Share

Home Stories

Stories 19 Desember 2024

Mencairnya Es Laut Antartika Memicu Lebih Banyak Badai di Samudra Selatan

Es laut Antartika bertindak sebagai selimut musim dingin yang melindungi Samudra Selatan atau Samudra Atlantik dari atmosfer dingin dan mengatur pertukaran panas

Pantauan badai di wilayah Atlantik/Lauren Dauphin/NASA Earth Observatory/NOAA/NESDIS

Context.id, JAKARTA - Studi terbaru memperingatkan mencairnya es laut Antartika memicu lebih banyak badai di Samudra Selatan, yang meningkatkan kekhawatiran mengganggu pola cuaca global. 

Penurunan es laut Antartika pada 2023 telah menyebabkan dua kali lipat peningkatan jumlah badai di wilayah tersebut.

Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Pusat Oseanografi Nasional Inggris ini menunjukkan proses pertukaran panas secara intensi ini telah menyebabkan tambahan tujuh hari badai per bulan di beberapa daerah. 

Selain itu, proses ini mengubah kepadatan air permukaan, yang berpotensi mengganggu sirkulasi laut dalam yang mempengaruhi suhu dan pola cuaca global.

Profesor Simon Josey peneliti utama dalam riset itu mengatakan hilangnya panas laut ke atmosfer meningkatkan kepadatan air di permukaan laut ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. 

Es laut Antartika bertindak sebagai selimut musim dingin yang melindungi Samudra Selatan atau Samudra Atlantik dari atmosfer dingin dan mengatur pertukaran panas. 

Ketika es ini mencair, panas dari lautan menguap ke atmosfer, mendinginkan air permukaan dan menjadikannya lebih padat. 

Proses ini dapat memicu efek berantai yang mencakup peningkatan aktivitas badai dan pergeseran sirkulasi laut dalam yang penting untuk pengaturan iklim planet ini.

Pada 2023, penutupan es laut di Antartika mencapai 50%-80% lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata musim dingin antara 1991 dan 2020 di wilayah-wilayah seperti Laut Weddell, Ross dan Bellingshausen. 

Penurunan ini disertai dengan pergeseran fase pada kehilangan panas laut puncak yang kini terjadi lebih lambat, yaitu pada bulan Juni, bukan pada puncaknya di akhir April.

Josey menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukan timnya, tahun-tahun dengan es laut yang rendah seperti ini akan memantik lebih banyak badai. 

Penurunan es laut Antartika tidak hanya mempengaruhi ekosistem lokal seperti populasi penguin, tetapi juga menimbulkan risiko signifikan bagi stabilitas iklim global. 

Sementara Andrew Meijers, kolega Josey menjelaskan proses pendinginan dan tenggelamnya air yang sebelumnya tertutup es laut dapat melepaskan air hangat yang biasanya terisolasi oleh lapisan permukaan es. 

"Hal ini memiliki potensi untuk mempercepat pencairan es laut pada tahun-tahun mendatang," tambahnya.

Dampak perubahan iklim ini bisa meluas jauh melampaui Antartika. Kehilangan panas yang lebih besar di Samudra Selatan dapat mempengaruhi sirkulasi atmosfer dan berpotensi mengubah pola cuaca hingga ke belahan Bumi Utara dan tropis.



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Stories 19 Desember 2024

Mencairnya Es Laut Antartika Memicu Lebih Banyak Badai di Samudra Selatan

Es laut Antartika bertindak sebagai selimut musim dingin yang melindungi Samudra Selatan atau Samudra Atlantik dari atmosfer dingin dan mengatur pertukaran panas

Pantauan badai di wilayah Atlantik/Lauren Dauphin/NASA Earth Observatory/NOAA/NESDIS

Context.id, JAKARTA - Studi terbaru memperingatkan mencairnya es laut Antartika memicu lebih banyak badai di Samudra Selatan, yang meningkatkan kekhawatiran mengganggu pola cuaca global. 

Penurunan es laut Antartika pada 2023 telah menyebabkan dua kali lipat peningkatan jumlah badai di wilayah tersebut.

Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Pusat Oseanografi Nasional Inggris ini menunjukkan proses pertukaran panas secara intensi ini telah menyebabkan tambahan tujuh hari badai per bulan di beberapa daerah. 

Selain itu, proses ini mengubah kepadatan air permukaan, yang berpotensi mengganggu sirkulasi laut dalam yang mempengaruhi suhu dan pola cuaca global.

Profesor Simon Josey peneliti utama dalam riset itu mengatakan hilangnya panas laut ke atmosfer meningkatkan kepadatan air di permukaan laut ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. 

Es laut Antartika bertindak sebagai selimut musim dingin yang melindungi Samudra Selatan atau Samudra Atlantik dari atmosfer dingin dan mengatur pertukaran panas. 

Ketika es ini mencair, panas dari lautan menguap ke atmosfer, mendinginkan air permukaan dan menjadikannya lebih padat. 

Proses ini dapat memicu efek berantai yang mencakup peningkatan aktivitas badai dan pergeseran sirkulasi laut dalam yang penting untuk pengaturan iklim planet ini.

Pada 2023, penutupan es laut di Antartika mencapai 50%-80% lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata musim dingin antara 1991 dan 2020 di wilayah-wilayah seperti Laut Weddell, Ross dan Bellingshausen. 

Penurunan ini disertai dengan pergeseran fase pada kehilangan panas laut puncak yang kini terjadi lebih lambat, yaitu pada bulan Juni, bukan pada puncaknya di akhir April.

Josey menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukan timnya, tahun-tahun dengan es laut yang rendah seperti ini akan memantik lebih banyak badai. 

Penurunan es laut Antartika tidak hanya mempengaruhi ekosistem lokal seperti populasi penguin, tetapi juga menimbulkan risiko signifikan bagi stabilitas iklim global. 

Sementara Andrew Meijers, kolega Josey menjelaskan proses pendinginan dan tenggelamnya air yang sebelumnya tertutup es laut dapat melepaskan air hangat yang biasanya terisolasi oleh lapisan permukaan es. 

"Hal ini memiliki potensi untuk mempercepat pencairan es laut pada tahun-tahun mendatang," tambahnya.

Dampak perubahan iklim ini bisa meluas jauh melampaui Antartika. Kehilangan panas yang lebih besar di Samudra Selatan dapat mempengaruhi sirkulasi atmosfer dan berpotensi mengubah pola cuaca hingga ke belahan Bumi Utara dan tropis.



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bukan Cuma Kafe, di Blok M Juga Ada Koperasi Kelurahan Merah Putih

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai di Blok M Hub, Jakarta Selatan merupakan Koperasi Merah Putih tingkat kelurahan pertama di Indonesia

Renita Sukma . 26 August 2025

TikTok Rilis Fitur Kampus, Mirip Facebook Versi Awal

Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan enam dari sepuluh remaja di AS mengaku rutin menggunakan TikTok dan fitur ini bisa menggaet lebih ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Bubur Ayam Indonesia Dinobatkan sebagai Bubur Terenak di Dunia!

TasteAtlas menempatkan bubur ayam Indonesia sebagai bubur terenak dunia mengungguli Arroz Caldo dari Filipina serta Chè ba màu, bubur khas Vietn ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 26 August 2025

Menang di WTO, Mendag Dorong Uni Eropa Cabut Bea Imbalan Biodiesel

Pemerintah Indonesia mendesak Uni Eropa agar segera menghapus bea masuk imbalan atas impor produk biodiesel RI setelah terbitnya keputusan WTO

Renita Sukma . 25 August 2025