Stories - 08 January 2024

Pesawat Boeing 737 MAX Bermasalah Lagi

FAA mewajibkan inspeksi segera terhadap pesawat Boeing 737 MAX 9 sebelum mereka dapat kembali terbang

Context.id, JAKARTA - Otoritas penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA) memerintahkan sejumlah Boeing 737 MAX 9 diparkir menyusul terjadinya gangguan pada pesawat Alaska Airlines.

Dikutip dari NPR.org, Senin (8/1/2023), FAA pada akhir pekan lalu memerintahkan 171 Boeing 737 MAX 9 di seluruh dunia untuk dikandangkan.

“FAA mewajibkan inspeksi segera terhadap pesawat Boeing 737 MAX 9 tertentu sebelum mereka dapat kembali terbang,” kata Mike Whitaker, pimpinan badan tersebut.

Keputusan tersebut diambil setelah sebuah penerbangan Alaska Airlines terpaksa tiba-tiba mendarat di Portland, Oregon, pada Jumat (5/1/2024),  setelah penutup pintu meledak di udara, meninggalkan lubang di pesawat di samping dua kursi yang kosong.

Pada Desember tahun lalu setidaknya tercatat ada sebuah insiden dengan jenis pesawat yang sama. Kala itu, Boeing mendesak maskapai penerbangan untuk melakukan inspeksi pada pesawat 737 MAX terkait kemungkinan adanya baut longgar dalam sistem kendali kemudi.

Hal tersebut diumumkan oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA) setelah adanya salah satu maskapai yang menemukan salah satu baut di sistem kemudi pesawat dengan mur yang hilang.

FAA menyatakan bahwa mereka sedang memantau secara ketat inspeksi yang ditargetkan untuk Boeing 737 MAX FAA juga akan mempertimbangkan tindakan tambahan berdasarkan penemuan lebih lanjut terkait perangkat keras yang longgar atau hilang. 

“Sebagai bentuk kehati-hatian, kami merekomendasikan operator untuk memeriksa pesawat 737 Max mereka dan memberi tahu kami jika ada temuan. Kami memberi tahu FAA dan pelanggan kami dan akan terus memberi tahu mereka tentang perkembangannya,” jelas Boeing.

Pesawat jenis ini sempat dilarang terbang di seluruh dunia pada Maret 2019, setelah kecelakaan Lion Air pada Oktober 2018 di Indonesia.

Peristiwa itu menelan korban tewas sebanyak 189 orang dan diikuti 5 bulan kemudian oleh kecelakaan Ethiopian Airlines, tidak lama setelah lepas landas, menyebabkan kematian 157 orang.

Kala itu, Boeing mengatakan dalam pernyataan setelah rilis laporan itu bahwa mereka "berdedikasi untuk melakukan pekerjaan" yang diperlukan.

Indikator kecepatan udara yang salah memberikan data yang buruk ke komputer pesawat, menyebabkan sistem perangkat lunak yang disebut MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) atau Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver.

Sistem yang dimaksudkan itu bertujuan untuk menekan hidung pesawat ke bawah agar pilot tidak sengaja menarik ke atas dan menyebabkan macet, yang justru mengakibatkan kedua pesawat itu menukik tajam.


Penulis : Noviarizal Fernandez

Editor   : Wahyu Arifin

MORE  STORIES

Sederet Menteri Jokowi yang Gemar Olahraga

Di tengah kesibukannya, menteri-menteri kabinet Jokowi nyatanya banyak gemar berolahraga juga

Ririn oktaviani | 23-02-2024

Pendiri WikiLeaks Julian Assange akan Diekstradisi?

Pemerintah AS dan juga warga dunia menunggu langkah selanjutnya Pemerintah Inggris, apakah akan mengekstradisi Julian Assange atau tidak.

Context.id | 23-02-2024

Tuntut Perbaikan Upah, Dokter di Korsel Mogok Kerja

Unjuk rasa ini menjadi salah satu aksi mogok kerja terbesar dalam sejarah Korea Selatan. Negeri Gingseng ini sering diwarnai unjuk rasa gerakan ...

Context.id | 23-02-2024

Pemerintah Adakan Program Doktor Terapan di Perguruan Tinggi Vokasi

Program doktor terapan membuat pendidikan vokasi mempunyai jenjang pendidikan yang lengkap, mulai dari diploma, sarjana, magister hingga doktor.

Context.id | 22-02-2024