Stories - 19 August 2022

Di Pulau Ini, Batu Raksasa Dijadikan Mata Uang

Di sebuah pulau di kawasan Pasifik, hingga sekarang masyarakatnya masih menggunakan batu sebagai mata uang.


ilustrasi batu sebagai mata uang. - Puspa Larasati -

Context, JAKARTA - Sebentar lagi, masyarakat Indonesia bakal punya tujuh pecahan uang kertas dengan desain yang baru. Bertepatan dengan momen kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Bank Indonesia (BI) dan pemerintah menyatakan bahwa Uang Kertas Tahun Emisi 2022 secara resmi berlaku.

Uang kertas dengan desain terbaru ini terdiri dari pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp.10.000, Rp5.000, Rp.2.000, dan Rp.1.000. Kemudian, dalam uang emisi terbaru ini juga masih mempertahankan gambar pahlawan nasional dan kekayaan budaya serta alam Indonesia di setiap sisinya.

Di Indonesia, dalam beberapa periode sekali memang uang kertas akan dilakukan perubahan, baik dari desainnya, teknologinya, atau bahkan jumlah 0 dalam rupiah tergantung dengan perubahan kurs. Tapi, jika kita tarik lebih jauh lagi, perubahan yang terjadi bukan hanya dalam uang tersebut, namun juga kepada bentuk dari uang sebagai alat tukar. 

Sebelum terciptanya mata uang kripto, uang kertas dan uang logam, alat tukar atau uang yang digunakan di seluruh dunia itu sangat beragam. Ada yang menggunakan kerang sebagai alat tukar, ada yang menggunakan berlian, perak, emas, dan bahkan ada yang menggunakan sistem barter. 

Tapi tahukah kamu? di sebuah pulau di kawasan Pasifik, hingga sekarang masyarakatnya masih menggunakan batu sebagai mata uang. Pulau yang dimaksud adalah Pulau Yap, salah satu pulau di Kepulauan Mikronesia. 

Batu yang dimaksud itu bukanlah batu kecil biasa, melainkan batu besar yang ukurannya bisa sebesar mobil. Ratusan dari batu-batu ini bisa kamu lihat di sepanjang jalan Pulau Yap. Kalau berkunjung ke Pulau ini, kita bisa melihat uang batu ini di depan hotel, ada yang di samping pantai, ada yang terletak di dalam hutan, bahkan ada juga yang terletak di bawah laut.


Jika Batunya Besar, Bagaimana Cara Transaksinya?

Beda dengan konsep uang yang kita tahu selama ini. Normalnya, nilai dari sebuah uang itu sudah fix. Misalnya, kalau sebuah uang kertas bertuliskan Rp5.000, maka nilainya sudah pasti 5 ribu rupiah. Namun, uang batu yang juga disebut rai ini nilainya dilihat dengan seberapa besar batu tersebut. Makin besar batunya, makin besar nilainya. 

Cara transaksinya juga unik, penduduk Pulau Yap tidak harus membawa uang batunya untuk diberikan kepada orang lain saat bertransaksi. Mereka cukup memberi tahu saja dimana letak batu itu berada. Makanya, tidak perlu heran jika melihat uang batu itu ada hutan, pantai, ataupun laut. Karena, agak repot juga kalau harus membawa batu-batu tersebut setiap harus melakukan transaksi. 

Selain itu, uang batu tersebut juga bisa didapatkan dengan dibeli, selayaknya membeli sebuah emas. Dilansir dari BBC, pada zaman dahulu, satu buah uang batu bisa dibeli dengan uang kerang atau Yar. Tapi di zaman sekarang, Yar sudah tergantikan dengan dollar Amerika Serikat (AS). Sehingga penduduk yang mau membeli uang batu harus menggunakan dollar AS.


Asal-Usul Uang Batu Sebagai Alat Tukar

Penggunaan batu sebagai alat tukar ini sudah dipakai sejak berabad-abad lalu. Tapi sayangnya belum ada penelitian yang menemukan kapan tepatnya rai mulai digunakan. Namun, yang pasti uang batu ini pertama kali diukir dan dibawa dari Pulau Palau, sebuah pulau yang juga terletak di Kepulauan Mikronesia. Awalnya, batu itu dibentuk seperti paus dan diberikan sebagai hadiah. Lama-kelamaan, fungsi dari batu tersebut berubah menjadi alat tukar hingga sekarang. 

Dulunya, batu tersebut juga tidak berbentuk seperti sekarang. Bahkan, bentuknya lebih kecil dan abstrak. Namun, seiring perkembangan zaman, seperti munculnya pengetahuan akan alat dari logam, besi, dan alat-alat lainnya yang dikenalkan penjajah Eropa pada abad ke-19, batu yang digunakan semakin besar dan semakin berbentuk bulat dengan lobang di tengahnya. 

Pernah ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa pada 1880-an, 400 penduduk Yap bergotong-royong hanya untuk membuat satu buah uang batu. Hal ini menandakan kalau rai yang dibuat itu sangatlah besar, berbeda dengan rai di era sebelumnya yang tidak terlalu besar, bahkan bisa dibawa dengan perahu kecil.

Jika penasaran dengan batu ini, batu ini bisa dibeli, tapi sayangnya tidak akan berlaku di luar Pulau Yap, yang ada hanya akan menjadi sebuah pajangan semata. Namun karena batu ini bisa dibeli, uang batu ini bisa dijadikan sebagai tabungan atau tempat penyimpanan uang. Uangnya bisa dicairkan saat dibutuhkan nanti. Masalahnya, tabungan dalam uang batu tersebut hanya bisa dicairkan kepada orang Pulau Yap. Karena hanya mereka yang menganggap batu-batu ini bernilai besar.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Teknologi Digital dan Solusi Perubahan Iklim

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi atau meminimalisir dampak perubahan iklim

Context.id | 01-03-2024

Ketika Raksasa OTT Saling Klaim Istilah Local Pride

Platform over the top (OTT) konten video streaming saling bersaing menguasai pasar Indonesia, salah satunya dengan embel-embel konten lokal.

Noviarizal Fernandez | 01-03-2024

Tolak Usul Prancis, Anggota NATO Enggan Masuk Wilayah Ukraina

Usulan Presiden Prancis agar pasukan NATO memasuki wilayah Ukraina untuk ikut memerangi Rusia mendapat penolakan keras dari negara-negara anggota ...

Context.id | 29-02-2024

Kans Indonesia Gabung Klub Negara Maju

Indonesia masih punya waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan proses menjadi anggota OECD

Context.id | 29-02-2024