Share

Home Stories

Stories 25 April 2024

Fragmen Virus Flu Burung dalam Susu Pasteurisasi, Apakah Berbahaya?

Hasil pengetesan beberapa sampel susu pasteurisasi ditemukan sisa-sisa fragmen virus Flu Burung yang telah menginfeksi sapi perah

Ilustrasi susu/istimewa

Context.id, JAKARTA - Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA mengatakan jika mereka menemukan jejak virus Flu Burung dalam susu pasteurisasi.

Melansir VoA, FDA menyatakan pada Selasa (22/4) bahwa hasil pengetesan beberapa sampel susu pasteurisasi dengan reaksi berantai polimerase (PCR) menemukan sisa-sisa fragmen virus Flu Burung yang telah menginfeksi sapi perah di Amerika Serikat.

Namun, FDA menegaskan jika fragmen virus Flu Burung yang ditemukan dalam sampel susu tersebut tidak sama dengan fragmen virus menular dan juga tidak menimbulkan peningkatan risiko bagi kesehatan manusia.

“Tidak mewakili virus aktual yang mungkin berisiko bagi konsumen.” kata FDA, seperti dikutip Context, Kamis (25/4).

Berdasarkan informasi FDA, proses pasteurisasi ini kemungkinan dapat menonaktifkan perkembangan virus dalam susu, namun prosesnya tidak untuk menghilangkan keberadaan dari partikel virus tersebut.



Adapun kekhawatiran FDA ini datang setelah virus Flu Burung dengan nama ilmiah H5NI ini kembali terdeteksi pada sapi perah awal tahun ini di Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara bagian.

Pasalnya virus ini dikabarkan telah membuat jutaan burung liar dan komersial sakit dan terpaksa harus musnahkan.

Tak hanya itu, data dari Departemen Pertanian AS juga menunjukan jika sebanyak hampir 33 kawanan sapi perah telah terinfeksi virus Flu Burung.

Kendati demikian, USDA dan FDA tetap menegaskan jika temuan fragmen pada susu pasteurisasi ini tidak akan mengubah penilaian jika produksi susu komersial tetap dalam kategori aman.

“Sampai saat ini, kami tidak melihat apa pun yang akan mengubah penilaian kami bahwa pasokan susu komersial aman, dan mengharapkan hasil baru dari beberapa penelitian dalam beberapa hari hingga minggu ke depan.” kata FDA, seperti dikutip, (25/4).

Pasalnya hampir semua pasokan susu yang diproduksi di peternakan sapi perah di Amerika berasal dari peternakan dengan program susu Grade A dan sesuai dengan standar Organisasi Susu Pasteurisasi (PMO) Amerika Serikat.

“Pasokan susu komersial yang diproduksi di peternakan AS berasal dari peternakan yang telah berpartisipasi dalam program susu Grade A dan mengikuti Ordonansi Susu Pasteurisasi (PMO) yang mencakup kontrol dan memastikan keamanan produk susu mulai dari proses produksi hingga sampai ke konsumen,” kata FDA, seperti dikutip, (25/4).

Selaras dengan FDA, Seorang ahli mikrobiologi dan ahli virus di North Carolina State University Lee-Ann Jaykus juga menyatakan jika tes laboratorium memang akan mendeteksi virus bahkan setelah mereka dibunuh oleh proses pasteurisasi.

Namun, dia menekankan jika fragmen yang ditemukan dalam susu pasteurisasi sudah tidak lagi dapat menyebarkan virus ke spesies lain.

“Tidak ada bukti hingga saat ini bahwa ini adalah virus menular H5N1 dan FDA sedang menindaklanjutinya,” kata Jaykus  seperti dikutip, (25/4).

Lalu apa itu susu pasteurisasi? 

Pasteurisasi adalah metode sterilisasi susu dengan cara memanaskan susu dengan suhu yang rendah. Metode ini ditemukan pada tahun 1865 oleh seorang Prancis bernama Pasteur.

Susu pasteurisasi disterilkan dengan pemanasan pada suhu 72-85 derajat Celcius selama 10-15 detik.

Tujuannya untuk mengurangi jumlah organisme yang bisa menjadi penyebab penyakit dan memperlambat pertumbuhan mikroba susu. 

Meski begitu, susu pasteurisasi harus segera diminum, karena tidak bertahan lama dan perlu disimpan dalam lemari es agar bisa digunakan dalam waktu lama.

Susu pasteurisasi tidak melalui proses pemanasan dengan suhu tinggi seperti susu UHT, sehingga kandungan gizi dalam susu pasteurisasi tidak banyak berubah.

Hal ini membuat susu pasteurisasi memiliki tekstur yang lebih kental dan rasa yang lebih kuat dibandingkan rasa susu yang lain. 

Penulis: Candra Sumirat



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Home Stories

Stories 25 April 2024

Fragmen Virus Flu Burung dalam Susu Pasteurisasi, Apakah Berbahaya?

Hasil pengetesan beberapa sampel susu pasteurisasi ditemukan sisa-sisa fragmen virus Flu Burung yang telah menginfeksi sapi perah

Ilustrasi susu/istimewa

Context.id, JAKARTA - Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA mengatakan jika mereka menemukan jejak virus Flu Burung dalam susu pasteurisasi.

Melansir VoA, FDA menyatakan pada Selasa (22/4) bahwa hasil pengetesan beberapa sampel susu pasteurisasi dengan reaksi berantai polimerase (PCR) menemukan sisa-sisa fragmen virus Flu Burung yang telah menginfeksi sapi perah di Amerika Serikat.

Namun, FDA menegaskan jika fragmen virus Flu Burung yang ditemukan dalam sampel susu tersebut tidak sama dengan fragmen virus menular dan juga tidak menimbulkan peningkatan risiko bagi kesehatan manusia.

“Tidak mewakili virus aktual yang mungkin berisiko bagi konsumen.” kata FDA, seperti dikutip Context, Kamis (25/4).

Berdasarkan informasi FDA, proses pasteurisasi ini kemungkinan dapat menonaktifkan perkembangan virus dalam susu, namun prosesnya tidak untuk menghilangkan keberadaan dari partikel virus tersebut.



Adapun kekhawatiran FDA ini datang setelah virus Flu Burung dengan nama ilmiah H5NI ini kembali terdeteksi pada sapi perah awal tahun ini di Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara bagian.

Pasalnya virus ini dikabarkan telah membuat jutaan burung liar dan komersial sakit dan terpaksa harus musnahkan.

Tak hanya itu, data dari Departemen Pertanian AS juga menunjukan jika sebanyak hampir 33 kawanan sapi perah telah terinfeksi virus Flu Burung.

Kendati demikian, USDA dan FDA tetap menegaskan jika temuan fragmen pada susu pasteurisasi ini tidak akan mengubah penilaian jika produksi susu komersial tetap dalam kategori aman.

“Sampai saat ini, kami tidak melihat apa pun yang akan mengubah penilaian kami bahwa pasokan susu komersial aman, dan mengharapkan hasil baru dari beberapa penelitian dalam beberapa hari hingga minggu ke depan.” kata FDA, seperti dikutip, (25/4).

Pasalnya hampir semua pasokan susu yang diproduksi di peternakan sapi perah di Amerika berasal dari peternakan dengan program susu Grade A dan sesuai dengan standar Organisasi Susu Pasteurisasi (PMO) Amerika Serikat.

“Pasokan susu komersial yang diproduksi di peternakan AS berasal dari peternakan yang telah berpartisipasi dalam program susu Grade A dan mengikuti Ordonansi Susu Pasteurisasi (PMO) yang mencakup kontrol dan memastikan keamanan produk susu mulai dari proses produksi hingga sampai ke konsumen,” kata FDA, seperti dikutip, (25/4).

Selaras dengan FDA, Seorang ahli mikrobiologi dan ahli virus di North Carolina State University Lee-Ann Jaykus juga menyatakan jika tes laboratorium memang akan mendeteksi virus bahkan setelah mereka dibunuh oleh proses pasteurisasi.

Namun, dia menekankan jika fragmen yang ditemukan dalam susu pasteurisasi sudah tidak lagi dapat menyebarkan virus ke spesies lain.

“Tidak ada bukti hingga saat ini bahwa ini adalah virus menular H5N1 dan FDA sedang menindaklanjutinya,” kata Jaykus  seperti dikutip, (25/4).

Lalu apa itu susu pasteurisasi? 

Pasteurisasi adalah metode sterilisasi susu dengan cara memanaskan susu dengan suhu yang rendah. Metode ini ditemukan pada tahun 1865 oleh seorang Prancis bernama Pasteur.

Susu pasteurisasi disterilkan dengan pemanasan pada suhu 72-85 derajat Celcius selama 10-15 detik.

Tujuannya untuk mengurangi jumlah organisme yang bisa menjadi penyebab penyakit dan memperlambat pertumbuhan mikroba susu. 

Meski begitu, susu pasteurisasi harus segera diminum, karena tidak bertahan lama dan perlu disimpan dalam lemari es agar bisa digunakan dalam waktu lama.

Susu pasteurisasi tidak melalui proses pemanasan dengan suhu tinggi seperti susu UHT, sehingga kandungan gizi dalam susu pasteurisasi tidak banyak berubah.

Hal ini membuat susu pasteurisasi memiliki tekstur yang lebih kental dan rasa yang lebih kuat dibandingkan rasa susu yang lain. 

Penulis: Candra Sumirat



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bank Digital Bantu Gen Z Menabung atau Justru Makin Boros?

Bank digital mempermudah transaksi, tapi tanpa disiplin finansial, kemudahan itu bisa jadi jebakan konsumtif.

Renita Sukma . 30 March 2025

Darah Buatan: Berapa Lama Lagi Terwujud?

Di lab canggih dari Inggris hingga Jepang, para ilmuwan berupaya menciptakan yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah darah buatan. r n

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Negara Penghasil Kurma Terbesar di Dunia dan Kontroversi di Baliknya

Kurma tumbuh subur di wilayah beriklim panas dengan musim kering yang panjang sehingga banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika Utara

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Push-up Ternyata Bisa Mempengaruhi Hidup Pegiatnya

Push-up lebih dari sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membangun disiplin dan kepercayaan diri

Noviarizal Fernandez . 24 March 2025