Stories - 13 May 2022

Korea Utara Catat Kematian Akibat Covid Pertamanya

Setelah dua tahun melakukan isolasi negara, Korea Utara mengumumkan kematian akibat Covid-19 pertamanya.


Tangkapan layar televisi yang sedang memutarkan video Presiden Korea Utara, Kim Jong Un sedang berbicara, Selasa (21/4/2022). - Bloomberg -

Context.id, JAKARTA - Korea Utara mengumumkan kematian akibat Covid-19 pertamanya, Kamis (12/5/2022).

Selama pandemi merebak, Korea Utara melakukan isolasi pada negaranya, yang menutup semua portal ke negara lain untuk mencegah masuknya virus ke negaranya. Sehingga Korea Utara mengaku, belum ada satupun kasus Covid-19 sejak awal penutupannya.

Namun, ternyata setelah dua tahun kokoh, benteng pertahanan Korea Utara ternyata bolong dan menyebabkan virus ini masuk. 

“Ada insiden terbesar di negara ini, dengan lubang di bagian karantina darurat, yang telah terjaga aman selama dua tahun dan tiga bulan, sejak Februari 2020,” ujar kantor berita resmi KCNA.

Menurut media pemerintah Korean Central News Agency (KCNA), virus Omicron telah terdeteksi di ibu kota negara, Pyongyang dan kini negara akan melakukan lockdown.

 

 

Gelombang Covid-19 yang Besar?

Menurut seorang analis Korea Selatan, Park Won-gon, virus ini sudah menginfeksi banyak orang di Pyongyang, karena ada sebuah event besar kala itu. Namun, ia tidak menjelaskan jumlah kasus terindikasi positif ini. 

“Orang dari seluruh Korea Utara datang ke acara ini, dan kemungkinan membawa virus tersebut,” ujar Park Won-gon kepada France24.

 


Karena Isolasi 2 Tahun, Korea Utara Sempat Kelaparan

Pada 2021, Korea Utara sempat mengalami krisis pangan, hingga harus mencetak uang pengganti karena isolasi yang dilakukan negaranya. Hal ini diperparah dengan adanya sanksi internasional karena senjata nuklirnya.

Menurut lembaga pangan PBB (FAO), produksi pangan biji-bijian di Korea Utara hanya 5,6 juta ton pada tahun 2021, dan angka ini kurang 1,1 juta ton dari yang dibutuhkan seluruh penduduk.

 

 

Korea Utara di Ambang Krisis

Menurut France24, fasilitas kesehatan di Korea Utara sedang hancur. Hal ini diperparah dengan belum adanya masyarakat Korea Utara yang divaksinasi serta ketidakmampuan negara untuk melakukan tes Covid-19 secara massal.

Tidak sampai sana, negara juga memiliki kemampuan yang kurang untuk mengobati para pasien Covid-19.  Alhasil, mereka kini hanya bisa melakukan lockdown untuk mencegah hal ini menjadi semakin parah.

Analis dari Korea Selatan, Lim Eul-chul bahkan menyatakan kepada France24, pandemi ini akan membawa banyak kematian.

 

 

Bisakah Korea Utara Meminta Bantuan?

Sebenarnya bisa. Namun menurut analis Lim Eul-chul, Presiden Korea Utara, Kim Jong Un dinilai tidak akan meminta bantuan. Mengingat sebelumnya ia telah berulang kali menolak vaksinasi dari WHO ataupun dari China.

Selain itu, dengan meminta bantuan, Korea Utara secara tidak langsung mengakui kegagalan sistem antipandemi yang telah dilakukannya, serta menimbulkan pertanyaan pada kepemimpinan Kim Jong Un. 


Penulis : Crysania Suhartanto

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Apartheid Gender Versi Taliban, Masuk Kategori Kejahatan Kemanusiaan?

Taliban melarang para gadis remaja bersekolah, para pegawai perempuan dilarang untuk bekerja dan para wanita dipaksa menikah dengan pria tua

Context.id | 21-06-2024

Mobil Listrik Ferrari Dilego Rp8,8 Miliar

Model EV kedua besutan Ferrari akan segera menyusul untuk diluncurkan

Noviarizal Fernandez | 21-06-2024

Dijadikan Guyonan Imbas Izin Tambang, Ini Sejarah Terbentuknya Lambang NU

Logo NU merupakan hasil buah tangan dari K.H. Ridwan Abdullah ulama yang juga memiliki kemampuan dalam bidang seni, terutama menggambar dan melukis

Context.id | 21-06-2024

Pengaruh Keju Bagi Kesehatan Mental

Responden yang memiliki kesehatan mental dan ketahanan terhadap stres kuat diduga banyak mengonsumsi keju

Context.id | 20-06-2024