Stories - 11 August 2022

Harga Mi Instan Tidak Jadi Naik? Simak Faktanya!

Perang Rusia-Ukraina yang sedang terjadi saat ini telah menimbulkan kecemasan pada pecinta mi instan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.


Ilustrasi kenaikan harga mi instan. - Puspa Larasati -

Context, JAKARTA - Perang Rusia-Ukraina yang sedang terjadi saat ini telah menimbulkan kecemasan pada pecinta mi instan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Pasalnya, meskipun harga gandum sudah kembali turun, ketidakpastian akibat perang masih berpotensi menaikkan harga gandum.

Dilansir dari sebuah jurnal yang diterbitkan dalam ResearchGate, Ukraina dan Rusia termasuk ke dalam negara-negara penghasil gandum terbesar di dunia, atau dapat juga disebut sebagai “keranjang roti dunia”. 

Di Ukraina sendiri, tanah hitamnya (chernozem) yang subur telah menjadikan gandum sebagai tanaman pertanian yang paling banyak dibudidayakan di negara tersebut. Sama seperti Rusia, namun bedanya, Rusia memiliki wilayah yang lebih luas, sehingga produksi gandumnya pun jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Ukraina.


Harga Gandum Naik Karena Dampak Perang Rusia-Ukraina

Berdasarkan data Observatory of Economic Complexity (OEC) yang dikutip dari Aljazeera, Rusia telah menyumbang sekitar 18 persen ekspor gandum dunia. Pada 2019, Rusia dan Ukraina tercatat telah mengekspor lebih dari seperempat atau sekitar 25,4 persen gandum dunia.

Karena itu, invasi Rusia yang sempat menutup keran ekspor Ukraina dan deretan sanksi yang telah dijatuhkan kepada Rusia membuat aliran gandum dari kedua negara tersebut terganggu. 

Dilansir dari dataindonesia.id, sebelum Rusia melakukan serangan militernya ke Ukraina, harga gandum dunia masih ada di batas wajar, yaitu sekitar US$758 per gantang. Namun setelah Rusia menyerang Ukraina, pada 7 Maret 2022 harga gandum dunia mencapai nilai tertingginya, yaitu mencapai US$1.425,25 per gantang.

Hal ini membuat banyak negara di seluruh dunia was-was, terutama kepada negara yang menggantungkan ketersediaan gandumnya kepada Rusia dan Ukraina. Contohnya seperti Mesir yang pada 2019 mengimpor 70 persen gandum dari Rusia dan Ukraina dan Turki yang mengimpor sekitar 74 persen gandum dari kedua negara tersebut.

Jika harga gandum dunia terus naik, maka bukan tidak mungkin akan terjadi kelangkaan gandum di Mesir dan Turki, serta dampak-dampak buruk lainnya yang akan menyusul seperti kelaparan. Pasalnya, gandum adalah makanan pokok di dua negara tersebut. 

Walaupun tidak sebanyak Mesir dan Turki, Indonesia juga termasuk deretan pengimpor gandum terbesar dari Rusia dan Ukraina. Bahkan, dilansir dari Tempo, pada tahun lalu Indonesia menjadi pengimpor gandum terbesar kedua dari Ukraina. 

Total impor gandum Indonesia dari Ukraina mencapai 2,81 juta ton atau 14,49 persen dari jumlah ekspor gandum Ukraina selama setahun. Dengan begitu, Indonesia telah mengimpor sekitar US$638 juta dolar dan menjadikan Indonesia negara Asia pengimpor gandum terbesar dari Ukraina.


Harga Gandum Sudah Turun

Pada 22 Juli 2022, Rusia dan Ukraina akhirnya menyepakati perjanjian yang bertujuan melonggarkan kembali keran ekspor, termasuk gandum melalui pelabuhan Laut Hitam. Sebelumnya, pelabuhan yang menjadi pintu utama ekspor Ukraina tersebut telah diblokade oleh militer Rusia.

Perjanjian ini ditandatangani oleh pejabat pemerintahan Ukraina dan Rusia. Kesepakatan tersebut dilakukan di Istanbul dengan didampingi oleh Turki dan perwakilan PBB. Dalam kesepakatan itu, ada tiga pelabuhan Ukraina di Laut Hitam yang dijanjikan akan kembali dibuka, yaitu Pelabuhan Odessa, Chornomorsk, dan Pivdennyi.

Dilansir dari Bloomberg, perjanjian ini diharapkan dapat mencegah terjadinya krisis pangan global dengan menghidupkan kembali perdagangan pertanian dunia, termasuk gandum. Dalam kesepakatan ini, Rusia juga sudah berkomitmen untuk mengizinkan ekspor Ukraina bisa dilakukan tanpa adanya hambatan.

Efek dari perjanjian ini pun langsung terlihat. Di hari yang sama, harga gandum dunia sudah turun ke level wajarnya, yaitu sekitar US$759 per gantang. Hal ini tentunya menjadi sebuah kabar baik bagi pecinta mi instan, yang hampir 60 persen menggunakan gandum sebagai bahan utamanya.


Jadi, Harga Mi Instan Tak Jadi Naik?

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sempat mengatakan bahwa harga mi instan di Indonesia akan naik, bahkan hingga tiga kali lipat. Syahrul menyebutkan hal ini bisa terjadi imbas dari naiknya harga gandum dunia karena perang yang terjadi di Ukraina. Selain itu, Syahrul juga menyebutkan bahwa adanya perubahan iklim global juga akan menyebabkan terganggunya pasokan gandum dunia.

Namun pernyataan ini dibantah oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas). Dilansir dari Bisnis, Zulhas mengatakan bahwa harga gandum saat ini justru akan turun. Hal ini disebabkan oleh keran ekspor gandum Ukraina yang sudah boleh dibuka, dan negara-negara penghasil gandum lainnya seperti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat yang sudah kembali panen.

Selain Zulhas, pernyataan Mentan Syahrul juga dibantah oleh Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Franciscus Welirang. Bos Indofood tersebut memastikan bahwa harga mi instan dari Indomie tidak akan naik hingga tiga kali lipat. Alasannya karena harga gandum dunia memang sudah terpantau turun kembali. 

Yakin dengan mulai stabilnya harga gandum, Franciscus dengan Indofoodnya pun masih terlihat anteng. Pasalnya, isu kenaikan harga mi instan tidak membuat saham dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), anak usaha dari INDF yang memproduksi Indomie ini anjlok.

Dilansir dari Bisnis, pada Rabu (10/8/2022) saham ICBP tidak memperlihatkan adanya penurunan ataupun kenaikan yang signifikan, yaitu masih ada di level harga Rp8.725 per lembar saham.

Bersamaan dengan adanya isu naiknya harga mi instan dalam sepekan terakhir, saham ICBP tercatat turun 1,41 persen. Meskipun begitu, secara year-to-date (ytd) naik tipis hingga 1,16 persen. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menjelaskan bahwa meskipun adanya tekanan dari harga bahan baku termasuk gandum, ICBP punya peluang untuk menaikkan margin.


Seberapa Besar Jumlah Konsumsi Mi Instan di Indonesia?

Mi Instan sendiri adalah salah satu makanan yang paling disukai oleh orang Indonesia. Rasanya yang enak, cara memasaknya yang mudah, membuat mi instan selalu menjadi pilihan ketika lapar. 

Dilansir dari dataindonesia.id, Indonesia menjadi negara konsumen mi instan terbanyak kedua di dunia. Pada tahun 2020, masyarakat Indonesia telah mengonsumsi 12,64 miliar porsi mi instan. Menurut survei yang dilakukan dataindonesia.id juga memperlihatkan bahwa mi instan adalah bahan makanan kedua yang paling sering dibeli masyarakat Indonesia setelah beras.

Pada tahun 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa konsumsi per kapita mi instan pada Maret 2021 sudah meningkat sebesar 9,09 persen menjadi 3,96 bungkus dengan ukuran 80 gram per bulannya. Sebelumnya, pada Maret 2020 konsumsi per kapita mi instan hanya 3,63 bungkus per bulan.

Konsumsi mi instan yang besar ini tentunya telah membuat para produsen seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) ini bisa bertahan. Jika nantinya harga mi instan benar-benar naik, hal ini tentunya akan membuat konsumen beralih ke makanan lain. 

Seperti yang diutarakan seorang pecinta mi instan, Adinda Ramadhani yang tiap minggunya rata-rata mengonsumsi sekitar 4 bungkus mie instan. “Kalau harga naik, kemungkinan besar sih ya bakal ngurangin makan mi instan, karena kan nggak mungkin rela buang-buang uang banyak buat konsumsi mi instan,” ujar Adinda.

Kenaikan harga yang diperkirakan sampai 3 kali lipat tersebut juga meyakinkan dirinya untuk mengurangi konsumsi mi instan. ”Satu mi itu hitunglah Rp3.000, berarti seminggu bisa Rp12.000. Tapi kalau naik tiga kali lipat bisa jadi Rp36.000, mending beli makanan instan lain yang lebih murah,” keluhnya.

Jika kenaikan mi instan tidak dapat dihindari, hal ini tentu akan berdampak buruk. Jumlah konsumsi dan pendapatan para produsen berpotensi akan menurun.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Teknologi Digital dan Solusi Perubahan Iklim

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi atau meminimalisir dampak perubahan iklim

Context.id | 01-03-2024

Ketika Raksasa OTT Saling Klaim Istilah Local Pride

Platform over the top (OTT) konten video streaming saling bersaing menguasai pasar Indonesia, salah satunya dengan embel-embel konten lokal.

Noviarizal Fernandez | 01-03-2024

Tolak Usul Prancis, Anggota NATO Enggan Masuk Wilayah Ukraina

Usulan Presiden Prancis agar pasukan NATO memasuki wilayah Ukraina untuk ikut memerangi Rusia mendapat penolakan keras dari negara-negara anggota ...

Context.id | 29-02-2024

Kans Indonesia Gabung Klub Negara Maju

Indonesia masih punya waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan proses menjadi anggota OECD

Context.id | 29-02-2024