Potret pendiri Amerika Serikat dalam uang US$1000. - Bloomberg -

Stories

Amrik Bakal Gagal Bayar Utang, Gimana Dampaknya?

Crysania Suhartanto - 07 February 2023

Context.id, JAKARTA - Amerika Serikat disebut-sebut akan mengalami gagal bayar utang. Soalnya, batas utang Amerika yang sebesar US$31,4 triliun atau sebesar Rp475.868 triliun, sudah tersentuh sejak 19 Januari 2023.

Maka dari itu, pemerintah Amerika lagi berhati-hati dalam bertindak. Pasalnya, sekalipun menggunakan strategi khusus, Departemen Keuangan AS hanya bisa membiayai anggaran negara hingga Juni 2023.

Padahal, dampak yang dihasilkan dari kegagalan bayar utang ini bakal buruk banget. Diperkirakan, efeknya akan jauh lebih kacau daripada inflasi tinggi yang dialami oleh masyarakat Amerika.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva juga menyatakan, goncangan ekonomi imbas pengetatan kebijakan moneter dari The Fed (Bank Sentral Amerika) tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan buruknya dampak dari gagal bayar.

“Akan sangat merugikan konsumen AS jika AS gagal bayar, yang akan mendorong kenaikan suku bunga. Jika orang tidak menyukai inflasi hari ini, mereka sama sekali tidak akan menyukai apa yang mungkin terjadi besok,” ujar Georgieva.

Oleh karena itu, sebenarnya satu-satunya jalan agar selamat dari risiko gagal bayar utang adalah menaikan batas utang. Hal ini pun juga disampaikan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen. “Sangat penting bagi Kongres untuk menaikkan batas utang, dan saya harap mereka melakukannya tepat waktu sebelum kita mengalami krisis,” ujar Yellen.

Namun, pembahasan mengenai hal itu masih sangat alot. Soalnya, Partai Demokrat yang sedang berkuasa, melalui pembahasan yang dilakukan Presiden Amerika, Joe Biden dengan Ketua DPR AS, Kevin McCarthy masih belum membuahkan hasil.

Sementara di sisi lain, partai oposisi yakni Partai Republikan sedang bernegosiasi dengan kongres tentang janji pemotongan anggaran federal agar bisa mendapatkan imbalan yakni dicabutnya batas utang. Pasalnya, mereka menganggap bahwa pengeluaran semasa pandemi sudah terlalu berlebihan dan ditambah dengan peningkatan suku bunga yang membuat pembayaran bunga melonjak.


Amerika Bakal Bangkrut?

Ada kabar beredar bahwa Amerika akan mengambil langkah-langkah teknis, seperti mencetak uang senilai US$1 triliun agar meminimalisir kebangkrutan. Namun, hal ini ditepis oleh Menteri Keuangan, Yellen. Soalnya menurutnya, utang Amerika tidak berada di tingkat yang berbahaya hingga negaranya berpotensi untuk bangkrut.

Menurut Yellen, pengukuran keberlanjutan beban utang, dihitung dari pembayaran bunga bersih yang disesuaikan dengan inflasi negara tersebut. Dengan demikian, rata-rata rasio pembayaran utang Amerika baru mendekati 2 persen dan hal itu masih termasuk normal.


Krisis Utang Enggak Cuma di Amerika

Beberapa waktu lalu, pertemuan para petinggi bisnis dan negara di seluruh dunia berkumpul untuk membicarakan risiko bahaya yang akan terjadi di dunia pada 2023. Nah, salah satu dari potensi bahaya yang akan terjadi ini adalah krisis utang.

Hal ini pun didukung dengan ucapan dari Direktur IMF, Georgieva. Menurutnya, sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah akan mengalami krisis utang di tahun ini.


IMF Lagi Ngelobi China

China merupakan salah satu negara kreditur terbesar di dunia untuk negara berkembang. Maka dari itu organisasi moneter dunia (IMF) sedang ngelobi China untuk bekerjasama dalam restrukturisasi utang multipartai.

Soalnya, kalau hal ini enggak dilakukan, banyak negara yang akan gagal bayar utang dan terancam bangkrut. “China harus merubah kebijakannya karena negara berpenghasilan rendah tidak dapat membayar,” ujar Georgieva.

Oleh karena itu, pihak IMF dan China yang diwakilkan oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral akan bertemu di India pada Februari 2023.



Tonton Lainnya