Stories - 07 July 2022

Nilai Rupiah Melemah, Dampak Buruknya Apa Saja?

Nilai tukar rupiah pada dolar Amerika semakin melemah. Diketahui, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp15.000 per dolar AS pada 4-6 Juni 2022.


Teller melayani jual beli mata uang Dolar AS di sebuah tempat penukaran uang, Jakarta, Rabu (6/7/2022).

Context.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada dolar Amerika semakin melemah. Diketahui, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp15.000 per dolar AS pada 4-6 Juni 2022.

Angka inipun membawa nilai tukar Indonesia menjadi yang terendah sejak 5 Mei 2020, dimana saat itu dunia dalam masa pandemi dan nilai tukar rupiah mencapai Rp15.080 per dolar AS.

Hal ini diakibatkan oleh indeks dolar AS yang menguat dan banyaknya aksi jual oleh investor asing. Adapun alasan dolar AS yang menguat adalah pelemahan euro di tengah kenaikan harga gas serta ketidakpastian politik yang berujung pada kekhawatiran resesi. Tak heran, jika indeks dolar AS menyentuh angka tertingginya dalam 20 terakhir. 

Oleh karena itu, penurunan nilai mata uang ini bukan hanya berlangsung di Indonesia, melainkan juga sejumlah mata uang lain di Asia. Mulai dari won Korea Selatan (KRW) yang mengalami penurunan 0,54 persen, peso Filipina yang juga turun 0,54 persen, ringgit Malaysia (RM) yang turun 0,12 persen, serta dolar Taiwan yang turun 0,05 persen. 

Lantas, apa efeknya bagi Indonesia dengan nilai rupiah yang melemah?

1. Harga Produk Impor Semakin Mahal - Inflasi

Melansir Investopedia, akibat nilai tukar rupiah yang melemah, barang-barang yang diimpor dari negara lain akan semakin mahal. Oleh karena itu, penurunan nilai rupiah juga akan berimbas pada banyaknya barang yang dapat diekspor ke luar negeri serta semakin sedikitnya barang yang diimpor dari mancanegara. 

Hal ini pun akan berakibat pada inflasi, jika banyak barang ataupun komoditas krusial yang diimpor dari luar negeri. 


2. Merugikan Perusahaan yang Memiliki Utang Dolar

Dilansir dari Bisnis, dengan nilai tukar rupiah yang melemah, otomatis utang perusahaan dalam kurs dolar akan semakin meningkat. Hal ini pun tentu akan merugikan perusahaan yang memiliki utang dalam dolar, karena beban utang yang harus dibayarkan akan semakin meningkat. 


3. Berpengaruh pada Pertumbuhan Ekonomi

Dilansir dari Investopedia, salah satu hal yang berpengaruh besar pada nilai PDB suatu negara adalah nilai ekspor. Sedangkan penurunan nilai tukar berpengaruh besar pada naiknya nilai ekspor dari negara tersebut.

 

4. Berpengaruh pada Kebijakan Keuangan Bank Indonesia

Nilai tukar merupakan salah satu pertimbangan utama bank sentral dalam menetapkan kebijakan moneter (keuangan). Oleh karena itu, dengan penurunan nilai tukar mata uang di negara tersebut, akan membuat kebijakan moneter yang ditetapkan akan semakin longgar, untuk memicu banyaknya konsumsi masyarakat. 

Sebaliknya, jika nilai mata uang domestik semakin menguat, hal tersebut akan memberikan hambatan pada ekonomi yang membuat kebijakan moneter yang ditetapkan akan semakin ketat. Adapun salah satu kebijakan moneter yang ketat adalah suku bunga yang lebih tinggi, untuk memicu penurunan konsumsi masyarakat.


Penulis : Crysania Suhartanto

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Pertemuan Dua Tim Raja, Spanyol Jadi Raja Eropa!

Spanyol berhasil mengalahkan Inggris di final Piala Eropa 2024 dan menjadikannya Raja Eropa

Context.id | 15-07-2024

Nikmatnya Berlibur Saat Shoulder Season

Bepergian saat shoulder season bikin vakansi jadi makin menyenangkan

Noviarizal Fernandez | 15-07-2024

Jangan Asal Konsumsi Kecubung

Makin berbahaya jika dikonsumsi dengan minuman keras dan obat terlarang

Noviarizal Fernandez | 15-07-2024

Bayar Utang Miliaran Rupiah Lewat Terumbu Karang, Emang Bisa?

Utang Indonesia kepada Amerika Serikat akan dikonversi dengan perawatan atau konservasi terumbu karang

Context.id | 15-07-2024