Peserta Komunitas Seni dan Budaya Bakul Budaya FIB UI mengenakan pakaian kebaya dan pakaian pejuang saat peragaan busana. - Bisnis Indonesia -

Stories

Sejarah Kebaya yang Didaftarkan Singapura ke UNESCO

Crysania Suhartanto - 28 November 2022

Context.id, JAKARTA - Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand akan menominasikan kebaya untuk masuk ke dalam daftar warisan budaya tak benda UNESCO. Namun, keempat negara tersebut juga mempersilahkan negara lain untuk bergabung dalam nominasi tersebut.

“Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand sepakat untuk bekerjasama dalam nominasi multinasional ini karena kebaya mewakili dan merayakan sejarah bersama yang kaya di kawasan ini, mempromosikan pemahaman lintas budaya, dan terus hadir dan secara aktif diproduksi dan dikenakan oleh banyak komunitas di seluruh Asia Tenggara,” ujar Dewan Warisan Nasional Singapura, pada Rabu (25/11/2022) dikutip dari Tempo.

Diketahui, pendaftaran ini dipelopori dan dikoordinasikan oleh Malaysia, dan kemudian diikuti oleh ketiga negara lainnya. Pasalnya, jika menurut Kepala Eksekutif NHB, Chang Hwee Nee menyatakan bahwa kebaya merupakan representasi identitas Melayu, peranakan, dan masyarakat lainnya di Singapura. Adapun hasil nominasi ini akan diumumkan pada akhir 2024.

Sebelumnya, sejumlah masyarakat Indonesia pernah mendorong pemerintah untuk melakukan pendaftaran kebaya ke dalam daftar warisan budaya UNESCO. KBRI Washington DC bersama ratusan diaspora Indonesia melakukan kampanye “Kebaya Goes to UNESCO”.

Adapun sekitar 200 perempuan di wilayah Washington DC dan sekitarnya turut meramaikan parade “Cantik Berkebaya” di kawasan National Mall, di pusat kota Washington DC, Minggu (7/8/2022).


Memangnya Kebaya Asalnya dari Mana?

Dikutip dari Bisnis, kebaya pada dasarnya adalah pakaian tradisional yang dipakai sebagai atasan. Biasanya, ia dipadukan dengan wastra Nusantara sebagai bawahan, seperti batik, tenun, songket, ataupun jenis pakaian lainnya.

Sebenarnya ada banyak pendapat yang menyatakan dari mana kebaya berasal, mulai dari Timur Tengah hingga China. Pasalnya, kebaya tunik lengan panjang sangat mirip dengan pakaian yang digunakan perempuan pada masa Dinasti Ming atau yang sekarang China.

Namun, banyak pula yang percaya bahwa kebaya berasal dari para pedagang Arab yang diperkenalkan ke Indonesia pada abad ke-15 dan 16.

Dikutip Expat, hingga saat ini masih belum diketahui kapan kebaya benar-benar datang ke Indonesia dan dibawa oleh siapa. Soalnya, jenis baju tradisional yang satu ini begitu cepat menyebar ke seluruh Indonesia dan memiliki variasi khas daerahnya tersendiri.

Namun yang pasti, kebaya ini merupakan salah satu saksi sejarah perkembangan Indonesia dari era penjajahan Belanda.

Pasalnya, kebaya menjadi bukti sejarah emansipasi wanita di Indonesia pada masa era R.A. Kartini. Lalu, selama abad ke-19 dan sebelum nasionalisme muncul di abad-20, kebaya semakin luas digunakan, baik oleh perempuan Indonesia, Eurasia, hingga Eropa, yang tentunya dengan sejumlah penyesuaian. Adapun pada saat itu, bahan dasar dan warna dari kebaya lah yang menjadi penentu strata dan kelas sosial perempuan saat itu.

Lalu pada 1920 an, kebaya pun mulai muncul sebagai busana nasional Indonesia. Namun, karena itu pula para perempuan Eropa mulai menghentikan penggunaan kebaya karena diidentikan dengan pakaian khas Indonesia.

Selanjutnya, pada masa Jepang, para tawanan perang perempuan Indonesia yang terpelajar lebih memilih kain-kebaya dibandingkan pakaian dari barat. Kemudian, kebaya juga menjadi salah satu tanda untuk menegaskan posisi politik mereka dan membedakan mereka dengan wanita Eropa yang juga menjadi tawanan perang.


Editor : Putri Dewi


Tonton Lainnya