Share

Home Stories

Stories 17 April 2024

Sejarah Peperangan Iran 40 Tahun Silam

Perang dengan sesama negara Timur Tengah pernah dilakukan oleh Iran lebih dari 40 tahun silam

Perang Irak-Iran 1980-1988/History.com

Context.id, JAKARTA - Iran telah melancarkan serangan terhadap Israel pekan lalu, sebagai bentuk pembalasan atas serangan Israel di Kedutaan Iran di Damaskus, Suriah.

Serangan balasan itu persis seperti yang pernah dilakukan oleh Iran lebih dari 40 tahun silam, sebagai respon atas serangan dari tetangganya, Irak.

Iran dan Irak merupakan negara bertetangga di Teluk Persia. Dilansir dari history.com, tensi antara kedua negara sebenarnya kian menghangat pada era 1970-an, dalam perebutan wilayah Shatt al-Arab.

Wilayah itu merupakan jalur air yang terbentuk dari pertemuan sungai Tigris dan Eufrat yang menjadi batas kedua negara.

Pada 1975, kedua negara menandatangani persetujuan Algiers yang pada pokoknya mengurangi kontrol Irak di jalur air itu.



Sebagai gantinya, Iran juga mengurangi sokongan terhadap etnis Kurdi yang ingin merdeka di sisi utara Irak.

Titik balik dari perseteruan baru antar kedua negara bermula ketika terjadi revolusi Iran pada 1978-1979.

Pemerintahan pro barat Shah Reza Pahlevi digulingkan oleh pergerakan yang dipimpin ulama Syiah, Ayatollah Khomeini.

Saddam Husein yang menjadi presiden Irak pada 1979 atas dukungan minoritas sunni di Irak merasa gentar jika kaum Syiah Irak juga memberontak, lantaran terinspirasi dari revolusi Iran.

Dia juga berupaya untuk melangkahi persetujuan 1975 dan ingin mengontrol  sebagai satu-satunya akses ke Teluk Persia.

Menyadari militer Iran dalam keadaan lemah pascarevolusi, Saddam memutuskan untuk melakukan serangan terhadap Iran pada 22 September 1980.

Pangkalan militer Iran dibombardir disusul serbuan pasukan infrantri dan kavaleri ke wilayah penghasil minyak di Iran, Khuzestan.

Serangan ini terbilang sukses di mana Irak berhasil menganeksasi kota Khorramshahr.

Akan tetapi, kegemilangan Irak tidak bertahan lama lantaran menemui perlawanan yang keras dari Iran yang selain mengandalkan tentara regular, juga mendapatkan sokongan dari kelompok milisi sipil bersenjata.

Pada 1981, Iran meluncurkan serangan balasan secara terus-menerus dan pada awal 1982, negara itu berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya diduduki oleh Irak.

Pada akhir 1982, pasukan Irak telah mundur ke batas wilayah sebelum terjadinya perang.

Menyadari hal ini, Saddam Hussein mencoba untuk menjajaki perdamaian dengan Iran namun di bawah kepemimpinan Khomeini, Iran menolak tawaran damai dan terus menyatakan perang dengan tujuan untuk menggulingkan Saddam.

Pada Juli 1982, Iran  menginvasi teritori Irak dengan menguasai wilayah Basra, sebuah kota pelabuhan di Irak.

Sejak saat itu, kedua negara silih berganti melakukan pertempuran di sepanjang perbatasan dengan menargetkan kota-kota musuh, fasilitas militer maupun daerah penghasil minyak.

Irak yang memiliki pasukan terlatih, disokong oleh negara lain seperti Arab Saudi, Kuwait dan negara Arab lainnya serta Amerika Serikat, terus memberikan perlawanan.

Perang yang berkepanjangan menyebabkan terjadi demoralisasi di pihak Iran sehingga mendorong negara itu untuk menerima upaya perdamaian yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Lahirlah resolusi 598 dan perang secara resmi berakhir pada 2 Agustus 1988.

Akibat perang itu, terjadi kerugian bagi kedua negara sekitar US$2 juta dan menewaskan 500,000 orang termasuk ribuan etnis Kurdi yang dihempaskan oleh pasukan Irak.



Penulis : Noviarizal Fernandez

Editor   : Wahyu Arifin

Home Stories

Stories 17 April 2024

Sejarah Peperangan Iran 40 Tahun Silam

Perang dengan sesama negara Timur Tengah pernah dilakukan oleh Iran lebih dari 40 tahun silam

Perang Irak-Iran 1980-1988/History.com

Context.id, JAKARTA - Iran telah melancarkan serangan terhadap Israel pekan lalu, sebagai bentuk pembalasan atas serangan Israel di Kedutaan Iran di Damaskus, Suriah.

Serangan balasan itu persis seperti yang pernah dilakukan oleh Iran lebih dari 40 tahun silam, sebagai respon atas serangan dari tetangganya, Irak.

Iran dan Irak merupakan negara bertetangga di Teluk Persia. Dilansir dari history.com, tensi antara kedua negara sebenarnya kian menghangat pada era 1970-an, dalam perebutan wilayah Shatt al-Arab.

Wilayah itu merupakan jalur air yang terbentuk dari pertemuan sungai Tigris dan Eufrat yang menjadi batas kedua negara.

Pada 1975, kedua negara menandatangani persetujuan Algiers yang pada pokoknya mengurangi kontrol Irak di jalur air itu.



Sebagai gantinya, Iran juga mengurangi sokongan terhadap etnis Kurdi yang ingin merdeka di sisi utara Irak.

Titik balik dari perseteruan baru antar kedua negara bermula ketika terjadi revolusi Iran pada 1978-1979.

Pemerintahan pro barat Shah Reza Pahlevi digulingkan oleh pergerakan yang dipimpin ulama Syiah, Ayatollah Khomeini.

Saddam Husein yang menjadi presiden Irak pada 1979 atas dukungan minoritas sunni di Irak merasa gentar jika kaum Syiah Irak juga memberontak, lantaran terinspirasi dari revolusi Iran.

Dia juga berupaya untuk melangkahi persetujuan 1975 dan ingin mengontrol  sebagai satu-satunya akses ke Teluk Persia.

Menyadari militer Iran dalam keadaan lemah pascarevolusi, Saddam memutuskan untuk melakukan serangan terhadap Iran pada 22 September 1980.

Pangkalan militer Iran dibombardir disusul serbuan pasukan infrantri dan kavaleri ke wilayah penghasil minyak di Iran, Khuzestan.

Serangan ini terbilang sukses di mana Irak berhasil menganeksasi kota Khorramshahr.

Akan tetapi, kegemilangan Irak tidak bertahan lama lantaran menemui perlawanan yang keras dari Iran yang selain mengandalkan tentara regular, juga mendapatkan sokongan dari kelompok milisi sipil bersenjata.

Pada 1981, Iran meluncurkan serangan balasan secara terus-menerus dan pada awal 1982, negara itu berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya diduduki oleh Irak.

Pada akhir 1982, pasukan Irak telah mundur ke batas wilayah sebelum terjadinya perang.

Menyadari hal ini, Saddam Hussein mencoba untuk menjajaki perdamaian dengan Iran namun di bawah kepemimpinan Khomeini, Iran menolak tawaran damai dan terus menyatakan perang dengan tujuan untuk menggulingkan Saddam.

Pada Juli 1982, Iran  menginvasi teritori Irak dengan menguasai wilayah Basra, sebuah kota pelabuhan di Irak.

Sejak saat itu, kedua negara silih berganti melakukan pertempuran di sepanjang perbatasan dengan menargetkan kota-kota musuh, fasilitas militer maupun daerah penghasil minyak.

Irak yang memiliki pasukan terlatih, disokong oleh negara lain seperti Arab Saudi, Kuwait dan negara Arab lainnya serta Amerika Serikat, terus memberikan perlawanan.

Perang yang berkepanjangan menyebabkan terjadi demoralisasi di pihak Iran sehingga mendorong negara itu untuk menerima upaya perdamaian yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Lahirlah resolusi 598 dan perang secara resmi berakhir pada 2 Agustus 1988.

Akibat perang itu, terjadi kerugian bagi kedua negara sekitar US$2 juta dan menewaskan 500,000 orang termasuk ribuan etnis Kurdi yang dihempaskan oleh pasukan Irak.



Penulis : Noviarizal Fernandez

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bank Digital Bantu Gen Z Menabung atau Justru Makin Boros?

Bank digital mempermudah transaksi, tapi tanpa disiplin finansial, kemudahan itu bisa jadi jebakan konsumtif.

Renita Sukma . 30 March 2025

Darah Buatan: Berapa Lama Lagi Terwujud?

Di lab canggih dari Inggris hingga Jepang, para ilmuwan berupaya menciptakan yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah darah buatan. r n

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Negara Penghasil Kurma Terbesar di Dunia dan Kontroversi di Baliknya

Kurma tumbuh subur di wilayah beriklim panas dengan musim kering yang panjang sehingga banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika Utara

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Push-up Ternyata Bisa Mempengaruhi Hidup Pegiatnya

Push-up lebih dari sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membangun disiplin dan kepercayaan diri

Noviarizal Fernandez . 24 March 2025