Stories - 15 June 2023

Indonesia Jadi Anggota Komite Persaingan OECD, Lalu?

Indonesia resmi bergabung dalam keanggotaan komite persaingan organisasi untuk kerja sama dan pengembangan ekonomi internasional atau OECD.


Kartel/repro

Context.id,JAKARTA - Indonesia resmi bergabung dalam keanggotaan komite persaingan organisasi untuk kerja sama dan pengembangan ekonomi internasional atau dikenal dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD)..

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Deswin Nur mengatakan, keanggotaan tersebut disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 11/2023 tentang Penetapan Keanggotaan Indonesia pada Organisation for Economic Cooperation and Development Competition Committee yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 30 Mei 2023 lalu.

“Dengan keanggotaan tersebut, Indonesia dapat mulai mengadopsi kebijakan persaingan usaha dan penegakan hukumnya mengikuti standar yang ditetapkan internasional. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) selaku pelaksana semakin dituntut perannya dalam mendorong kepatuhan pada standar internasional tersebut,” terangnya Kamis (15/6/2023).

Adapun The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merupakan organisasi internasional di bidang ekonomi yang bertugas membentuk kebijakan bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Lembaga ini bertujuan untuk membuat kebijakan yang mengedepankan kemakmuran, kesetaraan, kesempatan, dan kesejahteraan bagi semua anggotanya. OECD saat ini beranggotakan 38 negara. Di kawasan Asia, hanya Jepang, Korea Selatan, dan Turki yang merupakan anggota OECD. Indonesia hingga saat ini belum merupakan anggota OECD.

Dia melanjutkan, keterlibatan Indonesia dalam Komite Persaingan OECD sebenarnya telah berlangsung lama, yakni sejak 15 Desember 2005, dengan KPPU bertindak sebagai observer atau pengamat dalam komite tersebut.

Sejak Indonesia ditetapkan sebagai salah satu negara mitra kunci selain Brazil, Tiongkok, India, dan Afrika Selatan oleh OECD pada 2007. Hubungan hubungan Indonesia dengan OECD semakin diperkuat melalui program kerja bersama lima tahunan di berbagai bidang. Saat ini, kata Deswin, tengah dilaksanakan program keempat untuk memandu kerja sama tersebut untuk 2022-2025.

Menurutnya bidang kebijakan persaingan usaha berada dalam area kerja sama untuk iklim bisnis dan digitalisasi.

"Kerja sama tersebut meliputi pengembangan kapasitas tentang bagaimana kebijakan yang pro persaingan dapat memaksimalisasi manfaat dari ekonomi digital; asistensi koordinasi antara pemerintah dan otoritas persaingan dalam mengawasi dan menegakkan kebijakan dan hukum persaingan di pasar digital; pengembangan kapasitas dalam mendesain paket pemulihan ekonomi dan potensi hambatannya ke persaingan; dan peningkatan kesadaran pembuat kebijakan atas isu keberlangsungan dan persaingan,” urainya.

Keberadaan Keppres ini, menurutnya, memiliki makna penting bagi KPPU karena memberikan kesempatan untuk mendapatkan status keanggotaan tertinggi bagi otoritas yang bukan berasal dari negara anggota OECD, yakni rekan atau associate.

Untuk itu, KPPU dituntut dalam mengawal agar implementasi kebijakan persaingan dan penegakan hukum di Indonesia mulai sejalan dengan Rekomendasi Dewan OECD (Recommendation of the Council).

Rekomendasi tersebut meliputi berbagai isu, antara lain atas transparansi dan keadilan prosedur dalam penegakan hukum, asesmen kebijakan, netralitas persaingan, pengentasan persekongkolan tender dalam pengadaan, analisa merjer, tindakan efektif melawan kartel, maupun kerja sama internasional dalam investigasi dan persidangan kasus persaingan.

Keanggotaan ini juga memberikan akses terbesar bagi KPPU dalam memanfaatkan aset data/informasi di OECD serta berbagai kajian dan kegiatan yang mendukung proses pengawasan persaingan usaha.  “Hal ini tentunya akan membuat penegakan hukum dan pelaksanaan kebijakan persaingan di Indonesia akan memiliki tujuan, praktik, serta standar yang tinggi dalam memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat,” pungkasnya. 


Penulis : Noviarizal Fernandez

Editor   : Puput Ady

MORE  STORIES

Banyak Konsumsi Garam Bikin Umur Pendek?

Universitas Tulane menemukan mereka yang sering menambahkan garam ke makanan mereka memiliki tingkat 28% lebih tinggi mengenai risiko kematian dini

Context.id | 14-06-2024

Rasio Dokter Lokal Minim, Kemenkes Buka Keran Dokter Asing

Kementerian Kesehatan RI telah berencana menggunakan tenaga medis asing untuk mengisi minimnya tenaga kesehatan lokal

Context.id | 14-06-2024

Militer Israel Masuk Daftar Hitam PBB, Apa Konsekuensinya?

Daftar hitam hanya suatu bentuk hukuman mempermalukan pihak-pihak yang berkonflik dengan catatan memiliki pelanggaran berat terhadap anak-anak.

Context.id | 13-06-2024

Haji Furoda, Bagaimana Awal Kemunculannya dan Berapa Biayanya?

Keuntungan memilih kategori haji furoda ini, calon jemaah tidak perlu mengantri lama dan bertahun-tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji

Context.id | 13-06-2024