Stories - 18 October 2022

Fakta Tentang Virus Ebola yang Mewabah di Uganda

Tingkat kematian akibat virus Ebola sangatlah tinggi, presentasenya bisa lebih dari 50 persen.


Seorang pasien Ebola sedang dibawa petugas kesehatan untuk menjalani perawatan. -Africa Health Organisation-

Context, JAKARTA - Virus Ebola sedang menjadi masalah besar di negara Uganda. Penyebarannya yang tinggi telah membuat Presiden Uganda Yoweri Museveni memutuskan untuk memberlakukan pembatasan sosial di negaranya.

Ebola merupakan virus yang sangat mematikan. Dilansir The Guardian, tingkat kematian akibat virus ini bisa lebih dari 50 persen. 

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), jika tidak diobati, penyakit yang disebabkan oleh virus ini memang dapat berakibat fatal. Berbeda dengan beberapa virus lainnya, seperti contohnya Covid-19 yang dapat disembuhkan sendiri hanya bermodalkan imun yang kuat.

Ebola sendiri pertama kali muncul pada tahun 1976 dalam dua wabah simultan, yaitu di Nzara, Sudan Selatan, dan satu lagi terdeteksi di Yambuku, Republik Demokratik Kongo. 

Wabah paling besar yang pernah disebabkan oleh virus Ebola ini adalah pada tahun 2014–2016 di Afrika Barat. Saat itu, wabah dimulai dari Guinea, kemudian menyebar ke negara-negara tetangganya seperti Sierra Leone dan Liberia.

Dilansir cdc.gov, ada 28.616 orang yang terpapar virus Ebola pada periode tersebut. Selain itu, 11.310 orang dikabarkan meninggal. Selain di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone, wabah Ebola juga telah merenggut 15 nyawa di negara lainnya.


Penularan

Berdasarkan laporan WHO, virus Ebola berasal dari kelelawar buah (keluarga Pteropodidae), yang kemudian menularkan virusnya ke manusia melalui kontak dengan darah, organ tubuh, cairan tubuh, mau pun proses sekresi (proses kimia). 

Dalam penularannya ke manusia, virus ini tidak hanya berpindah dari kelelawar buah saja, namun juga simpanse, monyet, gorila, kijang hutan, atau landak yang sedang sakit atau telah mati.

Kemudian, dalam penularannya dari manusia ke manusia, Ebola akan menyebar dengan kontak langsung melalui darah atau cairan tubuh orang yang sakit atau meninggal karena virus ini, dan benda yang telah terkontaminasi cairan tubuh (darah, feses, muntahan) dari orang yang sakit Ebola atau tubuh orang yang meninggal karena Ebola.


Gejala

Jika seseorang terpapar virus Ebola, maka masa inkubasi hingga timbulnya gejala adalah sekitar 2–21 hari. Lalu, gejala awalnya yang akan dirasakan adalah demam, kelelahan, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan nyeri otot.

Kemudian jika semakin parah, gejala lainnya yang akan timbul adalah muntah, diare, ruam, gangguan fungsi ginjal dan hati, peningkatan enzim hati, berkurangnya jumlah sel darah putih dan trombosit, dan dalam beberapa kasus, virus ini bisa menyebabkan keluarnya cairan dari gusi tau darah dalam tinja.


Pencegahan

Langkah pencegahan yang harus dilakukan untuk mengendalikan penularan virus Ebola sebenarnya sama saja dengan langkah pencegahan penularan virus lainnya. Seperti yang kita pelajari selama pandemi Covid-19, cara mencegah penularan ebola adalah dengan rajin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri seperti masker saat menjenguk pasien, meminimalisir kontak dengan penderita Ebola dan hewan pembawa virus, serta menjaga imun tubuh.

Selain itu, vaksin juga telah diciptakan untuk memperkuat imun manusia dari virus ini. Saat ini telah ada Vaksin Ervebo yang terbukti efektif untuk melindungi seseorang dari paparan Ebola spesies Zaire. 

Namun, dilansir BBC, untuk varian Sudan yang saat ini sedang merebak di Uganda, dikabarkan belum ada vaksin yang efektif. Dengan kata lain, vaksinasi untuk melawan wabah virus Ebola di Uganda belum dilakukan. Karena itu lah pemerintah Uganda telah melakukan pembatasan-pembatasan yang ketat seperti pemberlakukan jam malam, menutup tempat hiburan, tempat ibadah, dan lain sebagainya.


Penulis : Naufal Jauhar Nazhif

Editor   : Putri Dewi

MORE  STORIES

Teknologi Digital dan Solusi Perubahan Iklim

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi atau meminimalisir dampak perubahan iklim

Context.id | 01-03-2024

Ketika Raksasa OTT Saling Klaim Istilah Local Pride

Platform over the top (OTT) konten video streaming saling bersaing menguasai pasar Indonesia, salah satunya dengan embel-embel konten lokal.

Noviarizal Fernandez | 01-03-2024

Tolak Usul Prancis, Anggota NATO Enggan Masuk Wilayah Ukraina

Usulan Presiden Prancis agar pasukan NATO memasuki wilayah Ukraina untuk ikut memerangi Rusia mendapat penolakan keras dari negara-negara anggota ...

Context.id | 29-02-2024

Kans Indonesia Gabung Klub Negara Maju

Indonesia masih punya waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan proses menjadi anggota OECD

Context.id | 29-02-2024