Stories - 14 July 2022

Ini Deretan Perusahaan Besar yang Hengkang dari Rusia

Sudah ada puluhan perusahaan barat yang menarik diri dan menghentikan seluruh operasinya di Rusia. Salah satu yang terbaru adalah Lego.


Lego, perusahaan mainan raksasa asal Denmark. - Puspa Larasati -

Context, JAKARTA - Perusahaan mainan raksasa asal Denmark, Lego memutuskan untuk menghentikan operasinya di Rusia pada hari Rabu (13/7/2022). Hal ini disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina yang tidak kunjung usai.

Sebelumnya, perusahaan juga telah menghentikan pengiriman produk ke Rusia sejak Maret. Namun pada saat itu toko-toko Lego yang ada di Rusia masih tetap dibuka. Kini, Lego resmi mengakhiri kerjasamanya dengan Inventive Retail Group di Rusia yang menjalankan 81 toko atas nama Lego.

Dalam penarikan perusahaannya tersebut, lego menyatakan telah menghentikan sebagian besar pekerjanya yang berada di Moskow, dan mereka juga telah memberikan pesangon kepada 70 orang mantan karyawannya untuk membantu mereka mencari peluang baru.

Lego sendiri merupakan salah satu perusahaan asal barat yang cukup lama bertahan di Rusia sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Padahal, sejak invasi pertamanya itu, sudah puluhan perusahaan barat yang lebih dulu menarik diri dan menghentikan seluruh operasinya di Rusia.

Dari puluhan perusahaan yang menarik diri dari Rusia, berikut 5 di antaranya.


1. Nike

Pada 24 Juni 2022, perusahaan olahraga raksasa asal Amerika Serikat ini memutuskan untuk menarik diri dari Rusia Sebelumnya pada Maret 2022, Nike juga telah menangguhkan seluruh operasinya di negara yang sedang berperang tersebut. 

Saat itu, Nike melakukan penangguhan sebagai bentuk protesnya kepada invasi Rusia terhadap Ukraina. Namun, beberapa toko yang dioperasikan oleh mitranya di Rusia masih dibuka.  Sampai akhirnya Nike benar-benar menghentikan segala operasinya pada 24 Juni 2022.


2. Starbucks

Setelah 15 tahun beroperasi di Rusia, perusahaan minuman ternama asal Amerika Serikat, Starbucks resmi hengkang pada 23 Mei 2022. 

Di Rusia, perusahaan minuman berlogo hijau ini telah memiliki 130 toko di negara tersebut. Dalam perkembangannya, pengoperasiannya dilakukan oleh pemegang lisensi Alshaya Group. Di Rusia sendiri, Starbucks sudah mempekerjakan sekitar 2.000 karyawan.

Saat menyatakan angkat kaki dari Rusia, perusahaan yang telah beroperasi di Rusia sejak 2007 itu berjanji akan membiayai seluruh karyawannya selama 6 bulan.


3. Apple

Pada 23 Maret 2022, Apple memutuskan untuk menghentikan penjualan produknya di Rusia. Keputusannya ini menyusul invasi Rusia kepada Ukraina. Setelah mengumumkan hal ini, Apple langsung menjadikan semua produk Apple di toko online yang ada di Rusia sebagai “tidak tersedia”. 

Selain itu, Apple juga menyatakan jika mereka telah menghapus semua outlet yang dikendalikan Rusia seperti RT News dan Sputnik News dari App Store. Penghapusan ini dilakukan untuk pengguna Apple di seluruh dunia kecuali Rusia.

Di Rusia, Apple menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar. Tercatat, Apple telah menguasai sekitar 15 persen dari pasar smartphone di Rusia. Selain itu, pada tahun 2021 Apple juga berhasil menjual sekitar 32 juta iPhone di negara tersebut.


4. Samsung

Menyusul Apple, perusahaan teknologi asal Korea Selatan, Samsung juga telah menghentikan semua pengiriman produknya mulai dari chip, smartphone, dan produk elektronik lainnya ke negara Rusia pada 3 Mei 2022. 

Sebelum Samsung mengumumkan penarikan dirinya dari pasar Rusia, Wakil Perdana Menteri Ukraina Mykhailo Fedorov juga telah mengirim surat kepada Wakil Ketua Samsung Han Jong-hee. Dalam isi surat tersebut, Fedorov mendesak Samsung agar menghentikan pengiriman produknya ke Rusia untuk sementara.

“Kami membutuhkan dukungan Anda -- pada tahun 2022, teknologi modern mungkin merupakan jawaban terbaik untuk tank, beberapa peluncur roket, dan rudal yang menargetkan lingkungan perumahan, taman kanak-kanak, dan rumah sakit. Tetap bersama Ukraina dan selamatkan jutaan nyawa tak berdosa!” tulis Fedorov dalam suratnya.


5. McDonald’s

Banyaknya tekanan dari masyarakat internasional, terutama masyarakat Amerika Serikat, membuat perusahaan burger ini harus angkat kaki dari Rusia pada 16 Mei 2022. Angkat kakinya McDonald’s dari negara tersebut menandakan berakhirnya kejayaan McD di Rusia sejak pertama kali masuk ke Rusia pada 30 Januari 1990.

McDonald’s di Rusia sendiri punya sisi historis yang cukup menarik. Pasalnya, munculnya McDonald’s di negara tersebut adalah pertanda masuknya kapitalisme di Rusia (Uni Soviet saat itu) yang berideologi komunis. 

Setelah menyatakan penarikan dirinya, beberapa waktu kemudian McDonald’s di Rusia kembali dibuka dengan nama yang baru, yaitu Vkusno & Tochka. Restoran baru ini dipimpin oleh seorang CEO bernama Oleg Paroev. Uniknya, Ia pernah menjabat sebagai CEO McDonald’s Rusia sejak Februari 2022. Karena itu sebagian konsumen Vkusno & Tochka masih merasa nuansa McDonald’s di restoran penggantinya itu.

Selain Lego dan 5 perusahaan di atas, hingga kini sudah puluhan perusahaan mancanegara yang memutuskan angkat kaki dari Rusia. Sejumlah perusahaan-perusahaan tersebut antara lain Adobe, Airbnb, Amazon, AWS, BMW, Ford, GM, Honda, Brainly, Disney, DJI, Google, Intel, LG, Microsoft, Netflix, Nintendo, Nokia, Nvidia, PayPal, Sony, Spotify, dan beberapa perusahaan lainnya.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Teknologi Digital dan Solusi Perubahan Iklim

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi atau meminimalisir dampak perubahan iklim

Context.id | 01-03-2024

Ketika Raksasa OTT Saling Klaim Istilah Local Pride

Platform over the top (OTT) konten video streaming saling bersaing menguasai pasar Indonesia, salah satunya dengan embel-embel konten lokal.

Noviarizal Fernandez | 01-03-2024

Tolak Usul Prancis, Anggota NATO Enggan Masuk Wilayah Ukraina

Usulan Presiden Prancis agar pasukan NATO memasuki wilayah Ukraina untuk ikut memerangi Rusia mendapat penolakan keras dari negara-negara anggota ...

Context.id | 29-02-2024

Kans Indonesia Gabung Klub Negara Maju

Indonesia masih punya waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan proses menjadi anggota OECD

Context.id | 29-02-2024