Stories - 02 August 2022

Kota Tanpa Kabel Listrik Semrawut, Apa Lebih Aman?

Penampakan kabel listrik yang semrawut di udara tersebut telah menciptakan ketidakamanan dan menghilangkan esensi keindahan kota.


Penampakan Jalan Raya Kemang tanpa kabel listrik udara. -Antara-

Context, JAKARTA - Kebanyakan kota di Indonesia masih memiliki kabel listrik yang disambung dari tiang ke tiang. Penampakan kabel listrik yang semrawut di udara tersebut telah menciptakan ketidakamanan dan menghilangkan esensi keindahan kota.

Kabel listrik memang penting, tanpa kabel tersebut mungkin kita akan hidup seperti zaman dahulu lagi. Tanpa lampu, tanpa kulkas, tanpa pendingin udara, dan bahkan tanpa air yang bisa keluar dari keran-keran yang ada di rumah kita. 

Namun masalahnya, keberadaan kabel listrik yang semakin lama semakin banyak, dan penempatannya yang ada di atas kepala kita, lama kelamaan akan membahayakan. Di Indonesia sendiri, banyak kabel-kabel listrik yang sudah seperti tali kusut. Kabel yang sudah semrawut tersebut bisa berasal dari saluran telefon, ataupun saluran internet yang sudah tidak terpakai lagi.


Dampak Buruk Kabel Listrik Udara

Kabel listrik yang bergelantungan dari tiang ke tiang ini tidak bisa melindungi dirinya dari apapun. Di beberapa lokasi, kabel listrik dan bahkan tiangnya selalu menjadi korban badai besar. Jika badai terjadi, angin yang kencang bisa saja merobohkan tiang listrik dan memutus kabel yang bergantung di tiang tersebut.

Selain angin, pohon yang ada di dekat kabel listrik tersebut bisa saja roboh dan langsung memutus kabel listrik yang bergantung di antara pohon tersebut. Jika hal ini terjadi, maka wilayah sekitarnya akan terkena dampak pemadaman listrik, hingga hilangnya akses internet.  

Beberapa kejadian buruk akibat keberadaan kabel listrik di atas tanah ini telah beberapa kali di Indonesia. Contohnya seperti yang pernah terjadi di Matraman, Jakarta Timur pada tahun 2020. Dilansir dari Tempo, pada saat itu di Jalan Matraman, ada sebuah kabel listrik yang menggantung dan menyeberangi jalan raya. 

Masalahnya, kabel listrik tersebut menjuntai terlalu rendah, hingga menghalangi kendaraan-kendaraan berdimensi besar, termasuk bus transjakarta. Hingga akhirnya, kabel listrik tersebut pun menjadi korban “kecelakaan” dari sebuah kontainer membawa muatan besi. “Kecelakaan” tersebut membuat kabel listrik itu terseret, sehingga tiang listriknya pun menjadi patah.

Selain itu, kejadian yang disebabkan oleh kabel listrik ini juga pernah terjadi di Margonda, Depok, Jawa Barat. Pada tahun 2010, sebuah kabel listrik di jalan Margonda Raya yang panjangnya 10 meter dikabarkan terbakar. Menurut Petugas Pelayanan Teknik PLN Depok Asep Maulana, kabel yang terbakar itu diduga terjadi karena adanya gesekan antara kabel listrik dan kabel telepon. 

Kejadian yang lebih buruk lagi, pernah menimpa seorang pemotor di Gunungkidul pada tahun 2020, dan seorang petani di Sragen pada tahun 2021. Dua orang tersebut harus merenggut nyawa akibat tersengat kabel listrik yang putus. Selain kejadian-kejadian tersebut, masih banyak lagi hal buruk lainnya yang bisa terjadi karena kabel listrik udara yang tidak rapi atau semrawut.


Kabel Listrik Bawah Tanah di Indonesia

Untuk menghindari bahaya-bahaya tersebut, salah satu cara yang yang bisa dilakukan adalah dengan menata ulang kabel listrik ke bawah tanah. Dengan begitu, kabel-kabel yang semrawut dan bergelantungan di atas kepala kita akan hilang. Selain menciptakan keamanan, kabel listrik di bawah tanah juga akan menciptakan keindahan.

Singkatnya, kabel yang biasanya disambungkan dari tiang ke tiang, akan ditanam di bawah tanah, dilindungi dengan pipa yang disambungkan dari tiang perusahaan penyalur listrik, telepon, dan lain-lain. Selain kabel yang tidak akan terlihat lagi, tiang-tiang listriknya pun juga akan dirobohkan. Sehingga, akan mengurangi gangguan ruang atau mobilitas yang disebabkan oleh tiang listrik.

Di Indonesia sendiri, penerapan kota dengan kabel listrik di bawah tanah juga sudah mulai dilakukan di beberapa tempat, salah satunya Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan jika wilayah tersebut menjadi kota pertama yang memiliki kabel listrik, maupun jaringan telepon di bawah tanah.

“Kota pertama [dengan kabel bawah tanah] adalah Labuan Bajo, hampir tanpa kabel telepon di atas,” kata Luhut dikutip dari Tempo.

Kota dengan kabel listrik di bawah tanah juga diharapkan diwujudkan oleh ibu kota negara (IKN) Nusantara nantinya. Menteri Menteri Pembangunan dan Perencanaan atau Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan bahwa kabel listrik yang bagus seharusnya tidak dibangun di atas, melainkan ada di bawah tanah. Keberadaan kabel listrik udara menurutnya bisa membahayakan dan berpotensi merusak pemandangan.

Selain rencana-rencana kota tanpa kabel listrik yang semrawut, di beberapa wilayah di Indonesia juga sudah ada yang menerapkan kabel listrik di bawah tanah. Dilansir dari Solopos, wilayah kota tua Semarang sudah memindahkan kabel listrik ke bawah tanah. Bahkan, menurut Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, hal tersebut menjadi percontohan untuk wilayah lainnya.

Di Jakarta sendiri, penerapan kabel listrik di bawah tanah juga sudah diterapkan di beberapa wilayah, salah satunya Kemang. Melihat dampaknya yang menciptakan keamanan dan keindahan, Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (PLN UID Jaya) berencana untuk memperluas relokasi kabel listrik ke bawah tanah.

Namun, dilansir dari Antara, menurut GM PLN UID Jaya Doddy B Pangaribuan, relokasi kabel listrik ke bawah tanah ini bukan lah sesuatu yang mudah. Apalagi, harus ada biaya yang besar untuk mewujudkan hal ini. Biaya untuk merelokasi kabel listrik di setiap negara memang berbeda-beda. Namun, hampir setiap negara setuju bahwa anggaran yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal. 

Seperti contohnya di Amerika Serikat, dilansir dari The Washington Post, membangun jalur kabel bawah tanah bisa menghabiskan biaya sebesar lima hingga sepuluh kali lebih banyak daripada kabel listrik udara. Hal ini yang juga menjadi alasan mengapa sebagian besar negara di dunia masih menaruh kabel listrik mereka di udara.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Suara Golkar Terbesar di Koalisi Prabowo, Jatah Menterinya Banyak?

Kinerja perolehan suara mentereng dalam Pemilu Legislatif atau Pileg 2024 dinilai menjadi tolok ukur

Noviarizal Fernandez | 24-04-2024

Laga Panas Para Jawara di AFC Cup U-23

Tiga mantan pemenang Piala Asia AFC U23 lainnya juga turut lolos ke babak penentu itu

Noviarizal Fernandez | 24-04-2024

Tren Positif Berlanjut, Industri Mobil Listrik Makin Menjanjikan

Pada 2023 lalu, penjualan mobil listrik memecahkan rekor penjualan mencapai 14 juta unit secara global atau setara dengan 18% dari seluruh penjual ...

Context.id | 24-04-2024

Profi Tiga Hakim Dissenting Opinion Putusan MK Soal Pilpres 2024

Tiga hakim ajukan pendapat berbeda dengan lima hakim lainnya terkait putusan MK yang menolak permohonan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud

Context.id | 23-04-2024