebagai sosok pemimpin atau otoritas yang masih dipercaya.

Oleh karena itu, Gibran mendulang suara pemilih yang sangat besar berkat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keluarga Jokowi.

Terpilihnya Gibran dalam Pilpres 2024 juga diklaim oleh kedua host tak menyalahi aturan karena merupakan hak asasi manusia.

Kritik Terhadap Asian Value
Pada kenyataannya, Asian Value sebagai sebuah nilai yang dipercaya dalam praktik politik juga mendapatkan berbagai kritik, bahkan dari masyarakat Asia itu sendiri.

Riset Rendy dan Yuniarti  di European Journal of Humanities and Social Sciences memberikan kritik terhadap Asian Value.

Riset yang ditulis oleh Rendy Wirawan dan Yuniarti ini menyoroti bagaimana Asian Value dapat menjadi faktor pendorong munculnya budaya korupsi bagi masyarakat Asia.

Konsep kolektivisme yang dirujuk dalam Asian Value untuk menyatukan masyarakat demi kepentingan negara cenderung mendorong untuk tunduk kepada pemerintahan dan otoritas yang berkuasa.

Akhirnya, perilaku korupsi yang ditutupi dengan kedok demokrasi masyarakat pun semakin merajalela.

Kritik ini selaras dengan sanggahan Pandji Pragiwaksono atas opini Arie dan Budi.

Menurut Pandji, ketika seorang pemimpin melakukan korupsi, maka dinasti politik yang diwariskan kepada anaknya juga turut memiliki indikasi perilaku korupsi.

Namun, indikasi korupsi tersebut kemudian dihiraukan berkat pandangan masyarakat terhadap Jokowi sebagai sosok pemimpin yang disegani oleh publik.

Anies Baswedan, salah satu calon presiden dalam Pilpres 2024 bahkan turut memberikan sentilan kepada opini Asian Value dan Human Rights untuk mendukung dinasti politik yang dibangun oleh Jokowi.

Dalam cuitan di akun X pribadinya @aniesbaswedan, ia memamerkan momen dirinya tengah meminum kopi tubruk sembari berkelakar bahwa itu adalah Asian Value.

Cuitan Anies tersebut lantas mengundang beragam respons dari warganet. Sebagian besar, mengartikan “tubruk” yang dimaksud oleh Anies adalah tindakan mendobrak konstitusi yang dilakukan oleh putra Presiden Jokowi.

“Fotonya sedang meminum kopi, tweetnya sedang memasak,” tulis seorang warganet.

Pada akhirnya, Asian Value merupakan sebuah pemikiran yang berkembang menjadi kepercayaan sebagian masyarakat Asia mengenai nilai-nilai yang perlu dianut dalam bermasyarakat, termasuk berpolitik.

Penulis: Ridho Danu


Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

MORE  STORIES

Apartheid Gender Versi Taliban, Masuk Kategori Kejahatan Kemanusiaan?

Taliban melarang para gadis remaja bersekolah, para pegawai perempuan dilarang untuk bekerja dan para wanita dipaksa menikah dengan pria tua

Context.id | 21-06-2024

Mobil Listrik Ferrari Dilego Rp8,8 Miliar

Model EV kedua besutan Ferrari akan segera menyusul untuk diluncurkan

Noviarizal Fernandez | 21-06-2024

Dijadikan Guyonan Imbas Izin Tambang, Ini Sejarah Terbentuknya Lambang NU

Logo NU merupakan hasil buah tangan dari K.H. Ridwan Abdullah ulama yang juga memiliki kemampuan dalam bidang seni, terutama menggambar dan melukis

Context.id | 21-06-2024

Pengaruh Keju Bagi Kesehatan Mental

Responden yang memiliki kesehatan mental dan ketahanan terhadap stres kuat diduga banyak mengonsumsi keju

Context.id | 20-06-2024