Ilustrasi QR code dan pengemis. - Context ID -

Stories

Jangan Cuma Pakai QR Code! Tahukah Arti & Sejarahnya?

Crysania Suhartanto - 14 March 2023

Context.id, JAKARTA - Siapa yang tidak kenal Quick Response (QR) Code? Kode berbentuk segi empat yang sering dijumpai di mana-mana.

Namun, tahukah kamu kalau kode yang satu ini sudah ada pada masa awal kemunculan internet?

Dikutip dari QR Code, pada tahun 1960, Jepang sedang mengalami salah satu pertumbuhan ekonomi tertingginya sepanjang sejarah. Adapun salah satu dampaknya adalah penjualan di supermarket yang meningkat.

Kala itu, kasir yang bertugas memasukan kode dari produk secara manual. Namun, karena permintaan yang terlalu banyak, petugas kelelahan dan seringkali salah memasukan kode barang.

Oleh karena itu, dibuatlah barcode, sebuah kode berupa garis-garis panjang berwarna hitam yang merupakan lambang dari angka-angka tertentu dan hanya bisa dibaca oleh komputer, untuk memudahkan para kasir dan stock keeper dalam memasukan kode produk.

Sejak itulah, barcode ini menjadi menyebar luas dan mulai digunakan di hampir seluruh dunia.

Namun kelemahan dari barcode ini adalah hanya bisa mengenkripsikan 20 karakter ataupun informasi. Karena itu, pada 1994, anak perusahaan dari Toyota Motor Corporation, Denso Wave mencari cara baru agar kode enkripsi ini dapat dibuat lebih panjang. Pasalnya, saat itu, mereka ingin melacak suku cadang mobil selama proses perakitan, yang tentunya informasi mengenai hal tersebut, lebih dari 20 karakter.

Adapun, setelah pengembangan sekitar setengah tahun, kode QR yang mampu mengodekan sekitar 7.000 angka serta karakter kanji berhasil dibuat. Faktanya, kode ini tidak hanya dapat menampung banyak informasi, melainkan juga dapat dibaca 10 kali lebih cepat dari kode lainnya.

Pada mulanya, QR code ini digunakan untuk melacak suku cadang mobil selama proses perakitan. Namun, seiring berkembangnya zaman, kode ini diadaptasi menjadi kode untuk periklanan, yang menyandikan pranala situs web yang berisi tentang kupon, pendaftaran suatu hal, ataupun informasi tentang suatu produk.

Selain itu, dalam penggunaannya, QR juga digunakan sebagai metode untuk pembayaran, yang salah satunya dilakukan di Indonesia dengan QRIS.


Bagaimana Cara Kerja QR Code?

Dulu, dengan adanya barcode, informasi itu dikodekan dengan hanya satu arah, yakni kesamping. Namun, dengan adanya QR code, informasi dapat dikodekan dengan dua arah, yaitu ke samping dan ke atas-bawah. Oleh karena itu informasi yang terkandung di dalam QR code juga jadi lebih besar.

Adapun bentuknya yang persegi adalah dikarenakan pola itu yang paling tidak mungkin muncul di berbagai bentuk bisnis dan sejenisnya. Pasalnya, jika ada hal yang serupa dengan kode QR ini, maka ditakutkan akan ada kesalahan pembacaan.

Alhasil, setelah melakukan riset pasar, mereka menghasilkan rasio area hitam dan putih yang paling jarang digunakan pada di barang-barang sehari-hari, yakni 1:1:3:1:1.

Dikutip dari Fast Company, pada dasarnya kode QR terdiri atas beberapa bagian, mulai dari data, position markers, quiet zone, dan logo (opsional).

Nah, data tersebut adalah dienkripsikan menjadi serangkaian titik dalam kotak persegi. Setiap titiknya mewakili satu dan masing-masing nol dalam kode biner. Adapun informasi ini sudah dapat berupa angka, huruf, tanda baca, dan lain sebagainya. Ukuran paling kecil dari QR code adalah 21 x 21 kotak, sementara yang paling besar adalah 177 x 177 kotak.

Jika diperhatikan, setiap QR Code memiliki kotak hitam, yang mana hal itu merupakan penanda posisi. Hal ini diperlukan sebagai patokan kamera saat memindai.

Selain itu, sama halnya barcode, kode QR juga dirancang untuk memberikan data secara berlebihan. Jadi, jika ada satu bagian barcode yang rusak, informasi yang terkandung di dalamnya masih tetap ada dan dapat terbaca.



Tonton Lainnya