Stories - 12 July 2022

Film Thor: Love and Thunder Mengecewakan?

Film yang sangat dinanti-nantikan oleh penggemar MCU ini dianggap cukup mengecewakan. Kenapa?


Natalie Portman (kiri) dan Chris Hemsworth (kanan) dalam sebuah adegan dari Thor: Love and Thunder. -Marvel Studios-

Context, JAKARTA - Film Marvel Cinematic Universe (MCU) berjudul Thor: Love and Thunder sudah tayang di Indonesia sejak 6 Juli 2022, dan di Amerika Serikat 2 hari setelahnya. Namun, film yang sangat dinanti-nantikan oleh penggemar MCU ini dianggap cukup mengecewakan.

Seri ke-4 dari Thor ini kembali disutradarai oleh Taika Waititi, seorang sutradara yang dikenal selalu berhasil memasukan unsur komedi dalam setiap genre film. Kemudian, tokoh utama Thor juga kembali diperankan oleh aktor asal Australia, Chris Hemsworth. 

Dalam trailernya Thor digambarkan sebagai pribadi yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan Thor yang digambarkan pada beberapa film MCU sebelumnya.

"Saya rasa perubahan dalam karakter seperti Thor sangatlah mungkin. Karena dia sudah ada sejak lama, jadi ada waktu baginya untuk melalui fase berbeda. Kami sangat bangga dapat memberikan hal baru untuk karakter ini yang membuat penonton penasaran," kata Taika Waititi.

Pada film ini, Thor akan menghadapi supervillain yang baru, yaitu Gorr the God Butcher. Gorr yang diperankan oleh Christian Bale ini adalah penjahat super yang digambarkan sebagai pemburu para Dewa. 

Thor yang juga seorang Dewa menganggap Gorr adalah ancaman terbesar saat ini bagi alam semesta. Karena itu, ia ingin mengumpulkan para Dewa di seluruh alam semesta untuk berjuang bersama melawan Gorr. Dalam aksinya kali ini, Thor ditemani oleh Valkyrie (Tessa Thompson), Korg (Taika Waititi), dan Jane Foster sekaligus Mighty Thor (Natalie Portman).


Merajai Box Office di Pekan Pertama

Pada pekan pertama penayangan film Thor: Love and Thunder, film ini sukses mendapatkan US$143 juta atau sekitar Rp2,14 triliun dari penayangan di Amerika Serikat, dan US$302 juta atau sekitar Rp45,2 triliun dari penayangannya di seluruh dunia. Angka ini membuat film Thor seri ke-4 ini duduk di posisi pertama Box Office, menggeser film Minions: The Rise of Gru ke posisi kedua. 

Selain itu, pendapatan yang diraup oleh Thor: Love and Thunder ini juga menjadi rekor pendapatan franchise Thor terbesar pada pekan pertama penayangan. Film pertamanya Thor (2011) hanya mendapatkan US$65,7 juta di pekan pertama, kemudian Thor: The Dark World (2013) mendapatkan US$85,7 juta, dan film ketiganya Thor: Ragnarok (2017) berhasil meraup US$122,7 juta.

Antusias penonton dalam menyaksikan Thor: Love and Thunder di bioskop, dilihat dari pendapatan film di pekan pertamanya bisa dibilang sangat tinggi. Bagi mereka yang telah menonton, banyak dari mereka yang beranggapan jika film ini bagus, karena bisa mengaitkan unsur komedi dan situasi kelam dalam film.

Namun, tidak sedikit juga penggemar MCU yang merasa kecewa dengan Thor: Love and Thunder. Apa alasannya?


Terlalu Banyak Komedi

Selaku sutradara dari Thor: Love and Thunder, Taika Waititi memang kerap selalu memasukan unsur komedi di setiap genre film yang ia garap. Saat masuk ke MCU dalam film Thor: Ragnarok, ia berhasil membuat film tersebut menghibur dengan komedi-komedinya, meskipun menceritakan kehancuran Asgard, tempat tinggal Thor.

Karena keberhasilan tersebut, banyak penggemar MCU yang merasa Taika ingin menerapkan hal yang sama pada film Thor: Love and Thunder dengan memperbanyak unsur komedi. Namun sayangnya, usahanya tersebut dianggap kurang berhasil bagi banyak penggemar MCU. 

Pernyataan tentang terlalu banyaknya komedi yang kurang berguna ini dilontarkan oleh para penggemar MCU di media sosial Twitter. Salah satu yang mengungkapkan kekecewaannya adalah pemain American Football Darius Slayton.

“Aku cinta Thor, aku benar-benar cinta, tapi Marvel harus berhenti dengan percobaan komedi yang jelek pada film-filmnya,” Tulis Darius di akunnya dengan username @Young_Slay2.

Dalam satu jam pertamanya, film ini sudah diisi dengan rentetan komedi. Namun, usaha Taika Waititi dalam meningkatkan kuantitas komedi dibandingkan dengan kualitasnya dianggap sebagai usaha yang gagal bagi para penggemar MCU.

Selain komedi, ada faktor lain yang membuat banyak penggemar MCU kecewa, seperti penjelasan latar belakang yang terlalu singkat pada tokoh Gorr, Jane Foster, dan bahkan Guardian of the Galaxy, kemudian penerapan CGI yang tidak terlalu memukau, dan alur cerita yang melompat-lompat karena durasi film yang tidak begitu panjang.


Apakah akan Menjadi Film Thor Tersukses?

Film pertamanya, Thor (2011) disutradarai oleh Kenneth Branagh, dan film keduanya Thor: The Dark World (2013) disutradarai oleh Alan Taylor. Setelah penayangan film 2 seri film Thor berakhir, dilansir dari The Numbers jika pendapatan yang diraup film Thor pertama adalah US$449 juta dan Thor kedua mendapatkan US$644 juta.

Namun di film ketiganya, Thor: Ragnarok (2017), Thor berhasil meraup pendapatan sebesar US$850 juta, yang terbesar selama dalam franchise Thor selama ini. Setelah dipegang oleh Taika Waititi sejak film ketiganya, film dan karakter Thor memang berubah menjadi lebih menghibur dengan komedi-komedinya. Hal ini secara tidak langsung juga menarik semakin banyak penonton. 

Jika mengacu pada pekan pertama penayangan, film Thor: Love and Thunder bisa saja menjadi film Thor dengan pendapatan terbesar melampaui Thor: Ragnarok. Namun jika review buruk terhadap film ini terus bermunculan, bisa saja jumlah penonton akan stagnan selama penayangan film.

Jika pendapatan film ini gagal melampaui Thor: Ragnarok, hal ini sangat disayangkan. Karena biaya produksi dari Thor: Love and Thunder adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan 3 film sebelumnya, yaitu berkisar US$250 juta.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Sederet Menteri Jokowi yang Gemar Olahraga

Di tengah kesibukannya, menteri-menteri kabinet Jokowi nyatanya banyak gemar berolahraga juga

Ririn oktaviani | 23-02-2024

Pendiri WikiLeaks Julian Assange akan Diekstradisi?

Pemerintah AS dan juga warga dunia menunggu langkah selanjutnya Pemerintah Inggris, apakah akan mengekstradisi Julian Assange atau tidak.

Context.id | 23-02-2024

Tuntut Perbaikan Upah, Dokter di Korsel Mogok Kerja

Unjuk rasa ini menjadi salah satu aksi mogok kerja terbesar dalam sejarah Korea Selatan. Negeri Gingseng ini sering diwarnai unjuk rasa gerakan ...

Context.id | 23-02-2024

Pemerintah Adakan Program Doktor Terapan di Perguruan Tinggi Vokasi

Program doktor terapan membuat pendidikan vokasi mempunyai jenjang pendidikan yang lengkap, mulai dari diploma, sarjana, magister hingga doktor.

Context.id | 22-02-2024