Stories - 12 February 2024

Mobil Pintar China Bikin AS dan Inggris Ketar-ketir

Mobil pintar bikinan China bikin Amerika Serikat dan China deg-degan, terutama soal keamanan data-data strategis mereka.


Wuling.id

Context.id, JAKARTA - Mobil pintar bikinan China bikin Amerika Serikat deg-degan. Alhasil, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan pembatasan impor “mobil pintar” China beserta dengan komponen terkait.

Mengutip Bloomberg, Senin (12/2/2024), AS tidak hanya melakukan langkah pembatasan dengan pemberian tarif. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi kekhawatiran Washington mengenai keamanan data. 

Adapun, langkah ini akan berlaku untuk kendaraan listrik dan suku cadang yang berasal dari China, tidak peduli di mana akan dirakit nantinya.

Hal ini dimaksud untuk mencegah produsen China memindahkan mobil dan komponen ke pasar AS melalui negara ketiga, contohnya Meksiko. 

Menurut sumber, langkah tersebut nanti juga diimplementasikan di negara lain, yang menjadi perhatian AS terkait data. Bahkan, menurut mereka, tarif saja tidak akan sepenuhnya mengatasi permasalahan ini. 

Para pejabat AS diketahui sangat prihatin dengan kumpulan data yang dikumpulkan dengan apa yang disebut “mobil pintar”, yang mencakup kendaraan listrik dan jenis kendaraan terhubung dan otonom lainnya. 

Banyak mobil masa kini juga dapat menjadi target potensial untuk diretas. Hal ini karena baik mobil berbahan bakar bensin maupun listrik, dilengkapi dengan modem yang menghubungkannya dengan internet.  

Pemerintah mungkin mencoba untuk mengatasi masalah keamanan data, lewat  otoritas Departemen Perdagangan untuk mengatur beberapa transaksi teknologi informasi dan komunikasi. 

Namun, belum ada keputusan yang diambil karena para pejabat melakukan studi kebijakan secara menyeluruh. 

Saat ini, perintah eksekutif terpisah yang dimaksudkan untuk memastikan privasi data secara umum diperkirakan akan dirilis secepatnya minggu depan.

Para pejabat juga sedang mempertimbangkan penyesuaian tarif 27,5% untuk mobil listrik China yang awalnya diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. 

Kendaraan listrik mengumpulkan banyak informasi mengenai pemudi dan lingkungannya. Karena persaingan, para produsen berlomba melengkapi mobilnya dengan banyak sensor dan perangkat lunak untuk membantu pengemudi. 

Peraturan China mengharuskan perusahaan mobil untuk menyimpan dan memproses sebagian besar data tersebut di dalam negeri, yang dapat mencakup informasi pribadi yang sensitif, mulai dari plat nomor hingga karakteristik wajah.

Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo khawatir bahwa data tersebut dapat berakhir di tangan China, dengan merujuk larangan China terhadap mobil Tesla.

"Anda tidak dapat mengendarai Tesla di bagian-bagian tertentu dari jalan raya China, mereka mengatakan untuk alasan keamanan nasional," jelasnya, sambil mempertanyakan apa maksud masalah keamanan nasionalnya. 

Produsen mobil China seperti BYD Co. telah menghindari pasar AS, sebagian karena tarif yang tinggi.

Namun, para pejabat Paman Sam berpikir bahwa mereka pada akhirnya akan memilih untuk menanggung biaya tersebut.  Kemudian, harga eceran mobil listrik China setengah dari harga mobil listrik yang diproduksi AS.

Dengan ‘Banjir’-nya mobil listrik China dapat menggagalkan upaya Presiden Joe Biden meningkatkan produksi mobil listrik dalam negeri.

Para anggota kongres juga khawatir perusahaan-perusahaan China, seperti pembuat baterai EV terbesar di dunia, Contemporary Amperex Technology Co, mungkin akan mencoba mengambil keuntungan dari kredit pajak dalam Undang-Undang Pengurangan Inflasi.

Berbagai perusahaan termasuk BYD telah mempertimbangkanlokasi di Meksiko untuk investasi pabrik. Menteri Keuangan Janet Yellen pada bulan lalu mengatakan bahwa AS bermaksud membantu Meksiko meningkatkan penyaringan investasi asing, termasuk China. 

Sebelumnya, sejumlah anggota parlemen Inggris memperingatkan tentang impor kendaraan listrik (EV) China.Mereka mengklaim teknologi yang tertanam di mobil itu dapat digunakan untuk memata-matai warga Inggris.

Laporan itu diungkap di The Telegraph pada Sabtu (5/8/2023). Dengan China memimpin pasar EV global, kendaraan China yang lebih murah diperkirakan akan mendominasi penjualan otomotif Inggris.

Sekelompok anggota parlemen lintas partai telah menyampaikan kekhawatiran kepada pemerintah bahwa Inggris akan menyerahkan kendali atas infrastruktur penting ke Beijing, dengan semua "risiko keamanan yang menyertai".

“Jika itu diproduksi di negara seperti China, seberapa yakin Anda bahwa itu tidak akan menjadi kendaraan untuk mengumpulkan intel dan data? Jika Anda memiliki kendaraan listrik yang diproduksi oleh negara-negara yang sudah menggunakan teknologi untuk memata-matai, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama di sini?” ujar seorang pejabat senior pemerintah yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip dari The Telegraph.

Seruan itu muncul setelah undang-undang pemerintah yang baru dengan perusahaan mobil menghadapi kuota untuk penjualan mobil nol emisi mulai tahun depan. Peringatan ini menjelang larangan kendaraan bensin dan diesel baru pada tahun 2030.

“Kita tahu bahwa China selalu berpikir dalam jangka waktu yang sangat panjang. Jadi jika mereka menyediakan produk yang dapat melakukan lebih dari sekadar mewujudkan keinginan konsumen untuk beralih dari A ke B, mengapa mereka tidak melakukannya? Mereka itu adalah produk beresiko tinggi,” ujar sumber itu memperingatkan. .

Inggris sebelumnya telah membatasi impor teknologi China atas risiko keamanan yang dirasakan. Pada tahun 2020 pemerintah melarang Huawei dari jaringan 5G Inggris, memerintahkan penghapusan semua peralatan dan layanan perusahaan pada akhir Desember 2023.

Tahun lalu kepala dinas intelijen domestik Inggris dan Amerika Serikat (AS) menuduh China melakukan spionase ekonomi.


Penulis : Noviarizal Fernandez

Editor   : Wahyu Arifin

MORE  STORIES

Honda Perkenalkan Mobil Listrik Pertamanya untuk Indonesia

Mobil listrik pertamanya akan diluncurkan di Indonesia pada 2025

Noviarizal Fernandez | 19-07-2024

Mengenang Tragedi Malaysian Airlines MH17

Rusia dituding berada di balik peristiwa jatuhnya pesawat Malaysian Airlines MH17

Noviarizal Fernandez | 19-07-2024

Sri Mulyani, Si Menteri Paling Ngode

Sri Mulyani seringkali mengeluarkan kode-kode politik yang cukup ikonik

Noviarizal Fernandez | 18-07-2024

Revisi UU TNI Ancaman bagi Demokrasi?

Apakah revisi UU TNI menjadi sinyal kembalinya Indonesia ke era Orde Baru?

Noviarizal Fernandez | 18-07-2024