Stories - 27 July 2022

Akhir Kerja Sama Rusia dan AS di Luar Angkasa

Konflik berkepanjangan dengan AS membuat Rusia berencana untuk menarik diri dari proyek Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) setelah 2024.


Penampakan Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS). -SpaceNews-

Context, JAKARTA - Konflik antara Rusia dan Amerika Serikat yang terjadi di bumi, ternyata juga berpengaruh kepada hubungan dua negara tersebut di luar angkasa. Konflik yang berkepanjangan tersebut membuat Rusia berencana untuk menarik diri dari proyek Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) setelah 2024.

Kepala badan antariksa Rusia (Roscosmos) yang baru diangkat, Yuri Borisov mengatakan bahwa dengan penarikan diri tersebut, Rusia akan lebih fokus kepada pengembangan stasiun luar angkasanya sendiri. 

“Kami akan memenuhi semua kewajiban kami kepada mitra kami, tetapi kami juga telah membuat keputusan untuk meninggalkan stasiun ini setelah 2024,” ujar Yuri saat mengadakan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dilansir dari The Washington Post, sebenarnya pihak Rusia telah melakukan pembahasan tentang penarikan diri mereka dari proyek ISS sejak 2021. Pada saat itu, pertimbangannya adalah keselamatan para kosmonot Rusia. Pasalnya, alat-alat yang ada di ISS terbilang sudah menua.

Tetapi, konflik antara Rusia dan Amerika Serikat yang semakin memanas karena invasi militer Rusia di Ukraina dan rentetan sanksi ekonomi yang diterima Rusia membuat keputusan untuk menarik diri dari ISS dibuat lebih cepat. 

Menurut Kepala Roscosmos sebelumnya, Dmitry Rogozin, pembahasan untuk tetap ikut dalam proyek ISS hanya bisa dilakukan kembali jika AS mencabut sanksi industri luar angkasa dan sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Rusia.


Pentingnya Rusia dalam Proyek ISS

Penarikan diri Rusia dari proyek ISS ini sebenarnya akan merugikan ISS dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, tak terkecuali Amerika Serikat. Pasalnya, dalam proyek ini Rusia bertanggung jawab akan sistem kontrol propulsi kritis ISS. Sistem ini telah menjaga ISS untuk tetap pada jalur orbit selama gravitasi Bumi menariknya ke dalam atmosfer.  Sedangkan AS bertanggung jawab pada sumber daya ISS. 

Dua bagian dari stasiun luar angkasa yang dijalankan oleh NASA dan ISS ini saling bergantung satu sama lain. Sehingga, hilangnya satu bagian tersebut akan berdampak buruk bagi proyek ini. Lebih parahnya lagi, Rogozin mengatakan jika penarikan diri Rusia bisa menyebabkan stasiun luar angkasa tersebut terjatuh.

“Ada kemungkinan struktur seberat 500 ton jatuh di India dan China. Apakah Anda ingin mengancam mereka dengan harapan seperti itu? ISS tidak terbang di atas Rusia, oleh karena itu semua risiko ada di tangan Anda. Apakah Anda siap untuk mereka?" ujar Rogozin saat berdebat dengan pendiri SpaceX, Elon Musk.


Tanggapan NASA

Ancaman Rusia untuk menarik diri dari proyek ISS ini dikecam oleh NASA. Alasannya, Rusia dianggap telah memanfaatkan proyek ini untuk kepentingan politik mereka. Terutama agar Amerika Serikat mencabut berbagai sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia. 

“NASA dengan keras menegur (Rusia) menggunakan Stasiun Luar Angkasa Internasional untuk tujuan politik dalam mendukung perangnya melawan Ukraina, yang pada dasarnya tidak konsisten dengan fungsi utama stasiun tersebut di antara 15 negara peserta internasional untuk memajukan ilmu pengetahuan dan mengembangkan teknologi untuk tujuan yang damai,” kata NASA.

Selain itu, NASA juga mengatakan kecamannya terhadap aksi bendera yang dilakukan oleh 3 kosmonot Rusia. Dilansir dari Tempo, dilaporkan 3 kosmonot Rusia telah melakukan aksi kontroversial dengan mengibarkan bendera Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk. Dua negara tersebut adalah dua wilayah pro-Rusia di Ukraina yang dimerdekakan oleh Putin saat Rusia melancarkan invasi ke Ukraina. 

Terlepas dari segala kecaman yang dikeluarkan oleh NASA terhadap aksi Rusia, selama ini NASA tetap menjaga profesionalitas antar negara yang berpartisipasi dalam proyek ISS. NASA juga sangat menghindari terjadinya konflik yang menyebabkan terganggunya kemitraan di proyek ISS.


Berkonflik di Bumi, Namun Damai di Luar Angkasa

Bahkan, saat ini bisa dibilang kalau luar angkasa adalah satu-satunya tempat yang masih bisa menjadi harapan untuk terciptanya kerja sama antara Rusia dan negara-negara barat. Dilansir dari The Guardian, selama perang di Ukraina terjadi, kerja sama Rusia dengan Amerika Serikat dan Barat sudah beberapa kali terjadi.

Pada bulan ini, Juli 2022, Roscosmos dan NASA telah menandatangani kesepakatan yang membuat para kosmonot NASA bisa mengendarai roket buatan Roscosmos Rusia. Selain itu, kesepakatan tersebut juga membuat kosmonot Rusia untuk bisa mengendarai roket SpaceX (Perusahaan Swasta AS) untuk pergi ke ISS. 

Sebelumnya, pada Bulan Maret 2022, 2 orang kosmonot Rusia dan seorang kosmonot AS juga dilaporkan pernah bekerja sama dalam misi kembali ke Bumi. Saat itu, mereka bertiga menaiki kapsul yang sama dari ISS dan berhasil mendarat dengan selamat di Kazakhstan. 

Jika setelah 2024 nanti Roscosmos benar-benar akan menarik diri dari proyek ISS, artinya akan mengakhiri kerja sama antara Rusia dan Amerika Serikat yang sudah dijalin sejak tahun 1998. Kerja sama ini adalah salah satu kerja sama internasional pertama yang dilakukan Rusia dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, hubungan antara kedua negara tersebut sangat lah buruk pada masa Perang Dingin.

Kemudian, jika konflik yang terjadi di Bumi pada akhirnya menular ke luar angkasa, maka kemungkinan besar NASA akan membuat stasiun luar angkasa yang baru dengan melibatkan beberapa perusahaan swasta. 

Sementara itu, Roscosmos juga akan mengupayakan untuk membuat proyek stasiun luar angkasanya sendiri. Namun, Borisov mengatakan jika mereka harus memutar otak untuk proyek baru ini, karena mereka harus mengganti beberapa teknologi yang sebelumnya didapatkan dari barat. 


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Teknologi Digital dan Solusi Perubahan Iklim

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi atau meminimalisir dampak perubahan iklim

Context.id | 01-03-2024

Ketika Raksasa OTT Saling Klaim Istilah Local Pride

Platform over the top (OTT) konten video streaming saling bersaing menguasai pasar Indonesia, salah satunya dengan embel-embel konten lokal.

Noviarizal Fernandez | 01-03-2024

Tolak Usul Prancis, Anggota NATO Enggan Masuk Wilayah Ukraina

Usulan Presiden Prancis agar pasukan NATO memasuki wilayah Ukraina untuk ikut memerangi Rusia mendapat penolakan keras dari negara-negara anggota ...

Context.id | 29-02-2024

Kans Indonesia Gabung Klub Negara Maju

Indonesia masih punya waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan proses menjadi anggota OECD

Context.id | 29-02-2024