Stories - 06 October 2022

Tragedi Kanjuruhan: Malapetaka di Pintu 13

Salah satu penyebab terjadinya tragedi Kanjuruhan adalah terkuncinya beberapa pintu untuk keluar-masuk area tribun stadion.


Ilustrasi pintu Stadion Kanjuruhan. -Puspa Larasati-

Context, JAKARTA - Tragedi Kanjuruhan telah merenggut lebih dari 100 nyawa suporter Arema (Aremania). Salah satu penyebabnya diduga karena kepanikan suporter saat polisi menembakkan gas air mata, di sisi lain beberapa pintu keluar-masuk stadion terkunci.

Kejadian bermula ketika ratusan atau bahkan ribuan Aremania menyerbu lapangan seusai pertandingan Derby Jawa Timur antara Arema FC dan Persebaya Surabaya. Banyak yang bilang jika para suporter tersebut menyerbu lapangan untuk membangkitkan semangat para pemain, namun ada juga yang bilang para suporter tersebut marah dan akhirnya membuat kerusuhan.

Terlepas dari alasan penyerbuan Aremania ke lapangan, cara penjaga keamanan, termasuk polisi dan tentara menjadi sorotan. Pasalnya, dalam video-video yang beredar, polisi dan tentara menggunakan cara-cara ‘kasar’ saat membubarkan Aremania. 

Beberapa tentara terlihat menendang dan memukul para suporter, dan beberapa personil polisi melepaskan tembakan gas air mata ke arah kerumunan suporter, baik yang di lapangan, mau pun tribun. 

Tindakan-tindakan tersebut sontak membuat ribuan Aremania panik. Mereka yang membawa keluarga, teman, mau pun seorang diri, pergi mencari jalan keluar dalam waktu yang sama. Alhasil, tumpukan suporter pun terjadi di beberapa pintu keluar. Naasnya, beberapa pintu terkunci, salah satunya adalah pintu 13.

Sakitnya efek gas air mata, ditambah sesaknya area di balik pintu 13, membuat banyak Aremania yang kehabisan tenaga dan oksigen, terhimpit, terinjak-injak, hingga akhirnya harus merenggut nyawa.


Kesaksian Suporter

Dilansir Tempo, ada seorang Aremania bernama Eko Arianto yang menceritakan kesaksiannya saat tragedi di pintu 13 terjadi. Sebelum kejadian, Eko saat itu sedang berada di luar stadion. Meskipun telah memiliki tiket, ia memilih untuk tidak masuk ke dalam stadion karena merasa sudah sering menonton Derby Jawa Timur. 

Saat sedang asyik mengobrol, Eko dikejutkan dengan suara tembakan, kemudian diikuti dengan suara jeritan orang dan gedoran pintu di pintu 10. Tak lama, pintu berhasil dijebol, ratusan Aremania pun berhamburan keluar. Menurut kesaksiannya, ada sejumlah wanita yang lemas dan kemudian pingsan.

Tak lama kemudian, Eko pun teringat dengan adik dan saudaranya yang ada di dalam tribun yang dekat dengan pintu 13. Ia pun langsung bergegas menghampiri pintu tersebut. Namun ternyata, pintu 13 masih tertutup.

Dari balik pintu, Eko mendengar jeritan minta tolong dari Aremania yang terjebak. Mereka berusaha untuk mendobrak pintu dan menjebol ventilasi. Eko pun juga berusaha membantu dengan mencoba membuka pintu besi, namun sayangnya usahanya tersebut gagal.

Masih terus berusaha, Eko akhirnya sempat meminta tolong kepada penjaga keamanan yang berada di luar stadion. Namun karena dikira perusuh, Eko malah menjadi korban pukulan dari salah seorang petugas keamanan. Setelah berhasil menghindar, Eko pun langsung masuk ke pintu utama stadion, dan bergegas untuk menuju pintu 13.

Setibanya di lokasi, Perasaan Eko tidak karuan, ia terkejut dengan adanya ratusan orang yang tergeletak. Sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Dengan sisa tenaganya, Eko pun membantu untuk mengevakuasi mereka ke dalam ruangan.

“Pintu 13 semacam kuburan massal. Aku nggak kuat....,” ucapnya.


Kenapa Pintu Terkunci?

Anggota Komite Eksekutif PSSI Ahmad Riyadh menjelaskan bahwa sesuai hasil investigasi PSSI, seharusnya pintu tersebut dibuka 10 menit sebelum pertandingan selesai. Namun, Ahmad menjelaskan bahwa pada saat itu panpel takut jika Aremania yang tidak kebagian tiket akan menerobos pintu ke dalam stadion.

Selain itu, Ahmad juga menyebutkan bahwa petugas yang seharusnya menjaga pintu, terlambat untuk pergi tempat. "Itu kesalahan besar dari panitia pelaksana," tutur Ahmad. "Memang tidak semua pintu tertutup, ada sebagian yang dibuka, yang masih ditutup itu telat komando karena penjaga pintu belum sampai tujuan."

Dari versi salah seorang Aremania bernama Totok Prasetyo, sebagian besar pintu stadion ditutup pada saat pertandingan akan usai untuk menyelamatkan tim Persebaya dari Amukan Aremania. 

"Kalau saya dapat informasi, ya kan teman saya banyak yang anggota (polisi), saya dengar karena mengantisipasi Aremania ini biar nggak keluar, malah nyerang Persebaya di luar," kata Totok dikutip dari Bisnis.

Jika pernyataan-pernyataan tersebut benar, maka panpel atau pun petugas keamanan sudah menyalahi regulasi keselamatan dan keamanan yang dibuat oleh PSSI. Dalam pasal 21, pintu stadion dilarang untuk dikunci. Berikut bunyinya: 

Panpel wajib mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa:

a. Semua pintu keluar dan gerbang di Stadion, dan semua gerbang yang mengarah dari area penonton ke area bermain, tetap tidak terkunci, diawasi dan dijaga oleh Stewards saat penonton berada di Stadion;


b. Masing-masing pintu dan gerbang ini dijaga setiap saat oleh Stewards yang ditunjuk secara khusus, untuk menjaga dari penyalahgunaan dan memastikan rute evakuasi jika terjadi situasi darurat;

c. Tidak ada pintu atau gerbang yang dikunci dalam keadaan apa pun.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Infrastruktur Pendukung F1 Powerboat Siap Digunakan

Wisatawan yang kebetulan berkunjung dipastikan turut menikmati ajang balap itu

Noviarizal Fernandez | 27-02-2024

Melalui 4 Pilar ini Kanker Serviks Dapat Dicegah

Indonesia menduduki peringkat keempat pada angka kematian yang disebabkan oleh kanker serviks

Context.id | 27-02-2024

Ini 10 Bahan Alami Untuk Tingkatkan Kadar Hemoglobin

Hemoglobin dalam sel darah merah sangat penting dan sangat vital bagi tubuh manusia.

Noviarizal Fernandez | 27-02-2024

Mobil Listrik Terus Diguyur Insentif

Pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil listrik.

Noviarizal Fernandez | 27-02-2024