Stories - 16 August 2022

Kenapa Proklamasi Dibacakan di Pegangsaan Timur 56?

Tadinya, pembacaan proklamasi diusulkan untuk dilakukan di Lapangan Ikada, namun Soekarno meminta untuk dilakukan di Pegangsaan Timur 56.


Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. - Puspa Larasati -

Context, JAKARTA - Seperti yang kita tahu, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 diselenggarakan di kediaman Soekarno yang berada di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Namun, sebelumnya proklamasi kemerdekaan sempat direncanakan untuk dibacakan di tempat lainnya, yaitu Lapangan Ikada.


Detik-Detik Proklamasi

Pada masa kemerdekaan, sekitar tahun 1945, teknologi komunikasi dan informasi tidak lah secanggih seperti masa sekarang. Pada tanggal 14 Agustus 1945, setelah dibom atom dua kali oleh pasukan sekutu (Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Jepang Hirohito akhirnya menyerah tanpa syarat kepada pasukan sekutu.

Di waktu yang bersamaan, kabar itu belum sampai ke telinga para pejuang dan masyarakat Indonesia. Bahkan, Soekarno yang dianggap sebagai “pemimpin” perjuangan pada saat itu saja belum mengetahui kabar tersebut. Ia hanya mengetahui bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dari kunjungannya bersama Hatta dan Dr. Radjiman ke Saigon, Vietnam untuk bertemu dengan pimpinan Jepang, Terauchi.

Sehari kemudian pada 15 Agustus 1945, kabar simpang siur mengenai menyerahnya Jepang kepada sekutu mulai terdengar. Untuk memastikan kebenaran berita tersebut, Soekarno dan Hatta mendatangi kantor Yamamoto di Gunseikanbu, Kantor Pusat Administrasi Militer Jepang (sekarang kantor Pertamina).

Sayangnya, kantor tersebut kosong. Hingga akhirnya, Ahmad Subardjo yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Riset Angkatan Laut Jepang mengusulkan untuk menemui Laksamana Maeda. Dari Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang ini lah Soekarno diyakini kalau Jepang benar-benar sudah menyerah.


Kenapa Dilaksanakan pada 17 Agustus 1945?

Sebelum diproklamirkan, sempat ada perbedaan pendapat yang cukup besar antara golongan muda dan golongan tua. Di satu sisi, golongan muda ingin proklamasi lebih cepat dibacakan, sedangkan golongan tua masih ingin bersabar hingga menunggu momen yang tepat.

Sampai akhirnya, Chaerul Saleh dan beberapa pemuda lainnya dengan mengenakan seragam Pembela Tanah Air (PETA), menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. 

Seharian di sana, mereka berdiskusi dan berdebat mengenai waktu pelaksanaan proklamasi. Tapi, tujuan utama dari para pemuda tersebut adalah untuk menekan Soekarno dan Hatta agar memproklamasikan kemerdekaan lebih cepat tanpa ada kaitannya dengan Jepang.

Perdebatan panas pun terjadi, sampai akhirnya situasi sudah agak tenang, barulah Soekarno menjelaskan kepada pemuda. “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” ujarnya dengan tenang dikutip dari laman Setneg.

Setelah ditanya oleh salah satu tokoh pemuda, Sukarni mengenai pemilihan tanggal 17, Soekarno kembali menjelaskan bahwa sebagai seseorang yang percaya kepada ‘mistik’, ia merasa bahwa 17 Agustus adalah tanggal yang baik.

Pasalnya, 17 adalah angka suci, sebab pada saat itu tanggal 17 Agustus akan jatuh di hari Jumat Bulan Ramadhan. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa Al-Quran diturunkan pada tanggal 17, umat Islam sholat 17 rakaat, dan karena saat itu adalah Jumat Legi, maka ia menyebutkan bahwa saat itu adalah Jumat yang berbahagia.

Sampai akhirnya, pada sekitar pukul 18:00 sore Ahmad Subardjo mendatangi tempat persembunyian pemuda di Rengasdengklok dan membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta untuk membahas persiapan kemerdekaan 


Sempat akan Diproklamasikan di Lapangan Ikada

Setelah kembali ke Jakarta, semalaman Soekarno, Hatta, dan tokoh kemerdekaan lainnya berkumpul di rumah Laksamana Muda Maeda. Di sana, mereka merumuskan naskah proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya.

Nah, pertanyaannya, di manakah naskah proklamasi itu akan dibacakan? 

Setelah naskah proklamasi tersebut disetujui oleh tokoh-tokoh yang hadir dan ditandatangani oleh Soekarno-Hatta, Sukarni mengusulkan agar teks proklamasi dibacakan di Lapangan Ikada (sekarang Monas). Selain itu, Sukarni ternyata juga telah mengedarkan informasi kepada masyarakat agar berkumpul di Lapangan Ikada untuk mendengarkan pembacaan teks proklamasi.

Namun, berbeda pendapat dengan Sukarni, Soekarno ternyata tidak setuju jika proklamasi dibacakan di Lapangan Ikada. Menurutnya, dengan masih di bawah penguasaan militer Jepang dan tanpa adanya persiapan yang matang, akan menimbulkan kesalahpahaman dan bisa saja memicu bentrokan antara militer Jepang dan rakyat yang hadir.

Sebelumnya, tidak lama setelah tiba di kediaman Laksamana Maeda, petinggi militer Jepang tersebut juga sempat mengimbau Soekarno untuk mencegah terjadinya pemberontakan. Karena saat itu memang kondisi di Jakarta belum lah kondusif, bentrokan antara pejuang Indonesia dengan militer Jepang masih terjadi.

Karena itu, Soekarno mengusulkan kepada para tokoh kemerdekaan agar pembacaan proklamasi dilakukan di kediamannya yang ada di Pegangsaan Timur 56. "Lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya, Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden." ujar Soekarno dikutip Tempo.

Diskusi mengenai pembacaan proklamasi tersebut berlangsung hingga pukul 03:00 pagi 17 Agustus 1945. Sedangkan pembacaan proklamasi akan dilakukan pada sekitar pukul 10:00 di hari yang sama. "Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 pukul 10.00 pagi," kata Soekarno.

Pada akhirnya, Proklamasi tersebut dibacakan oleh Soekarno yang sedang sakit malaria di pekarangan rumahnya. Saat itu, pembacaan proklamasi disaksikan oleh rakyat yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Sebab, sebelumnya sudah beredar kabar bahwa proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada.

Peristiwa besar yang mengubah nasib bangsa Indonesia ini berlangsung hanya dalam waktu satu jam, dengan sederhana, namun khidmat. 


Rumah Pegangsaan Timur Sudah Tidak Ada

Saat ini, rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 yang jadi saksi sejarah itu sudah tidak ada. Jalannya diubah menjadi Jalan Proklamasi Nomor 56. Sedangkan rumah yang sempat jadi tempat tinggal Soekarno itu sudah diubah menjadi Taman Proklamasi.

Pembongkaran rumah itu diperintahkan oleh Soekarno sendiri. Hal ini sangat menimbulkan pertanyaan bagi para sejarawan. Pasalnya, Soekarno terkenal sebagai orang yang sangat menghargai sejarah.

Sekarang, di sekitar bekas rumah Soekarno tersebut sudah dibangun tiga situs bersejarah, yaitu Tugu Ibu, Tugu Proklamasi atau Tugu Petir, dan Monumen Proklamator Soekarno-Hatta.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Miliarder Beli Klub Eropa, Ada Pengaruh ke Sepak Bola Indonesia?

Deretan pengusaha kakap Tanah Air miliki saham mayoritas di klub-klub sepak bola luar negeri

Noviarizal Fernandez | 17-05-2024

Polemik Pernikahan Massal 100 Anak Perempuan di Nigeria

Pendidikan lebih prioritas bagi anak-anak perempuan dibandingkan memaksanya untuk melakukan pernikahan

Context.id | 17-05-2024

Reimajinasi Baru Museum dan Cagar Budaya Menjadi Ruang Belajar Inklusif.

Kemdikbudristek meluncurkan Indonesian Heritage Agency atau IHA untuk memberikan citra baru bagi museum dan situs budaya nasional.

Context.id | 17-05-2024

Cerita Petani Kopi Binaan Starbucks, Kualitas Makin Baik Untung Kian Tebal

Starbucks FSC berkomitmen membantu para petani lokal dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam

Ririn oktaviani | 17-05-2024