Share

Home Stories

Stories 10 Desember 2024

Ilmuwan Kembangkan Baterai Berlian Berdurasi hingga 5.000 Tahun

Baterai berlian karbon-14 diklaim bisa menawarkan solusi energi abadi hingga ribuan tahun

Ilustrasi baterai berlian/Lowyat.net

Context.id, JAKARTA – Ilmuwan dari Otoritas Energi Atom Inggris (UKAEA) dan Universitas Bristol berhasil mengembangkan baterai berlian karbon-14 yang mampu bertahan hingga ribuan tahun. 

Teknologi inovatif ini memanfaatkan peluruhan radioaktif karbon-14 untuk menghasilkan energi yang stabil dan berkelanjutan, menawarkan potensi besar untuk digunakan di banyak bidang, sebagaimana dilaporkan oleh The Telegraph.  
  
Baterai berlian ini dibuat dengan membungkus karbon-14, sebuah isotop radioaktif dalam struktur berlian sintetis. 

Proses ini mengubah elektron yang dipancarkan dari peluruhan karbon-14 menjadi listrik melalui efek betavoltaik. 

Struktur berlian tidak hanya menghasilkan listrik tetapi juga berfungsi sebagai pelindung dari kebocoran radiasi.  

Baterai ini berukuran kecil, setara dengan baterai jam tangan konvensional dengan diameter 10 mm dan ketebalan 0,5 mm. 



Melansir Newsweek, teknologi ini memberikan daya dalam kisaran mikrowatt, membuatnya cocok untuk perangkat yang memerlukan daya rendah namun tahan lama.  

Keunggulan dalam dunia medis  
Baterai berlian memiliki potensi besar dalam dunia medis karena kekuatannya diklaim bisa mencapai 5.730 tahun. 

Artinya baterai ini dapat menyediakan energi selama ribuan tahun tanpa penggantian. Alat-alat pacu jantung, alat bantu dengar, dan perangkat medis implan lainnya menjadi target utama teknologi ini.  

Pasien tidak perlu menjalani operasi penggantian baterai seumur hidup mereka, yang secara signifikan menyederhanakan hidup mereka dan mengurangi stres. 

Profesor Tom Scott dari Universitas Bristol juga menyoroti potensi teknologi ini  untuk digunakan di banyak bidang.   

"Teknologi daya mikro kami mendukung berbagai aplikasi penting, dari eksplorasi luar angkasa hingga perangkat keamanan dan implan medis," katanya seperti dikutip dari The Telegraph.  

Untuk misi luar angkasa atau ekplorasi laut dalam sumber tenaga yang tahan lama merupakan kunci keberhasilan misi karena sangat sulit untuk mengganti baterai di tengah-tengah misi. 

Artinya baterai berlian dapat menjaga perangkat tetap berjalan selama bertahun-tahun tanpa perawatan.  

"Baterai berlian akan merevolusi industri energi. Kita bisa menggunakannya di satelit kecil, chip komputer, dan jam tangan kendali jarak jauh," ungkap Fatimah Sannie, insinyur proses senior di UKAEA yang terlibat dalam proyek tersebut.  

Solusi pengelolaan limbah nuklir  
Selain keunggulan teknis, baterai ini juga menawarkan solusi dalam pengelolaan limbah nuklir. 

Karbon-14 yang digunakan diekstraksi dari blok grafit, limbah yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir. 

Proses ini mengurangi radioaktivitas bahan limbah, sehingga mengurangi biaya dan tantangan penyimpanan limbah nuklir yang aman.  

Menggunakan limbah grafit untuk menciptakan sumber energi berarti dapat mengurangi ancaman limbah radioaktif secara signifikan

Meski menjanjikan, proyek ini masih dalam tahap pengembangan. Tim ilmuwan terus bekerja untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi daya baterai ini agar bisa diaplikasikan secara luas di berbagai industri.  



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Stories 10 Desember 2024

Ilmuwan Kembangkan Baterai Berlian Berdurasi hingga 5.000 Tahun

Baterai berlian karbon-14 diklaim bisa menawarkan solusi energi abadi hingga ribuan tahun

Ilustrasi baterai berlian/Lowyat.net

Context.id, JAKARTA – Ilmuwan dari Otoritas Energi Atom Inggris (UKAEA) dan Universitas Bristol berhasil mengembangkan baterai berlian karbon-14 yang mampu bertahan hingga ribuan tahun. 

Teknologi inovatif ini memanfaatkan peluruhan radioaktif karbon-14 untuk menghasilkan energi yang stabil dan berkelanjutan, menawarkan potensi besar untuk digunakan di banyak bidang, sebagaimana dilaporkan oleh The Telegraph.  
  
Baterai berlian ini dibuat dengan membungkus karbon-14, sebuah isotop radioaktif dalam struktur berlian sintetis. 

Proses ini mengubah elektron yang dipancarkan dari peluruhan karbon-14 menjadi listrik melalui efek betavoltaik. 

Struktur berlian tidak hanya menghasilkan listrik tetapi juga berfungsi sebagai pelindung dari kebocoran radiasi.  

Baterai ini berukuran kecil, setara dengan baterai jam tangan konvensional dengan diameter 10 mm dan ketebalan 0,5 mm. 



Melansir Newsweek, teknologi ini memberikan daya dalam kisaran mikrowatt, membuatnya cocok untuk perangkat yang memerlukan daya rendah namun tahan lama.  

Keunggulan dalam dunia medis  
Baterai berlian memiliki potensi besar dalam dunia medis karena kekuatannya diklaim bisa mencapai 5.730 tahun. 

Artinya baterai ini dapat menyediakan energi selama ribuan tahun tanpa penggantian. Alat-alat pacu jantung, alat bantu dengar, dan perangkat medis implan lainnya menjadi target utama teknologi ini.  

Pasien tidak perlu menjalani operasi penggantian baterai seumur hidup mereka, yang secara signifikan menyederhanakan hidup mereka dan mengurangi stres. 

Profesor Tom Scott dari Universitas Bristol juga menyoroti potensi teknologi ini  untuk digunakan di banyak bidang.   

"Teknologi daya mikro kami mendukung berbagai aplikasi penting, dari eksplorasi luar angkasa hingga perangkat keamanan dan implan medis," katanya seperti dikutip dari The Telegraph.  

Untuk misi luar angkasa atau ekplorasi laut dalam sumber tenaga yang tahan lama merupakan kunci keberhasilan misi karena sangat sulit untuk mengganti baterai di tengah-tengah misi. 

Artinya baterai berlian dapat menjaga perangkat tetap berjalan selama bertahun-tahun tanpa perawatan.  

"Baterai berlian akan merevolusi industri energi. Kita bisa menggunakannya di satelit kecil, chip komputer, dan jam tangan kendali jarak jauh," ungkap Fatimah Sannie, insinyur proses senior di UKAEA yang terlibat dalam proyek tersebut.  

Solusi pengelolaan limbah nuklir  
Selain keunggulan teknis, baterai ini juga menawarkan solusi dalam pengelolaan limbah nuklir. 

Karbon-14 yang digunakan diekstraksi dari blok grafit, limbah yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir. 

Proses ini mengurangi radioaktivitas bahan limbah, sehingga mengurangi biaya dan tantangan penyimpanan limbah nuklir yang aman.  

Menggunakan limbah grafit untuk menciptakan sumber energi berarti dapat mengurangi ancaman limbah radioaktif secara signifikan

Meski menjanjikan, proyek ini masih dalam tahap pengembangan. Tim ilmuwan terus bekerja untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi daya baterai ini agar bisa diaplikasikan secara luas di berbagai industri.  



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bukan Cuma Kafe, di Blok M Juga Ada Koperasi Kelurahan Merah Putih

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai di Blok M Hub, Jakarta Selatan merupakan Koperasi Merah Putih tingkat kelurahan pertama di Indonesia

Renita Sukma . 26 August 2025

TikTok Rilis Fitur Kampus, Mirip Facebook Versi Awal

Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan enam dari sepuluh remaja di AS mengaku rutin menggunakan TikTok dan fitur ini bisa menggaet lebih ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Bubur Ayam Indonesia Dinobatkan sebagai Bubur Terenak di Dunia!

TasteAtlas menempatkan bubur ayam Indonesia sebagai bubur terenak dunia mengungguli Arroz Caldo dari Filipina serta Chè ba màu, bubur khas Vietn ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Menang di WTO, Mendag Dorong Uni Eropa Cabut Bea Imbalan Biodiesel

Pemerintah Indonesia mendesak Uni Eropa agar segera menghapus bea masuk imbalan atas impor produk biodiesel RI setelah terbitnya keputusan WTO

Renita Sukma . 25 August 2025