Stories - 30 December 2022

Latto-Latto VS Everybody: Permasalahannya Dulu dan Kini

Sebelum seperti yang kita ketahui sekarang, ternyata latto-latto memiliki bahan dasar yang berbeda di masa-masa awalnya.


Anak-anak di Amerika Serikat sedang memainkan latto-latto yang bolanya terbuat dari kaca pada 1970-an. -Twitter/@ScarredForLife2\\\\\\\\r\\\\\\\\n

Context, JAKARTA - Latto-latto adalah mainan yang saat ini sedang digemari banyak anak di Indonesia. Tapi tahu kah kamu, ternyata mainan anak ini pernah dilarang di sejumlah negara.

Latto-latto memang bukan permainan asli Indonesia, melainkan berasal dari Amerika Serikat (AS). Mainan anak ini pertama kali populer di kalangan anak kecil pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an.

Dilansir Tempo, di negara asalnya tersebut latto-latto disebut dengan beberapa nama, yaitu clackers, click-clacks, knockers, ker-banks, dan clankers. Setelah menyebar ke seluruh dunia, namanya pun semakin beragam. Di Yunani permainan ini disebut sebagai taka-taka, dan di Indonesia disebut sebagai latto-latto, nok-nok, dan sebagainya.

Saking populernya, di beberapa negara pun diadakan kompetisi latto-latto, termasuk di Indonesia yang beberapa kompetisi latto-lattonya sempat viral di media sosial.


Latto-Latto Berbahaya?

Latto-latto yang kita kenal sekarang terdiri dari tali dan dua bola plastik. Namun, pada masa-masa awal, dua bola di mainan latto-latto tidak lah terbuat dari plastik, melainkan terbuat dari kaca. 

Hal tersebut lah yang menjadikan mainan latto-latto dinilai berbahaya bagi anak-anak. Sebab jika dimainkan terlalu cepat, dua bola kaca yang berbenturan berkali-kali akan pecah dan serpihannya dapat melukai anak-anak dan orang lain di sekitarnya.

Bahkan sempat ada laporan dari New York Times pada 12 februari 1971 bahwa latto-latto telah mengakibatkan empat orang cedera. Mengutip The Best, AS pun mengklasifikasikan permainan tersebut sebagai “Mechanical Hazard” pada 1976.

Dikutip dari prosyd.co.id, “Mechanical Hazard” sendiri adalah bahaya yang bisa terjadi akibat proses gerakan pada suatu benda yang dapat menimbulkan dampak seperti tertusuk, terpotong, terjepit, atau pun tergores.

Selain berbahaya, ternyata permainan ini juga dianggap menjengkelkan bagi banyak orang karena suaranya yang bising. Keluhan suara bising akibat latto-latto ini muncul di mana-mana, mulai dari AS hingga Eropa.

Melansir mixanitouxronou.gr, pada 1970-an saat latto-latto mencapai puncak popularitasnya di Yunani, latto-latto menjadi permainan yang sangat dibenci oleh banyak masyarakat. Hingga akhirnya mainan ini sempat dilarang pada 1972 di bawah rezim Junta Militer dengan alasan “mengganggu ketenangan penduduk”. Mainan tersebut pun ditarik dari semua pasar di Yunani.

Selain Yunani, AS melalui Drug Administration-nya juga sempat melarang penjualan mainan ini karena dianggap berbahaya.


Mulai Populer Kembali pada 1990-an

Setelah adanya rentetan masalah yang membuat popularitas latto-latto menurun, akhirnya mainan ini muncul kembali di era 90-an. Namun kali ini dengan bahan yang berbeda, dari yang sebelumnya kaca, menjadi plastik.

Meskipun begitu, latto-latto yang hadir dengan tampilan berbeda tersebut sepertinya tidak langsung kembali menjadi mainan favorit anak-anak, seperti di era 1960-an hingga 1970-an. Bahkan, pada 2017 permainan ini kembali menyebabkan masalah.

Masalah tersebut terjadi di Mesir, latto-latto atau yang disebut juga sebagai Sisi’s balls di negara tersebut sempat dijadikan alat propaganda politik. Penamaan Sisi’s balls atau yang berarti “bolanya Sisi” tersebut merujuk pada buah zakar dari Presiden Mesir kala itu, Abdel Fattah el-Sisi. 

Karena dianggap menyinggung pemerintah, saat itu polisi Mesir memerintahkan untuk menangkap para penjual dan menyita mainan latto-latto dari peredaran.

Hingga akhirnya pada akhir tahun 2022, latto-latto mendapatkan popularitasnya kembali di kalangan anak-anak, khususnya anak-anak di Indonesia. Namun, latto-latto tetap tidak pernah lepas dari masalah, terutama kebisingannya yang dianggap sangat mengganggu ketenangan bagi sebagian orang. 


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Context.id

MORE  STORIES

Miliarder Beli Klub Eropa, Ada Pengaruh ke Sepak Bola Indonesia?

Deretan pengusaha kakap Tanah Air miliki saham mayoritas di klub-klub sepak bola luar negeri

Noviarizal Fernandez | 17-05-2024

Polemik Pernikahan Massal 100 Anak Perempuan di Nigeria

Pendidikan lebih prioritas bagi anak-anak perempuan dibandingkan memaksanya untuk melakukan pernikahan

Context.id | 17-05-2024

Reimajinasi Baru Museum dan Cagar Budaya Menjadi Ruang Belajar Inklusif.

Kemdikbudristek meluncurkan Indonesian Heritage Agency atau IHA untuk memberikan citra baru bagi museum dan situs budaya nasional.

Context.id | 17-05-2024

Cerita Petani Kopi Binaan Starbucks, Kualitas Makin Baik Untung Kian Tebal

Starbucks FSC berkomitmen membantu para petani lokal dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam

Ririn oktaviani | 17-05-2024