Share

Home Stories

Stories 16 Oktober 2024

Anguilla, Pulau Karibia Meraih Cuan Besar dari Gelombang AI

Domain .ai yang hak patennya dimiliki Anguilla membuatnya mendapatkan aliran dana besar dari perusahaan AI yang menggunakannya, termasuk Google dan X

Pulau Anguilla/magicofthecarribean.com

Context.id, JAKARTA - Pulau kecil Anguilla di Karibia kini menjadi sorotan dunia berkat ledakan industri kecerdasan buatan (AI). Pulau yang masuk dalam Wilayah Seberang Laut Inggris ini dikenal dengan pantai-pantai indah dan perairan yang jernih. 

Jika dulunya ekonomi Anguilla hanya ditopang oleh pariwisata, kini wilayah ini telah bertransformasi menjadi lokasi tambang emas digital, semua berkat keberuntungan dari posisi uniknya di dunia maya.

Tambang emas yang dimaksud bukan blockchain atau terkait dengan kripto dan semacamnya, melainkan domain web internet. 

Seperti kita ketahui, biasanya domain internet di suatu negara terkait nama negara itu misalnya Indonesia menjadi .id atau Australia menjadi .au. Nah, Anguilla ini memiliki domain .ai. 

Jadi pada periode 90-an, Anguilla diberikan kendali atas domain .ai sebuah keputusan yang kini terbukti sangat beruntung. 



Peluncuran ChatGPT dua tahun lalu menandai awal dari perburuan digital, di mana banyak perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan alamat .ai demi menunjukkan komitmen mereka terhadap teknologi AI. 

Nama-nama besar seperti Google dan Grok AI milik Elon Musk telah menjadikan google.ai dan x.ai sebagai alamat resmi mereka, sementara berbagai startup juga bergegas untuk merebut domain .ai mereka sendiri.

Pendapatan Anguilla dari biaya pendaftaran domain melonjak hingga empat kali lipat, mencapai US$32 juta atau Rp496,7 miliar (asumsi kurs dolar Rp15.552) tahun lalu. 

Pendapatan ini menyumbang sekitar 20% dari total pendapatan pemerintah, sebuah lonjakan signifikan dari sekitar 5% sebelum boom AI. 

Dengan lebih dari 533.000 domain .ai terdaftar kenaikan sepuluh kali lipat sejak 2018 menjadikan pulau ini sebagai pemain yang tak terduga dalam lanskap teknologi global.

Pemerintah Anguilla mengambil langkah cerdas dengan mengumpulkan biaya setiap kali domain .ai diperpanjang atau didaftarkan. 

Baru-baru ini, mereka menandatangani kesepakatan dengan Identity Digital, perusahaan AS yang membantu mengelola permintaan domain global yang terus meningkat. 

Kesepakatan ini tidak hanya meningkatkan keamanan dan ketahanan domain, tetapi juga diharapkan mendatangkan lebih banyak pendapatan.

Meskipun angin pendapatan ini menawarkan harapan bagi ekonomi Anguilla vital untuk membiayai proyek-proyek seperti ekspansi bandara dan pelatihan vokasional, Perdana Menteri Anguilla Ellis Webster tetap menegaskan pemerintahannya untuk berhati-hati. 

Webster menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi dan memperingatkan agar tidak hanya bergantung pada sumber pendapatan yang tiba-tiba meledak ini. 

“Kita tidak bisa memprediksi berapa lama ini akan bertahan,” ujarnya, menyuarakan kekhawatiran tentang risiko ketergantungan pada tren yang bisa memudar.

Walaupun Anguilla belum memiliki industri AI sendiri, Webster memiliki cita-cita pulau ini suatu hari dapat menjadi pusat teknologi. 

Dia menyadari keberuntungan telah memberikan domain .ai kepada Anguilla, bukan kepada Antigua yang lebih dekat. 

Sebenarnya selain Anguilla,  dalam lanskap domain ini banyak negara kecil yang memanfaatkan domain tingkat atas yang unik. 

Misalnya kisah serupa di Tuvalu, yang bergantung pada domain .tv, atau Libya, di mana domain .ly menjadi populer untuk domain hacks. 

Ada juga Montenegro memanfaatkan .me untuk branding pribadi, sedangkan .co milik Kolombia semakin diminati sebagai alamat web yang fleksibel.

Saat Anguilla melangkah ke era baru ini, pulau ini berusaha menyeimbangkan peningkatan pendapatan dengan keberlanjutan jangka panjang. 

Pengalaman mereka adalah pengingat dunia digital dapat mengubah ekonomi dan menghadirkan peluang dan tantangan yang sangat menguntungkan jika dikelola dengan baik. 



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Stories 16 Oktober 2024

Anguilla, Pulau Karibia Meraih Cuan Besar dari Gelombang AI

Domain .ai yang hak patennya dimiliki Anguilla membuatnya mendapatkan aliran dana besar dari perusahaan AI yang menggunakannya, termasuk Google dan X

Pulau Anguilla/magicofthecarribean.com

Context.id, JAKARTA - Pulau kecil Anguilla di Karibia kini menjadi sorotan dunia berkat ledakan industri kecerdasan buatan (AI). Pulau yang masuk dalam Wilayah Seberang Laut Inggris ini dikenal dengan pantai-pantai indah dan perairan yang jernih. 

Jika dulunya ekonomi Anguilla hanya ditopang oleh pariwisata, kini wilayah ini telah bertransformasi menjadi lokasi tambang emas digital, semua berkat keberuntungan dari posisi uniknya di dunia maya.

Tambang emas yang dimaksud bukan blockchain atau terkait dengan kripto dan semacamnya, melainkan domain web internet. 

Seperti kita ketahui, biasanya domain internet di suatu negara terkait nama negara itu misalnya Indonesia menjadi .id atau Australia menjadi .au. Nah, Anguilla ini memiliki domain .ai. 

Jadi pada periode 90-an, Anguilla diberikan kendali atas domain .ai sebuah keputusan yang kini terbukti sangat beruntung. 



Peluncuran ChatGPT dua tahun lalu menandai awal dari perburuan digital, di mana banyak perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan alamat .ai demi menunjukkan komitmen mereka terhadap teknologi AI. 

Nama-nama besar seperti Google dan Grok AI milik Elon Musk telah menjadikan google.ai dan x.ai sebagai alamat resmi mereka, sementara berbagai startup juga bergegas untuk merebut domain .ai mereka sendiri.

Pendapatan Anguilla dari biaya pendaftaran domain melonjak hingga empat kali lipat, mencapai US$32 juta atau Rp496,7 miliar (asumsi kurs dolar Rp15.552) tahun lalu. 

Pendapatan ini menyumbang sekitar 20% dari total pendapatan pemerintah, sebuah lonjakan signifikan dari sekitar 5% sebelum boom AI. 

Dengan lebih dari 533.000 domain .ai terdaftar kenaikan sepuluh kali lipat sejak 2018 menjadikan pulau ini sebagai pemain yang tak terduga dalam lanskap teknologi global.

Pemerintah Anguilla mengambil langkah cerdas dengan mengumpulkan biaya setiap kali domain .ai diperpanjang atau didaftarkan. 

Baru-baru ini, mereka menandatangani kesepakatan dengan Identity Digital, perusahaan AS yang membantu mengelola permintaan domain global yang terus meningkat. 

Kesepakatan ini tidak hanya meningkatkan keamanan dan ketahanan domain, tetapi juga diharapkan mendatangkan lebih banyak pendapatan.

Meskipun angin pendapatan ini menawarkan harapan bagi ekonomi Anguilla vital untuk membiayai proyek-proyek seperti ekspansi bandara dan pelatihan vokasional, Perdana Menteri Anguilla Ellis Webster tetap menegaskan pemerintahannya untuk berhati-hati. 

Webster menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi dan memperingatkan agar tidak hanya bergantung pada sumber pendapatan yang tiba-tiba meledak ini. 

“Kita tidak bisa memprediksi berapa lama ini akan bertahan,” ujarnya, menyuarakan kekhawatiran tentang risiko ketergantungan pada tren yang bisa memudar.

Walaupun Anguilla belum memiliki industri AI sendiri, Webster memiliki cita-cita pulau ini suatu hari dapat menjadi pusat teknologi. 

Dia menyadari keberuntungan telah memberikan domain .ai kepada Anguilla, bukan kepada Antigua yang lebih dekat. 

Sebenarnya selain Anguilla,  dalam lanskap domain ini banyak negara kecil yang memanfaatkan domain tingkat atas yang unik. 

Misalnya kisah serupa di Tuvalu, yang bergantung pada domain .tv, atau Libya, di mana domain .ly menjadi populer untuk domain hacks. 

Ada juga Montenegro memanfaatkan .me untuk branding pribadi, sedangkan .co milik Kolombia semakin diminati sebagai alamat web yang fleksibel.

Saat Anguilla melangkah ke era baru ini, pulau ini berusaha menyeimbangkan peningkatan pendapatan dengan keberlanjutan jangka panjang. 

Pengalaman mereka adalah pengingat dunia digital dapat mengubah ekonomi dan menghadirkan peluang dan tantangan yang sangat menguntungkan jika dikelola dengan baik. 



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Hitungan Prabowo Soal Uang Kasus CPO Rp13,2 Triliun, Bisa Buat Apa Saja?

Presiden Prabowo Subianto melakukan perhitungan terkait uang kasus korupsi CPO Rp13,2 triliun yang ia sebut bisa digunakan untuk membangun desa ne ...

Renita Sukma . 20 October 2025

Polemik IKN Sebagai Ibu Kota Politik, Ini Kata Kemendagri dan Pengamat

Terminologi ibu kota politik yang melekat kepada IKN dianggap rancu karena bertentangan dengan UU IKN. r n r n

Renita Sukma . 18 October 2025

Dilema Kebijakan Rokok: Penerimaan Negara Vs Kesehatan Indonesia

Menkeu Purbaya ingin menggairahkan kembali industri rokok dengan mengerem cukai, sementara menteri sebelumnya Sri Mulyani gencar menaikkan cukai d ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 15 October 2025

Di Tengah Ketidakpastian Global, Emas Justru Terus Mengkilap

Meskipun secara historis dianggap sebagai aset lindung nilai paling aman, emas kerap ikut tertekan ketika terjadi aksi jual besar-besaran di pasar ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 13 October 2025