Share

Home Stories

Stories 10 Oktober 2024

Ilmuwan China Ciptakan Baterai Super untuk Eksplorasi di Mars

Para ilmuwan menciptakan baterai tahan banting dalam kondisi ekstrem khusus untuk meningkatkan keandalan dalam misi eksplorasi di Mars.

Eksplorasi Mars/NASA

Context.id, JAKARTA - Para ilmuwan dari Universitas Sains dan Teknologi China telah menciptakan sebuah terobosan yang menjanjikan untuk eksplorasi Mars; sebuah baterai ringan yang dapat diisi ulang, dirancang untuk beroperasi dengan memanfaatkan atmosfer planet merah. 

Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi untuk pengisian daya yang efisien, tetapi juga menunjukkan potensi untuk bertahan dalam kondisi ekstrem yang dihadapi saat berada di Mars.

Dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal Science Bulletin, tim peneliti menjelaskan baterai ini dapat "menghirup" gas-gas dari atmosfer Mars, seperti karbon dioksida dan oksigen lalu menjadikannya bahan bakar. 

Ini memberikan kemampuan unik untuk melakukan pengisian daya sekunder dengan menggunakan sumber energi surya dan nuklir. Menariknya, baterai ini dapat bertahan lebih dari 1.350 jam hampir dua bulan di Mars pada suhu nol derajat celsius.

Dalam konteks eksplorasi Mars inovasi ini sangat bermanfaat karena dapat mengimbangi suhu planet tersebut yang sangat fluktuatif dan dapat mencapai 60 derajat baik siang maupun malam. 



Xiao Xu, peneliti pascadoktoral di Hefei mangatakan timnya telah merancang baterai ini untuk dapat beroperasi di bawah kondisi yang sangat ekstrem, memastikan kinerjanya tetap optimal meskipun menghadapi perubahan suhu yang drastis.

Xiao menjelaskan bahwa teknologi baterai ini bekerja mirip dengan sel bahan bakar, di mana reaksi kimia dari sumber energi digunakan untuk menghasilkan listrik. 

“Sama seperti sel bahan bakar hidrogen-oksigen, baterai Mars ini memanfaatkan gas dari atmosfer sebagai bahan bakar untuk menciptakan energi listrik di lokasi,” tuturnya seperti dilansir dari SCMP, Kamis (10/10)

Keunggulan lainnya adalah pengurangan kebutuhan untuk mengangkut bahan bakar dari Bumi, yang selama ini menjadi tantangan signifikan bagi misi luar angkasa. 

“Ini berarti bobot baterai dapat dikurangi secara drastis, sehingga memberikan efisiensi lebih dalam misi eksplorasi,” tambah Xiao.

Namun, peneliti juga mengakui tantangan yang dihadapi wahana penjelajah Mars milik China, Zhurong, yang saat ini sedang hibernasi akibat penumpukan debu yang membatasi kemampuan panel surya untuk menangkap sinar matahari. 

Dalam hal ini, Xiao menekankan penumpukan debu tidak akan menjadi faktor pembatas bagi baterai baru ini. “Baterai ini dirancang untuk menjadi alternatif, bukan pengganti. Kami berharap dapat memberikan opsi tambahan untuk sistem tenaga yang ada,” jelasnya.

Saat ini, sebagian besar penjelajah dan peralatan eksplorasi di Mars menggunakan kombinasi baterai lithium-ion, panel surya, dan energi nuklir. Melalui inovasi terbaru ini para peneliti berharap untuk mengembangkan lebih lanjut baterai yang lebih solid. 

Ini untuk dapat mengatasi masalah penguapan elektrolit pada tekanan rendah, serta mendukung sistem manajemen termal yang diperlukan untuk beroperasi di lingkungan Mars.

Xiao dan timnya berharap inovasi ini dapat menjadi dasar untuk sistem multi-energi yang lebih efisien, membuka jalan bagi eksplorasi luar angkasa yang lebih berkelanjutan di masa depan. 



Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Wahyu Arifin

Home Stories

Stories 10 Oktober 2024

Ilmuwan China Ciptakan Baterai Super untuk Eksplorasi di Mars

Para ilmuwan menciptakan baterai tahan banting dalam kondisi ekstrem khusus untuk meningkatkan keandalan dalam misi eksplorasi di Mars.

Eksplorasi Mars/NASA

Context.id, JAKARTA - Para ilmuwan dari Universitas Sains dan Teknologi China telah menciptakan sebuah terobosan yang menjanjikan untuk eksplorasi Mars; sebuah baterai ringan yang dapat diisi ulang, dirancang untuk beroperasi dengan memanfaatkan atmosfer planet merah. 

Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi untuk pengisian daya yang efisien, tetapi juga menunjukkan potensi untuk bertahan dalam kondisi ekstrem yang dihadapi saat berada di Mars.

Dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal Science Bulletin, tim peneliti menjelaskan baterai ini dapat "menghirup" gas-gas dari atmosfer Mars, seperti karbon dioksida dan oksigen lalu menjadikannya bahan bakar. 

Ini memberikan kemampuan unik untuk melakukan pengisian daya sekunder dengan menggunakan sumber energi surya dan nuklir. Menariknya, baterai ini dapat bertahan lebih dari 1.350 jam hampir dua bulan di Mars pada suhu nol derajat celsius.

Dalam konteks eksplorasi Mars inovasi ini sangat bermanfaat karena dapat mengimbangi suhu planet tersebut yang sangat fluktuatif dan dapat mencapai 60 derajat baik siang maupun malam. 



Xiao Xu, peneliti pascadoktoral di Hefei mangatakan timnya telah merancang baterai ini untuk dapat beroperasi di bawah kondisi yang sangat ekstrem, memastikan kinerjanya tetap optimal meskipun menghadapi perubahan suhu yang drastis.

Xiao menjelaskan bahwa teknologi baterai ini bekerja mirip dengan sel bahan bakar, di mana reaksi kimia dari sumber energi digunakan untuk menghasilkan listrik. 

“Sama seperti sel bahan bakar hidrogen-oksigen, baterai Mars ini memanfaatkan gas dari atmosfer sebagai bahan bakar untuk menciptakan energi listrik di lokasi,” tuturnya seperti dilansir dari SCMP, Kamis (10/10)

Keunggulan lainnya adalah pengurangan kebutuhan untuk mengangkut bahan bakar dari Bumi, yang selama ini menjadi tantangan signifikan bagi misi luar angkasa. 

“Ini berarti bobot baterai dapat dikurangi secara drastis, sehingga memberikan efisiensi lebih dalam misi eksplorasi,” tambah Xiao.

Namun, peneliti juga mengakui tantangan yang dihadapi wahana penjelajah Mars milik China, Zhurong, yang saat ini sedang hibernasi akibat penumpukan debu yang membatasi kemampuan panel surya untuk menangkap sinar matahari. 

Dalam hal ini, Xiao menekankan penumpukan debu tidak akan menjadi faktor pembatas bagi baterai baru ini. “Baterai ini dirancang untuk menjadi alternatif, bukan pengganti. Kami berharap dapat memberikan opsi tambahan untuk sistem tenaga yang ada,” jelasnya.

Saat ini, sebagian besar penjelajah dan peralatan eksplorasi di Mars menggunakan kombinasi baterai lithium-ion, panel surya, dan energi nuklir. Melalui inovasi terbaru ini para peneliti berharap untuk mengembangkan lebih lanjut baterai yang lebih solid. 

Ini untuk dapat mengatasi masalah penguapan elektrolit pada tekanan rendah, serta mendukung sistem manajemen termal yang diperlukan untuk beroperasi di lingkungan Mars.

Xiao dan timnya berharap inovasi ini dapat menjadi dasar untuk sistem multi-energi yang lebih efisien, membuka jalan bagi eksplorasi luar angkasa yang lebih berkelanjutan di masa depan. 



Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bank Digital Bantu Gen Z Menabung atau Justru Makin Boros?

Bank digital mempermudah transaksi, tapi tanpa disiplin finansial, kemudahan itu bisa jadi jebakan konsumtif.

Renita Sukma . 30 March 2025

Darah Buatan: Berapa Lama Lagi Terwujud?

Di lab canggih dari Inggris hingga Jepang, para ilmuwan berupaya menciptakan yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah darah buatan. r n

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Negara Penghasil Kurma Terbesar di Dunia dan Kontroversi di Baliknya

Kurma tumbuh subur di wilayah beriklim panas dengan musim kering yang panjang sehingga banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika Utara

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Push-up Ternyata Bisa Mempengaruhi Hidup Pegiatnya

Push-up lebih dari sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membangun disiplin dan kepercayaan diri

Noviarizal Fernandez . 24 March 2025