Stories - 11 April 2022

Ramadan Jadi Bulan yang Konsumtif?

Bulan Ramadan ternyata mengubah masyarakat Indonesia. Salah satu yang terlihat adalah di mana sebagian masyarakat menjadi konsumtif.

Context.id, JAKARTA - Bulan Ramadan ternyata mengubah masyarakat Indonesia. Ada yang menjadi lebih religius karena fokus beribadah, tapi ada juga perubahan yang membuat sebagian masyarakat menjadi konsumtif.

Melansir dari HLB Global, perusahaan penasihat akutansi global menyatakan, masyarakat justru konsumtif saat berbuka puasa dengan menggunakan kedok ngabuburit. Tagihan makanan cenderung meningkat 50-100 persen pada Ramadan. Selain itu, 83 persen keluarga juga merubah kebiasaan konsumsi makanannya selama bulan ini.

Tak hanya mengenai makanan, masyarakat Indonesia juga biasanya belanja besar-besaran, seperti mengirim parsel, renovasi rumah, ataupun berbelanja baju baru untuk hari raya Idul Fitri. Berdasarkan survei dari InMobi, sebanyak 28 persen responden berencana menghabiskan setidaknya Rp 2-3 juta untuk berbelanja di Ramadan 2022. Angka inipun naik dari tahun sebelumnya yang hanya 19 persen.

Menurut Guru Besar Sosiologi Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof. Alfitri, perilaku konsumtif jelang Lebaran merupakan bagian dari upaya masyarakat untuk mempersiapkan sebaik mungkin momen yang sakral. Selain itu, Lebaran juga menjadi ajang untuk membuktikan hierarki sosial keluarga tersebut.

“Kecenderungan konsumtif itu timbul atas asumsi Idulfitri adalah momen sakral. Kebanyakan muslim ingin mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna, jadi semua pendanaan ekonomi keluarga yang sudah dikumpulkan selama satu tahun, akan ditumpahkan saat Lebaran,” jelas Prof. Alfitri.

Menurutnya, perilaku tersebut memiliki sisi positif dan negatifnya tersendiri. Jika dilihat dari kacamata ekonomi, perilaku konsumtif  berhasil menggerakkan aspek ekonomi, sosial, dan budaya secara bersamaan. Selain itu, desa-desa juga diuntungkan karena peredaran uang dibawa masyarakat ke desa.

Di sisi lain, mayoritas masyarakat masih mementingkan simbolisme selama Lebaran. Alhasil sikap tersebut memunculkan perilaku mubazir, karena banyak barang atau makanan yang sebenarnya tidak diperlukan, tapi dibeli.

“Karena ingin sempurna semua di beli, makanan disediakan banyak-banyak, baju pasti beli baru, ada juga yang beli motor, mobil sampai rumah baru. ada dorongan ingin menampilkan kesuksesan karena hari raya adalah dianggap momen yang tepat memperlihatkan kesuksesan,” ujar Prof. Alfitri.

Selain itu, perilaku konsumtif juga muncul karena adanya THR. Dilansir dari Antara, memang tujuan THR adalah menggerakan ekonomi negara, tetapi kadangkala kehadiran THR justru membuat keluarga tidak dapat menyeimbangkan antara pengeluaran dan penghematan.

“Lebaran ini terjadi setiap tahun, semestinya ada pembelajaran mengenai pentingnya kerangka penghematan, memperingati hari besar cukup dengan hal-hal sederhana saja, karena intinya silaturahmi tetap jalan,” ujar Prof. Alfitri.

 


Penulis : Crysania Suhartanto

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Apartheid Gender Versi Taliban, Masuk Kategori Kejahatan Kemanusiaan?

Taliban melarang para gadis remaja bersekolah, para pegawai perempuan dilarang untuk bekerja dan para wanita dipaksa menikah dengan pria tua

Context.id | 21-06-2024

Mobil Listrik Ferrari Dilego Rp8,8 Miliar

Model EV kedua besutan Ferrari akan segera menyusul untuk diluncurkan

Noviarizal Fernandez | 21-06-2024

Dijadikan Guyonan Imbas Izin Tambang, Ini Sejarah Terbentuknya Lambang NU

Logo NU merupakan hasil buah tangan dari K.H. Ridwan Abdullah ulama yang juga memiliki kemampuan dalam bidang seni, terutama menggambar dan melukis

Context.id | 21-06-2024

Pengaruh Keju Bagi Kesehatan Mental

Responden yang memiliki kesehatan mental dan ketahanan terhadap stres kuat diduga banyak mengonsumsi keju

Context.id | 20-06-2024