Stories - 24 August 2022

Bukannya Rugi, Rusia Justru Raup Cuan dari Perang

Bukannya merugikan perekonomian negaranya akibat rentetan sanksi yang dijatuhkan, Rusia malah mendapatkan untung besar sejak invasi berlangsung.


Presiden Rusia vladimir Putin. -kremlin.ru-

Context, JAKARTA - Perang Rusia dan Ukraina yang sudah berlangsung selama kurang lebih enam bulan ini sepertinya belum akan berakhir. Bukannya merugikan perekonomian negaranya akibat rentetan sanksi yang dijatuhkan, Rusia malah mendapatkan untung besar sejak invasi berlangsung. 

Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di dunia, seharusnya Rusia bisa menguasai Ukraina dengan waktu yang cepat. Sebagian besar orang di dunia pasti berpikir kalau hal ini terjadi karena pejuang Ukraina telah bertarung dengan sangat baik. Terlepas dari kekuatan militernya yang jauh di bawah Rusia, Ukraina memang telah menerima banyak bantuan militer dari negara-negara barat seperti Inggris, Amerika Serikat, hingga Uni Eropa. 

Tapi, sepertinya militer bukan lah satu-satunya alasan kenapa perang tidak kunjung usai. Ada alasan lainnya yang membuat Rusia seakan mengulur-ulur waktu. Alasan yang dimaksud adalah profit yang diterima Rusia sejak perang berlangsung.


Rusia Untung Rp1,4 triliun Pada 100 Hari Pertama Perang

Bisa dibilang, kali ini Rusia menang dalam perang ekonomi melawan negara-negara barat. Pasalnya, akibat sanksi-sanksi yang diberikan tersebut, alih-alih rugi, Rusia malah mendapatkan keuntungan. Pada 100 hari pertama perang saja, Rusia telah mendapatkan keuntungan sebesar kurang lebih Rp1,4 triliun. Angka ini didapatkan dari ekspor komoditas bahan bakar fosil seperti minyak dan gas alam.

Sebuah organisasi penelitian yang berlokasi di Finlandia, Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) menyebutkan bahwa sejak invasi, Rusia telah menghasilkan sekitar Rp14,8 triliun per hari hanya dari mengekspor bahan bakar fosil. Sedangkan, dikutip dari BBC, CREA memperkirakan bahwa Rusia hanya menghabiskan Rp13 triliun per harinya untuk invasi.

Hasilnya, pendapatan yang dihasilkan oleh Rusia selama perang dapat menutupi pengeluaran yang besar untuk mendanai invasinya ke Ukraina. Mirisnya, negara-negara Uni Eropa yang katanya mengecam tindakan Rusia tersebut ternyata bertanggung jawab atas 61 persen impor bahan bakar fosil dari Rusia pada 100 hari pertama. Total uang yang dikeluarkan Uni Eropa untuk mengimpor bahan bakar fosil dari rusia tersebut sebesar  Rp877 triliun.


Sanksi Barat Menguntungkan Rusia

Sanksi ekonomi yang harusnya memberatkan Rusia ternyata malah menjadi berkah bagi negara tersebut. Pasalnya, Rusia berhasil memanfaatkan sanksi-sanksi tersebut untuk mengisi kantongnya dengan cuan yang lebih besar. 

Sebelumnya, pada 100 hari pertama, Rusia masih menerima permintaan impor dari negara-negara barat. Jika diurutkan, importir komoditas bahan bakar fosil Rusia yang paling besar adalah China, kemudian diikuti oleh Jerman, Italia, Belanda, Turki, Polandia, Perancis, dan India.

Secara keseluruhan, pendapatan yang dihasilkan dari komoditas bahan bakar fosil tersebut paling besar disumbang oleh penjualan minyak mentah sebesar Rp714 triliun, diikuti oleh pipa gas sebesar Rp373 triliun, kemudian produk minyak sebesar Rp202 triliun, gas alam cair sebesar Rp78 triliun, dan batubara sebesar Rp53 triliun.

Melihat ekspor Rusia yang masih aman dan berpotensi semakin memberatkan Ukraina dalam perang, Kyiv akhirnya meminta kepada negara-negara barat untuk menghentikan segala bentuk perdagangan dengan Moskow. Hal ini bertujuan untuk memotong jalur keuangan negara Beruang Merah tersebut.

Hingga akhirnya pada awal Juni, negara-negara barat pun sepakat untuk menghentikan sebagian besar impor minyak Rusia dan mengurangi pengiriman gas hingga dua pertiga tahun ini. Hal ini membuat ekspor Rusia anjlok, yang sebenarnya memang sudah anjlok akibat perang yang mereka mulai sendiri. 

Namun bukannya rugi, Rusia malah mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga bahan bakar fosil. Hasilnya, dilansir dari Al Jazeera, rata-rata ekspor Rusia mencapai 60 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan negara-negara barat, Rusia pun telah mencari importir bahan bakar fosil yang baru. Usaha ini pun memuaskan, karena beberapa negara seperti China, India, Uni Emirat Arab, dan bahkan Perancis telah meningkatkan pembelian mereka. 


Rusia  Jual Minyak di Bawah Harga Pasar

Jika diibaratkan sebagai seorang pebisnis, sepertinya Rusia adalah pebisnis yang handal. Pasalnya, Rusia berhasil memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Berkurangnya impor negara-negara barat, membuat Rusia mencari lebih banyak importir dengan menawarkan harga diskon gila-gilaan. 

Diskon gila-gilaan ini berhasil membuat banyak negara tidak ragu untuk meningkatkan pembelian komoditas bahan bakar fosil, termasuk minyak dari Rusia. Seperti contohnya, impor minyak Rusia ke China tercatat naik 55 persen dari tahun sebelumnya, menjadikan Rusia pengimpor terbesar minyak ke negara Tirai Bambu tersebut. 

Menurut Menteri Pariwisata RI Sandiaga Uno, kini Rusia telah mengambil untung besar hanya dengan menjual minyak di bawah harga pasar. Keuntungan yang besar ini diperkirakan menjadi salah satu alasan mengapa perang belum juga berakhir.

"Kenapa perang Rusia dan Ukraina ini akan cukup lama? Because it's profitable. Rusia setiap harinya, dengan harga minyak yang naik dan dia menjual sekarang di bawah harga pasar, untungnya (saat ini) US$6 miliar (Rp89 triliun) per hari," kata Sandiaga Uno dikutip dari postingan instagramnya.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Suara Golkar Terbesar di Koalisi Prabowo, Jatah Menterinya Banyak?

Kinerja perolehan suara mentereng dalam Pemilu Legislatif atau Pileg 2024 dinilai menjadi tolok ukur

Noviarizal Fernandez | 24-04-2024

Laga Panas Para Jawara di AFC Cup U-23

Tiga mantan pemenang Piala Asia AFC U23 lainnya juga turut lolos ke babak penentu itu

Noviarizal Fernandez | 24-04-2024

Tren Positif Berlanjut, Industri Mobil Listrik Makin Menjanjikan

Pada 2023 lalu, penjualan mobil listrik memecahkan rekor penjualan mencapai 14 juta unit secara global atau setara dengan 18% dari seluruh penjual ...

Context.id | 24-04-2024

Profi Tiga Hakim Dissenting Opinion Putusan MK Soal Pilpres 2024

Tiga hakim ajukan pendapat berbeda dengan lima hakim lainnya terkait putusan MK yang menolak permohonan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud

Context.id | 23-04-2024