Share

Home Stories

Stories 23 Mei 2023

Awas, Industri Kritis Dibidik Peretas

Setiap minggunya hampir selalu ada ribuan serangan siber. Alhasil, industri kritis atau penting harus mewaspadainya melalui penguatan keamanan siber

Ada ribuan serangan siber tiap minggu, Industri maupun lembaga negara wajib perkuat sistem keamanannya\\r\\n

Context.id, JAKARTA--Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) mengungkapkan bahwa aksi peretasan yang dilakukan peretas terhadap industri perbankan beberapa waktu terakhir merupakan bom waktu yang sudah lama mengintai industri tersebut.

Ketua Umum ICSF, Ardi Sutedja memprediksi tidak hanya industri perbankan saja yang kini tengah dibidik oleh para peretas, melainkan industri kritis lainnya. Pasalnya, menurut Ardi, sektor industri kritis dianggap tidak memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi peretasan yang berdampak pada kebocoran data pribadi.

“Penyebabnya itu karena tidak adanya kesiapan dan kesiap-siagaan kita semua untuk memahami serta seperti apa itu yang namanya Hambatan, Tantangan, Ancaman dan Gangguan (HTAG) siber,” tuturnya kepada Context di Jakarta, Senin (22/5).

Menurut Ardi, teknologi pengamanan yang canggih untuk mengantisipasi serangan siber tidak akan berguna jika tidak sejalan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sebuah korporasi. Ia melihat SDM yang minim pengetahuan keamanan siber bisa menjadi celah masuknya peretasan ke sebuah perusahaan yang mengakibatkan kebocoran data.

“SDM pun harus ada tiga lapis, pertama ada di pimpinan lembaga atau organisasi, pengelola dan pengguna. Semua harus memiliki kepekaan terhadap resiko-resiko yang ada di ranah ruang siber,” katanya.

Dia berpandangan HTAG siber saat ini sudah semakin canggih dan kompleks, bahkan melibatkan pelaku kejahatan profesional dan terorganisir secara global. Menurutnya, seluruh sektor industri kritis atau penting harus mulai memperhatikan keamanan siber pada perusahaan sehingga tidak menjadi korban di kemudian hari.

“Lantas apakah kita siap berhadapan dengan ancama serta risiko yang demikian, jawabannya jelas tidak dan terbukti pada insiden ransomware yang terjadi pada 2 minggu yang lalu pada sebuah lembaga keuangan nasional yang cukup besar,” ujarnya.



Penulis : Sholahuddin Ayyubi

Editor   : Wahyu Arifin

Home Stories

Stories 23 Mei 2023

Awas, Industri Kritis Dibidik Peretas

Setiap minggunya hampir selalu ada ribuan serangan siber. Alhasil, industri kritis atau penting harus mewaspadainya melalui penguatan keamanan siber

Ada ribuan serangan siber tiap minggu, Industri maupun lembaga negara wajib perkuat sistem keamanannya\\r\\n

Context.id, JAKARTA--Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) mengungkapkan bahwa aksi peretasan yang dilakukan peretas terhadap industri perbankan beberapa waktu terakhir merupakan bom waktu yang sudah lama mengintai industri tersebut.

Ketua Umum ICSF, Ardi Sutedja memprediksi tidak hanya industri perbankan saja yang kini tengah dibidik oleh para peretas, melainkan industri kritis lainnya. Pasalnya, menurut Ardi, sektor industri kritis dianggap tidak memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi peretasan yang berdampak pada kebocoran data pribadi.

“Penyebabnya itu karena tidak adanya kesiapan dan kesiap-siagaan kita semua untuk memahami serta seperti apa itu yang namanya Hambatan, Tantangan, Ancaman dan Gangguan (HTAG) siber,” tuturnya kepada Context di Jakarta, Senin (22/5).

Menurut Ardi, teknologi pengamanan yang canggih untuk mengantisipasi serangan siber tidak akan berguna jika tidak sejalan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sebuah korporasi. Ia melihat SDM yang minim pengetahuan keamanan siber bisa menjadi celah masuknya peretasan ke sebuah perusahaan yang mengakibatkan kebocoran data.

“SDM pun harus ada tiga lapis, pertama ada di pimpinan lembaga atau organisasi, pengelola dan pengguna. Semua harus memiliki kepekaan terhadap resiko-resiko yang ada di ranah ruang siber,” katanya.

Dia berpandangan HTAG siber saat ini sudah semakin canggih dan kompleks, bahkan melibatkan pelaku kejahatan profesional dan terorganisir secara global. Menurutnya, seluruh sektor industri kritis atau penting harus mulai memperhatikan keamanan siber pada perusahaan sehingga tidak menjadi korban di kemudian hari.

“Lantas apakah kita siap berhadapan dengan ancama serta risiko yang demikian, jawabannya jelas tidak dan terbukti pada insiden ransomware yang terjadi pada 2 minggu yang lalu pada sebuah lembaga keuangan nasional yang cukup besar,” ujarnya.



Penulis : Sholahuddin Ayyubi

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Bank Digital Bantu Gen Z Menabung atau Justru Makin Boros?

Bank digital mempermudah transaksi, tapi tanpa disiplin finansial, kemudahan itu bisa jadi jebakan konsumtif.

Renita Sukma . 30 March 2025

Darah Buatan: Berapa Lama Lagi Terwujud?

Di lab canggih dari Inggris hingga Jepang, para ilmuwan berupaya menciptakan yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah darah buatan. r n

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Negara Penghasil Kurma Terbesar di Dunia dan Kontroversi di Baliknya

Kurma tumbuh subur di wilayah beriklim panas dengan musim kering yang panjang sehingga banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika Utara

Noviarizal Fernandez . 25 March 2025

Push-up Ternyata Bisa Mempengaruhi Hidup Pegiatnya

Push-up lebih dari sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membangun disiplin dan kepercayaan diri

Noviarizal Fernandez . 24 March 2025