Stories - 24 August 2022

Banyak Bayi yang Lahir Bisa Bawa Bencana, Kok Bisa?

Tingginya tingkat kelahiran di sebuah negara yang tidak siap, ternyata dapat menimbulkan masalah kesehatan dan ekonomi.


Seorang bayi malnutrisi di Afrika sedang ditimbang. -UNICEF-

Context, JAKARTA - Jumlah kelahiran bayi di suatu negara tidak hanya sebatas angka. Jumlah kelahiran bayi tersebut akan menentukan tingkat kelahiran, yang juga akan berdampak pada kondisi kesehatan dan ekonomi suatu negara.

Tingkat kelahiran (birth rate) sendiri adalah penentu penting dari pertumbuhan atau penurunan populasi dan struktur usia populasi. Naik turunnya populasi tersebut bisa menjadi ukuran untuk memprediksi laju ekonomi, bahkan kesehatan.

Dilansir dari Visual Capitalist, setiap empat menit, akan ada 1.000 bayi yang lahir di seluruh dunia. Dari angka tersebut, CIA World Factbook telah mengumpulkan data mengenai asal negara bayi-bayi itu lahir pada 2022. 

Kemudian dari data yang dikumpulkan, dari 1.000 bayi yang akan lahir, India menjadi penyumbang terbanyak anak bayi, yaitu sebanyak 172 bayi. Hal ini bisa dibilang wajar, pasalnya saat ini Indina menempati posisi kedua negara dengan populasi terbanyak, yaitu 1,4 miliar jiwa. Kemudian India juga diperkirakan akan menyusul China dari posisi pertama.

Lalu, penyumbang bayi terbanyak kedua adalah China dengan 103 bayi. Meskipun begitu, hingga kini China masih menjadi negara dengan populasi terbanyak di dunia. Di peringkat ketiga ada Nigeria dengan menyumbang sebanyak 57 anak bayi. Hal ini cukup mengejutkan, pasalnya populasi Nigeria saat ini hanya duduk di peringkat ketujuh dengan 220 juta jiwa. Sedangkan Indonesia sendiri menjadi negara penyumbang bayi terbanyak keenam dengan 31 bayi. 

Menariknya dari angka-angka tersebut, meskipun India menempati peringkat pertama penyumbang bayi dari 1.000 bayi yang akan lahir di seluruh dunia, namun tingkat kelahiran negara tersebut masih berada sedikit di bawah rata-rata global, yaitu 16,8 persen dibandingkan 17,7 persen (rata-rata global). China yang ada di peringkat kedua juga sama, tingkat kelahirannya masih ada di bawah rata-rata global. 

Lagi-lagi, yang menjadi perhatian adalah Nigeria. Jika dilihat dari angka-angkanya, wajar bila negara ini duduk di peringkat ketiga penyumbang bayi, namun masih duduk di peringkat ketujuh negara dengan populasi terbanyak. Pasalnya, tingkat kelahiran dari negara tersebut sangat lah tinggi, yaitu 34,2 persen, hampir dua kali lipat rata-rata global.


Apa Salahnya Jika Tingkat Kelahiran Tinggi?

Dilansir dari sebuah artikel dalam laman Walden University, tingkat Kelahiran yang tinggi akan menjadi sebuah masalah kesehatan yang besar jika dialami oleh sebuah negara yang belum “siap” dalam hal sumber daya, infrastruktur, seperti klinik kesehatan, rumah sakit, edukasi, dan lain sebagainya. 

Salah satu negara yang mengalami hal ini adalah Nigeria. Di balik tingkat kelahirannya yang cukup tinggi, dari sisi ekonomi, Nigeria masih lah sebuah negara berkembang. Negara ini juga menempati urutan ke-131 secara global dalam hal PDB per kapita.

Tingginya angka kelahiran yang tidak didukung oleh sumber daya dan infrastruktur yang baik ini akhirnya malah menimbulkan masalah kesehatan, di antaranya seperti stunting, underweight, dan wasting. Dilansir dari Tempo, stunting adalah kondisi dimana seorang anak memiliki gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Biasanya, hal ini disebabkan malnutrisi atau gizi buruk. Akibatnya, postur tubuhnya tidak setinggi anak seusianya.

Kemudian, underweight adalah kondisi dimana seorang anak memiliki berat badan yang terlalu rendah di usianya. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, pasalnya sang anak bisa mudah terserang penyakit akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Lalu, wasting adalah kondisi pada seorang anak yang memiliki berat badan rendah jika dibandingkan dengan tinggi badannya. Bahasa sederhananya, anak tersebut memiliki tubuh yang kurus, meskipun tinggi tubuhnya sudah sesuai anak seusianya.

Sebagai negara yang belum terlalu siap menghadapi lonjakan tingkat kelahiran, kondisi seperti ini lah yang dialami oleh Nigeria. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) pada 2015, 37 persen atau sekitar 6 juta anak-anak di Nigeria mengalami stunting, lebih dari setengahnya dalam kondisi parah.

Selain itu, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa 29 persen anak-anak di Nigeria mengalami underweight, hampir setengahnya terbilang parah. Kemudian, 18 persen anak-anak di Nigeria juga menderita wasting, setengahnya dalam kondisi parah.


Dari Masalah Kesehatan, Bisa Jadi Masalah Ekonomi

Masalah kesehatan akibat tingginya tingkat kelahiran ini dapat menimbulkan efek domino, salah satunya ke sektor pertumbuhan ekonomi. Contohnya, stunting yang terjadi pada anak-anak akan menurunkan kecerdasan dan kemampuan kognitifnya. Selain itu, metabolisme tubuh akan terganggu, akibatnya adalah rentan terhadap penyakit.

Jika masalah ini tidak berhasil diatasi, melansir dari Bisnis, stunting bisa menurunkan produktivitas masa depan. Padahal, produktivitas pada sumber daya manusia adalah kunci untuk melakukan pembangunan ekonomi.

Contohnya di Indonesia sendiri, stunting juga telah menjadi sebuah masalah yang sedang diatasi. Saat ini, tercatat 24,4 persen anak Indonesia mengalami stunting, dan ditargetkan turun hingga 14 persen pada 2024. 

Menurut Wakil Presiden Indonesia Ma’ruf Amin, stunting telah merugikan negara hingga Rp300 triliun per tahunnya. Selain itu, Bank Dunia juga menyebutkan bahwa stunting, serta underweight dan wasting telah menyumbang kerugian ekonomi sebesar 2 hingga 3 persen terhadap total PDB sebuah negara.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Suara Golkar Terbesar di Koalisi Prabowo, Jatah Menterinya Banyak?

Kinerja perolehan suara mentereng dalam Pemilu Legislatif atau Pileg 2024 dinilai menjadi tolok ukur

Noviarizal Fernandez | 24-04-2024

Laga Panas Para Jawara di AFC Cup U-23

Tiga mantan pemenang Piala Asia AFC U23 lainnya juga turut lolos ke babak penentu itu

Noviarizal Fernandez | 24-04-2024

Tren Positif Berlanjut, Industri Mobil Listrik Makin Menjanjikan

Pada 2023 lalu, penjualan mobil listrik memecahkan rekor penjualan mencapai 14 juta unit secara global atau setara dengan 18% dari seluruh penjual ...

Context.id | 24-04-2024

Profi Tiga Hakim Dissenting Opinion Putusan MK Soal Pilpres 2024

Tiga hakim ajukan pendapat berbeda dengan lima hakim lainnya terkait putusan MK yang menolak permohonan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud

Context.id | 23-04-2024