Share

Home Stories

Stories 16 Oktober 2024

Fast Beauty, antara Tren Instan dan Tantangan Etika

Sama seperti fast fashion, fast beauty juga menghadapi persoalan tentang pencemaran lingkungan dari bahan-bahan atau limbahnya kosmetiknya

Ilustrasi fast beauty/LinkedIn

Context.id, JAKARTA - Industri kecantikan cepat atau fast beauty, sedang naik daun. Seperti fast fashion, merek-merek kecantikan seperti Kylie Cosmetics dan Winky Lux berlomba memproduksi produk dalam waktu singkat untuk memenuhi tren yang terus berubah. 

Namun, di balik kilauan ini, muncul pertanyaan, apa ada “harga mahal” yang harus dibayar untuk kecepatan tersebut?

Salah satu masalah utama dalam fast beauty adalah dampak lingkungan. Meski tak seberat fast fashion, yang dikenal dengan limbah besar dari overproduksi, fast beauty menghadapi tantangan serupa dengan limbah kemasan plastik yang sulit didaur ulang. 

Bahan baku seperti mika, yang kerap diambil dari tambang dengan kondisi kerja buruk, menambah masalah.

Meskipun beberapa merek berusaha meminimalkan dampak ini dengan produksi sesuai permintaan, industri ini tetap berkontribusi pada polusi dan limbah.



Selain itu, produk tiruan yang beredar menjadi ancaman nyata. Seperti yang terjadi pada produk The Vamp Stamp, barang palsu ini sering dibuat dengan bahan murah yang berisiko bagi kesehatan konsumen. 

Namun, kualitas produk fast beauty sendiri sering kali tetap terjaga, dengan standar produksi yang tak jauh berbeda dari produk mewah.

Tantangan lain muncul dalam distribusi. Pengecer kecantikan tradisional sulit mengikuti kecepatan produksi yang cepat, sehingga banyak merek beralih ke penjualan online atau bekerja sama dengan pengecer mode. Kecepatan, meski krusial, sering kali berbenturan dengan kesiapan pasar.

Namun, di tengah laju cepat ini, gerakan slow beauty mulai bermunculan, menawarkan alternatif dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. 

Merek-merek kecil seperti Mauli Rituals dan Axiology berusaha mempromosikan produk yang lebih ramah lingkungan, multifungsi, dan etis.

Meski fast beauty terus berkembang, pertanyaan besarnya adalah: apakah kita sebagai konsumen bersedia mengorbankan lingkungan demi mengikuti tren kecantikan terbaru? 

Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, berpikir lebih bijak, dan memilih kecantikan yang tak hanya memoles wajah, tetapi juga menjaga bumi yang kita tempati.



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin

Stories 16 Oktober 2024

Fast Beauty, antara Tren Instan dan Tantangan Etika

Sama seperti fast fashion, fast beauty juga menghadapi persoalan tentang pencemaran lingkungan dari bahan-bahan atau limbahnya kosmetiknya

Ilustrasi fast beauty/LinkedIn

Context.id, JAKARTA - Industri kecantikan cepat atau fast beauty, sedang naik daun. Seperti fast fashion, merek-merek kecantikan seperti Kylie Cosmetics dan Winky Lux berlomba memproduksi produk dalam waktu singkat untuk memenuhi tren yang terus berubah. 

Namun, di balik kilauan ini, muncul pertanyaan, apa ada “harga mahal” yang harus dibayar untuk kecepatan tersebut?

Salah satu masalah utama dalam fast beauty adalah dampak lingkungan. Meski tak seberat fast fashion, yang dikenal dengan limbah besar dari overproduksi, fast beauty menghadapi tantangan serupa dengan limbah kemasan plastik yang sulit didaur ulang. 

Bahan baku seperti mika, yang kerap diambil dari tambang dengan kondisi kerja buruk, menambah masalah.

Meskipun beberapa merek berusaha meminimalkan dampak ini dengan produksi sesuai permintaan, industri ini tetap berkontribusi pada polusi dan limbah.



Selain itu, produk tiruan yang beredar menjadi ancaman nyata. Seperti yang terjadi pada produk The Vamp Stamp, barang palsu ini sering dibuat dengan bahan murah yang berisiko bagi kesehatan konsumen. 

Namun, kualitas produk fast beauty sendiri sering kali tetap terjaga, dengan standar produksi yang tak jauh berbeda dari produk mewah.

Tantangan lain muncul dalam distribusi. Pengecer kecantikan tradisional sulit mengikuti kecepatan produksi yang cepat, sehingga banyak merek beralih ke penjualan online atau bekerja sama dengan pengecer mode. Kecepatan, meski krusial, sering kali berbenturan dengan kesiapan pasar.

Namun, di tengah laju cepat ini, gerakan slow beauty mulai bermunculan, menawarkan alternatif dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. 

Merek-merek kecil seperti Mauli Rituals dan Axiology berusaha mempromosikan produk yang lebih ramah lingkungan, multifungsi, dan etis.

Meski fast beauty terus berkembang, pertanyaan besarnya adalah: apakah kita sebagai konsumen bersedia mengorbankan lingkungan demi mengikuti tren kecantikan terbaru? 

Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, berpikir lebih bijak, dan memilih kecantikan yang tak hanya memoles wajah, tetapi juga menjaga bumi yang kita tempati.



Penulis : Context.id

Editor   : Wahyu Arifin


RELATED ARTICLES

Hitungan Prabowo Soal Uang Kasus CPO Rp13,2 Triliun, Bisa Buat Apa Saja?

Presiden Prabowo Subianto melakukan perhitungan terkait uang kasus korupsi CPO Rp13,2 triliun yang ia sebut bisa digunakan untuk membangun desa ne ...

Renita Sukma . 20 October 2025

Polemik IKN Sebagai Ibu Kota Politik, Ini Kata Kemendagri dan Pengamat

Terminologi ibu kota politik yang melekat kepada IKN dianggap rancu karena bertentangan dengan UU IKN. r n r n

Renita Sukma . 18 October 2025

Dilema Kebijakan Rokok: Penerimaan Negara Vs Kesehatan Indonesia

Menkeu Purbaya ingin menggairahkan kembali industri rokok dengan mengerem cukai, sementara menteri sebelumnya Sri Mulyani gencar menaikkan cukai d ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 15 October 2025

Di Tengah Ketidakpastian Global, Emas Justru Terus Mengkilap

Meskipun secara historis dianggap sebagai aset lindung nilai paling aman, emas kerap ikut tertekan ketika terjadi aksi jual besar-besaran di pasar ...

Jessica Gabriela Soehandoko . 13 October 2025