Stories - 27 June 2022

Ingat! Beli Minyak Goreng Kini Pakai Pedulilindungi

Mulai hari ini (27/6/2022) pemerintah akan melakukan sosialisasi pembelian minyak goreng curah (MGCR) melalui aplikasi PeduliLindungi.


Pengunjung mengakses aplikasi pedulilindungi sebelum memasuki kawasan Mbloc Space, Jakarta, Selasa (31/8/2021). -ANTARA-

Context, JAKARTA - Mulai hari ini (27/6/2022) pemerintah akan melakukan uji coba pembelian minyak goreng curah (MGCR) melalui aplikasi PeduliLindungi. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan lewat keterangannya yang diunggah dalam bentuk video.

Di video tersebut, ia menyebutkan bahwa program uji coba ini akan diterapkan pada pembelian minyak goreng curah harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000 per liter atau Rp15.000 per kilogram. Selain itu, Luhut juga mengatakan kalau sosialisasi penggunaan aplikasi PeduliLindungi dalam pembelian MGCR ini akan berlangsung selama dua minggu. 

Setelah masa sosialisasi selesai, para konsumen akan diwajibkan menggunakan PeduliLindungi jika ingin membeli MGCR. Kemudian, selama masa sosialisasi, konsumen yang belum PeduliLindungi masih bisa membeli MGCR dengan menunjukkan NIK.

Wajibnya penggunaan PeduliLindungi untuk membeli MGCR ini bertujuan agar pendistribusian MGCR lebih tepat sasaran, lebih akuntabel, dan lebih mudah dipantau. 

"Penggunaan PeduliLindungi berfungsi jadi alat pemantau dan pengawasan di lapangan untuk memitigasi adanya penyelewengan di berbagai tempat dan dapat menyebabkan terjadinya kelangkaan juga kenaikan harga minyak goreng," jelas Luhut.

Untuk mendukung sistem baru ini, PeduliLindungi juga telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (SIMIRAH) yang dibuat oleh Kementerian Perindustrian bersama beberapa kementerian dan lembaga terkait.


Awal Mula Aplikasi PeduliLindungi

Dilansir dari kominfo.go.id, aplikasi PeduliLindungi diinisiasi oleh Kementerian BUMN, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta PT Telkom Indonesia. Aplikasi ini diluncurkan pada 27 Maret 2020. 

Menurut Staf Ahli Menkominfo Bidang Hukum Henry Subiakto, PeduliLindungi adalah aplikasi yang terinspirasi dari aplikasi Trace Together buatan Singapura. Meskipun begitu, PeduliLindungi bisa dipastikan 100% dibuat oleh Indonesia, dengan Telkom sebagai pengembang utamanya.

Pada awalnya, aplikasi ini dibuat khusus untuk mempermudah pemerintah melacak atau me-tracking penyebaran Covid-19 di Indonesia. Kemudian saat vaksin datang, PeduliLindungi menambahkan fitur untuk mengakses sertifikat vaksin. 

“Pada aplikasi ini kita juga dapat memeriksa status kesehatan. Jadi pada menu ‘akun’, terdapat fitur ‘status vaksinasi dan hasil tes Covid-19’. Pada menu tersebut, pengguna dapat mengetahui status vaksinnya apakah berwarna hijau, kuning, merah atau hitam,” kata Setiaji, Chief of Digital Transformation Office (DTO) Kementerian Kesehatan RI.


Perkembangannya Cepat

Wajibnya pengggunaan PeduliLindungi di masa pandemi membuat banyak masyarakat yang meng-install dan menggunakan aplikasi ini. Karena itu, perkembangan dari aplikasi ini juga bisa dibilang cepat. Dilansir dari kemkes.go.id, setelah setahun dirilis, PeduliLindungi sudah menggaet kerja sama dengan kurang lebih 50 mitra aplikasi lain.

Beberapa di antaranya adalah BNI Mobile, Cinema XXI, Dana, Grab, Gojek, Jaki, Loket.com, Livin’ Mandiri, Traveloka, Tiket.com, Tokopedia, Shopee, dan beberapa aplikasi lainnya. Kerjasama integrasi dengan aplikasi mitra tersebut terkait dengan upaya PeduliLindungi untuk memperluas cakupan penggunaan QR Code. Hasilnya, per Oktober 2021, aplikasi PeduliLindungi sudah memiliki pengguna lebih dari 73 juta dan memiliki lebih dari 25 ribu merchants.


Sempat Diwacanakan Jadi Aplikasi Pembayaran Digital

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, awalnya PeduliLindungi punya 3 fungsi utama, yaitu skrining status vaksinasi dan status swab test, tracing dan pelacakan, kemudian yang terakhir adalah sebagai pendukung implementasi protokol kesehatan.

Namun, melihat perkembangan PeduliLindungi yang cukup cepat, Menko Luhut punya ide lain. Ia sempat berwacana untuk menjadikan PeduliLindungi sebagai aplikasi pembayaran digital. Menurutnya, hal ini bukan lah sesuatu yang tidak mungkin. Pasalnya, Indonesia pernah berhasil dengan QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. 

“Karya Kreatif Indonesia terbukti mampu membangun produk premium disertai sitem pembayaran digital melalui QRIS. Jadi sekarang sudah melebar. Nanti mungkin kita coba masukkan ke digital PeduliLindungi, platform yang macam mana saja bisa masuk,” ungkap Luhut.

Wacana dari Luhut ini juga sempat didukung oleh peneliti ekonomi senior Center of Reform in Economics (CORE) Yusuf Rendy. Menurutnya, PeduliLindungi bisa dapat keuntungan besar jika menjadi aplikasi pembayaran digital. 

“Potensinya cukup luas karena Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu negara ekonomi digital terbesar dalam beberapa tahun ke depan. Jadi, penggunaan mata uang digital pembayaran non-cash akan semakin diminati oleh masyarakat,” kata Yusuf.

Namun, saat itu menurut Menkominfo Johny G. Plate, PeduliLindungi adalah aplikasi publik, bukan aplikasi privat yang bisa dikomersilkan. Ia juga mengatakan, kalau waktu itu tidak ada pembahasan mengenai hal tersebut dengan Kemenkes dan Telkom selaku penyelenggara sistem elektronik (PSE) dan pengembang PeduliLindungi. Namun, Johny tidak menutup kesempatan jika aplikasi ini akan dimanfaatkan untuk tujuan yang lain. 

“Apakah akan dikembangkan untuk aplikasi macam-macam? Sejauh untuk pelayanan publik ya boleh saja,” kata Johnny pada 27 September 2021.

Sampai pada hari ini (27/6/2022), keinginan Luhut memanfaatkan PeduliLindungi untuk tujuan lain akhirnya terwujud. Kedepannya, PeduliLindungi bukan hanya aplikasi Covid-19, namun juga aplikasi minyak goreng, atau bahkan nantinya berkembang lagi menjadi aplikasi serbaguna.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Miliarder Beli Klub Eropa, Ada Pengaruh ke Sepak Bola Indonesia?

Deretan pengusaha kakap Tanah Air miliki saham mayoritas di klub-klub sepak bola luar negeri

Noviarizal Fernandez | 17-05-2024

Polemik Pernikahan Massal 100 Anak Perempuan di Nigeria

Pendidikan lebih prioritas bagi anak-anak perempuan dibandingkan memaksanya untuk melakukan pernikahan

Context.id | 17-05-2024

Reimajinasi Baru Museum dan Cagar Budaya Menjadi Ruang Belajar Inklusif.

Kemdikbudristek meluncurkan Indonesian Heritage Agency atau IHA untuk memberikan citra baru bagi museum dan situs budaya nasional.

Context.id | 17-05-2024

Cerita Petani Kopi Binaan Starbucks, Kualitas Makin Baik Untung Kian Tebal

Starbucks FSC berkomitmen membantu para petani lokal dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam

Ririn oktaviani | 17-05-2024