Stories - 13 March 2023

Kenapa Silicon Valley Bank (SVB) Bisa Kolaps?

Silicon Valley Bank (SVB), perusahaan yang berfokus pada pendanaan startup, mendadak kolaps.


Silicon Valley Bank (SVB), perusahaan yang berfokus pada pendanaan startup, mendadak kolaps, Jumat (10/3/2023). - Bloomberg -

Context.id, JAKARTA - Silicon Valley Bank (SVB), perusahaan yang berfokus pada pendanaan startup, mendadak kolaps. 

Sebelumnya, pada Rabu (8/3/2022), perusahaan ini sempat mengalami krisis modal dan hanya 48 jam setelahnya, SVB resmi gulung tikar. Regulator AS pun langsung menutup sekaligus menyita aset dari bank ini.

Padahal pada 2021, SVB mengklaim perusahaannya merupakan bank dari hampir setengah dari startup di Amerika, termasuk Roku, Pinterest, Shopify, dan Etsy. SVB bahkan telah beroperasi di puluhan negara selain Amerika, seperti India, Inggris, Kanada, Israel, China, Jerman, Hong Kong, Irlandia, Denmark, dan Swedia. 

Selain itu, SVB juga pernah masuk ke dalam daftar bank terbaik di Amerika Serikat versi Forbes. Gak heran, hal ini bahkan disebut-sebut sebagai kebangkrutan bank terbesar sejak 2008.


 

Kenapa Bisa Bangkrut?

Dikutip dari Bisnis, kebangkrutan bank yang berspesialisasi dalam pembiayaan startup ini diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan dana yang berimbas pada habisnya dana simpanan.

Jadi, semua ini dimulai pada saat pandemi. Saat itu, suku bunga yang ditetapkan The Fed masih cukup ramah a.k.a rendah bagi masyarakat. Soalnya, pada saat itu, pemerintah memaksa masyarakat untuk berbelanja untuk menyelamatkan ekonomi.

Hal ini pun membuat Bank Silicon Valley memiliki banyak dana segar, yang justru menjerumuskan mereka ke dalam kesalahan terbesarnya, yaitu memasukan uangnya ke dalam obligasi (surat utang) yang jangka panjang.

Mengapa kesalahan terbesar? Soalnya pada setahun terakhir, suku bunga dari The Fed terus mengalami kenaikan untuk mengatasi inflasi tinggi yang terjadi di seluruh dunia. Alhasil, masyarakat tidak berani untuk belanja dan mengambil cicilan. Investor juga mulai melepaskan instrumen investasinya (seperti obligasi, saham, mata uang kripto) karena kondisi pasar yang tidak menentu.

Dampaknya, harga obligasi yang diterbitkan SVB jadi turun karena banyaknya investor yang menarik dananya. Sementara di sisi lain, SVB juga masih harus membayar bunga obligasi yang cukup tinggi.

Masalahnya, SBV bukan hanya perusahaan penyedia dana, melainkan juga bank. Otomatis, ia juga memiliki nasabah yang juga penyumbang arus dana yang cukup tinggi.

Sayangnya, nasabah mereka didominasi oleh startup teknologi dan pengelola aset kripto. Alhasil, hal ini menambah parah keadaan, karena nasabah-nasabah tersebut banyak juga yang menarik dana karena krisis finansial.

Seakan sudah jatuh tertimpa tangga, saat ini dunia sedang dilanda tech winter atau badai salju pada dunia teknologi. Masalahnya, mayoritas startup yang dibiayai oleh SVB merupakan startup teknologi yang bahkan belum begitu jelas keuangannya. 

Sampailah pada Rabu (8/3/2023), SVB akhirnya menyatakan bahwa mereka telah menjual semua obligasi dengan kerugian sebesar US$1,8 miliar atau sekitar Rp27,8 triliun serta menjual US$2,25 miliar saham baru untuk menyelamatkan keuangannya.

Namun, hal ini justru membuat investor jadi kehilangan kepercayaan dan menarik uang mereka secara hampir serempak, yang membuat dana simpanan Silicon Valley Bank menjadi menipis, habis, dan perusahaan pun resmi gulung tikar. 


 

Nasib Dana Nasabah yang Tersisa di SVB

Bank Sentral Amerika, Federal Reserve (The Fed), pemerintah Amerika Serikat, dan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) akan menjamin adanya langkah penyelamatan dana nasabah. 

Hal ini dinyatakan langsung oleh Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, Ketua Dewan The Fed, Jerome Powell, serta Ketua FDIC, Martin J. Gruenberg. 

“Para deposan akan memiliki akses ke semua uang mereka mulai hari Senin (13/3/2023). Tidak ada kerugian yang terkait dengan resolusi Silicon Valley Bank yang akan ditanggung oleh pembayar pajak,” ujar Yellen.


 

Dampaknya pada Dunia Global

Pada 8 Maret 2023, ternyata penarikan dana besar-besaran tidak hanya dilakukan oleh investor dari SVB, melainkan juga empat bank besar Amerika lainnya. Diketahui, mereka kehilangan sekitar US$50 miliar atau sekitar Rp769,5 triliun. Pasalnya, investor mulai khawatir akan terulangnya krisis keuangan pada 2007-2008.

Hal ini juga berdampak pada kenaikan harga emas dan mata uang kripto. Dikutip dari Bloomberg, harga emas naik ke posisi tertinggi dalam sebulan terakhir. Selain itu harga mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum juga ikut menguat hingga 8 persen. 


 

Dampaknya pada Indonesia

Hal ini memberikan peringatan tersendiri bagi perbankan Indonesia. Pasalnya, bank-bank Indonesia juga cukup sering memberikan pinjaman pada startup, bahkan yang baru berdiri. 

“Di belahan dunia lain, saya paling khawatir dengan bank-bank baru di Indonesia yang memberikan pinjaman kepada perusahaan rintisan bernilai tinggi, terutama yang bergerak di fintech yang tidak memiliki pendanaan yang baik,” ujar Kepala Investasi di Karnet Capital Partners Pte, Kerry Goh. 

Menurutnya, memang situasi SVB tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan perbankan di Indonesia, tetapi perbankan yang memiliki nasib serupa dengan SVB berpotensi tertular sentimen negatif ini. 

MORE  STORIES

Miliarder Beli Klub Eropa, Ada Pengaruh ke Sepak Bola Indonesia?

Deretan pengusaha kakap Tanah Air miliki saham mayoritas di klub-klub sepak bola luar negeri

Noviarizal Fernandez | 17-05-2024

Polemik Pernikahan Massal 100 Anak Perempuan di Nigeria

Pendidikan lebih prioritas bagi anak-anak perempuan dibandingkan memaksanya untuk melakukan pernikahan

Context.id | 17-05-2024

Reimajinasi Baru Museum dan Cagar Budaya Menjadi Ruang Belajar Inklusif.

Kemdikbudristek meluncurkan Indonesian Heritage Agency atau IHA untuk memberikan citra baru bagi museum dan situs budaya nasional.

Context.id | 17-05-2024

Cerita Petani Kopi Binaan Starbucks, Kualitas Makin Baik Untung Kian Tebal

Starbucks FSC berkomitmen membantu para petani lokal dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam

Ririn oktaviani | 17-05-2024