Stories - 22 July 2023

Semangat dan Empati Drama Musikal Chocolate Factory

Junior Musical Wonderland The Chocolate Factory mengajarkan pentingnya pendidikan keluarga yang menanamkan anak sikap empati dan memelihara mimpi


Pertunjukan Chocolate Factory The Musical besutan Hi Jakarta Production di Teater Ciputra Artpreneur, Sabtu (22/7) Jakarta/ JIBI/ Bisnis/ Suselo Jati

Context.id, JAKARTA - Keluarga adalah segalanya dan pendidikan yang baik harus diawali dalam keluarga. Keluarga yang mengajarkan dan menanamkan kebaikan, rasa syukur, empati dan merawat mimpi secara tidak langsung sudah membangun pondasi yang kuat bagi seorang anak untuk hidup menjadi manusia yang baik. 

Hal inilah yang tergambarkan dalam drama Junior Musical Wonderland The Chocolate Factory besutan Hi Jakarta Production yang dipentaskan di Teater Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (22/7/2023). Cerita dalam drama musikalisasi ini diadaptasi dari novel klasik Charlie and The Chocolate Factory karya Roald Dahl. 

Executive Producer Hi Jakarta Production, Riri Kumalasari mengatakan drama musikal ini merupakan upaya untuk memperkenalkan mengenai seni pertunjukan dan pendidikan seni secara dini, selain untuk melatih anak-anak agar berani berekspresi di depan banyak orang. 

"Pemain anak-anak ini sangat semangat dan bekerja keras untuk menjiwai setiap peran yang dimainkan. Selain melatih estetika atau artistik, pertunjukan ini juga melatih soal kerja sama tim, sikap empati dan bagaimana menghargai waktu," ujar Riri. 

Sementara itu, Program Manager Ciputra Artpreneur, Adi Wijananda mengatakan kolaborasi ini merupakan upaya pihaknya untuk menjadi tempat persemaian bibit-bibit unggul seniman muda yang mewarnai dunia seni Tanah Air. Ciputra Artpreneur, sambungnya, terus berupaya memberikan pertunjukan seni yang berkualitas.  

Drama ini dibuka dengan gambaran kehangatan pada kehidupan keluarga besar Charlie Bucket. Dia adalah seorang anak tak berpunya yang hidup bersama kedua orang tuanya dan dua pasangan kakek dan nenek baik dari garis ibu maupun ayah. 

Setiap hari, Charlie selalu memulung barang-barang bekas yang dibuang oleh orang lain namun dianggap sebagai harta karun olehnya. Barang-barang itu kemudian ia berikan kepada para kakek dan neneknya, Joe dan Josephina serta George dan Georgina.

Charlie punya mimpi besar menjadi seorang pengrajin cokelat sehebat Willy Wonka, seorang pria misterius yang baru saja mengumumkan undian fantastis yakni lima tiket emas untuk lima anak beruntung. Para pemenang akan mendapatkan tur ke pabrik cokelat yang belum pernah dikunjungi oleh orang luar.

Empat anak pertama yang diumumkan adalah Augustus Gloop (si rakus), Veruca Salt (si manja), Violet Beauregarde (si anak yang tidak beradab) dan MikeTeavee (si pecandu gadget). Charlie ingin berpartisipasi dalam undian itu namun dia tidak memiliki uang untuk membeli cokelat Wonka. 

Namun atas dukungan Kakek Joe yang memberikan uang tabungan sebagai persiapan biaya pemakaman sang kakek, Charlie bisa membeli sebatang cokelat. Namun sayang kali ini ia tidak berhasil mendapatkan tiket emas itu. Entah bagaimana, dengan takdir yang berbalik menjadi menakjubkan, tiket kelima menjadi milik Charlie. 

Rasa Syukur Versus Ketamakan

Bersama dengan Kakek Joe, mereka berangkat dalam perjalanan sekali dalam seumur hidup menuju negeri ajaib dan magis yang tersembunyi di dalam pabrik tersebut. Namun, Tuan Wonka ternyata seorang pria aneh yang memiliki tujuan dan maksud rahasia. Satu persatu anak-anak jatuh ke dalam perangkap akibat ketamakan mereka sendiri. 

Augustus tenggelam oleh kerakusannya akan cokelat. Veruca dilemparkan ke tempat sampah yang akan segera terbakar karena nekat mendekati tupai-tupai yang temgah memilah kacang. Adapun Violet meledak menjadi buah blueberry dan Mike menyusut menjadi permen seukuran gigitan, meninggalkan Charlie sebagai satu satunya yang selamat.

Willy Wonka memiliki rencana yang lebih besar untuk anak tersebut yakni dia akan memberikan seluruh pabriknya kepada anak yang tertarik pada kreativitas dan inovasi, bukan kepada seseorang yang serakah, tidak beradab, atau tidak patuh. Meskipun ditawari segala macam kekayaan duniawi, Charlie Bucket menolak pabrik dan kekayaan yang akan datang bersamanya. 

Anak itu lebih suka memulai usahanya sendiri, sebuah toko permen kecil miliknya sendiri, seperti bagaimana Wonka yang hebat pertama kali memulainya dulu. Wonka menghargai keputusan dan mimpi mimpi anak laki-laki tersebut, dan membantunya membangunnya menjadi kenyataan. Toko permen Charlie diberi nama Golden Tickets dan membawa kebahagiaan kepada pelanggannya dengan kelezatan yang mengagumkan.

Menyaksikan drama musikal ini, kita diajak untuk merefleksikan keseharian hidup kita. Apakah kita seperti empat anak lain, yang larut dalam keserakahan? Atau, kita seperti Charlie, yang tidak ingin meraih sesuatu yang besar, karena dia sudah memiliki segalanya, yakni keluarga yang hangat dan saling mendukung? 

Semua itu dibungkus dengan penampilan yang gemilang mulai dari para pemeran seperti Calvin Lie sebagai Charlie Bucket yamg sukses lugas, atau Achmad Fadlan sebagai Willy Wonka yang sukses menghadirkan sosok aneh sebagaimana Johnny Deep selaku Willy Wonka dalam sinema Charlie and The Chocolate Factory.


Penulis : Noviarizal Fernandez

Editor   : Wahyu Arifin

MORE  STORIES

Teknologi Digital dan Solusi Perubahan Iklim

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi atau meminimalisir dampak perubahan iklim

Context.id | 01-03-2024

Ketika Raksasa OTT Saling Klaim Istilah Local Pride

Platform over the top (OTT) konten video streaming saling bersaing menguasai pasar Indonesia, salah satunya dengan embel-embel konten lokal.

Noviarizal Fernandez | 01-03-2024

Tolak Usul Prancis, Anggota NATO Enggan Masuk Wilayah Ukraina

Usulan Presiden Prancis agar pasukan NATO memasuki wilayah Ukraina untuk ikut memerangi Rusia mendapat penolakan keras dari negara-negara anggota ...

Context.id | 29-02-2024

Kans Indonesia Gabung Klub Negara Maju

Indonesia masih punya waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan proses menjadi anggota OECD

Context.id | 29-02-2024